Jumat, 09 November 2012

Potret Di Sekitar Kita

Potret kehidupan orang-orang di sekitar kita sangat beragam. Berikut akan coba saya tampilkan beberapa di antaranya :

1, Tak Kenal Lelah



Biarpun sudah sepuh, simbah ini tetap teguh dalam menekuni profesinya. Tersirat sebersit rasa lelah di wajahnya, tetapi tetap diliputi semangat yang menyala bahwa roda kehidupan terus berputar, dan harus dijalani dengan ikhlas. Salut!

2. Mengayuh Rejeki



Di salah satu sudut Alun-Alun, terlihat seorang Bapak dengan semangat mengayuh sebuah sepeda jengki, yang di boncengannya memuat tas serta peti yang entah saya pun tak mengetahui apa isinya. Bapak ini terlihat bergegas dalam mengayuh pedal sepeda jengki tuanya, mengkin sedang berlomba dengan waktu agar bisa segera sampai di rumah, bertemu dengan keluarga tercinta yang sedang menunggunya di rumah. Tetap semangat mengayuh rejeki, Bapak!

3. Ngaso


Biarpun rasa lelah sudah menggelayuti sekujur badan, tetapi tak menghalangi Bapak penarik becak ini untuk tersenyum. Ngaso, setelah lelah seharian menarik becak, di sore itu Si Bapak sedang melepas lelahnya sembari menunggu kalau-kalau ada penumpang yang membutuhkan jasa pengantaran kendaraan roda tiga miliknya. Monggo dipun sekecakaken anggenipun ngaso, Pak... :-) 


Selasa, 27 September 2011

Sepeda

SEPEDA - satu kata yg benar-benar sedang booming saat ini, mulai dari anak-anak, ababil (abg labil), pedagang, petani, pekerja pabrik pun kantoran, sampai mereka yg sudah purna tugas pun menggemarinya. Ya, sepeda memang telah berhasil menemukan kembali tempatnya di hati masyarakat Indonesia setelah sempat dilupakan beberapa waktu.

Funbike, sepeda sehat, sepeda santai, sepeda gembira, gowes bareng, atau istilah lain yg sejenis begitu akrab di telinga kita saat ini. Masyarakat sepertinya sudah mulai memiliki kesadaran akan pentingnya berolahraga yg salah satunya bisa dilakukan dengan bersepeda. Bersepeda atau yg lazim disebut dengan gowes selain bisa menjadi sarana olahraga, juga bisa menjadi sarana rekreasi, pun ajang bersosialisasi. Banyak yg tadinya sama sekali tidak saling mengenal, menjadi begitu akrab setelah gowes bareng.

Bike community atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan komunitas sepeda bermunculan di mana-mana. Mulai dari komunitas yg mengkhususkan diri pada jenis sepeda tertentu (semisal folding bike, fixed gear, pit jowo dan sebagainya) hingga komunitas yg berbasis pada domain tempat tinggal (kampung, desa, kecamatan, bahkan kota), serta komunitas yg dibentuk oleh mereka yg memiliki sekolah/kampus ataupun tempat kerja (kantor) yg sama. Komunitas sepeda begitu menjamur belakangan ini, tak terkecuali di Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Beberapa komunitas sepeda yg ada di sini antara lain KOSKAS (salam gowes gan), PORY (yg kental dg pit jowo nya), SPSS, dan masih banyak lagi tentunya.

Nah, sayapun juga tak bisa lepas dari virus sepeda ini. Yg awalnya jatuh hati pada mountain bike (MTB), tapi kemudian berpaling ke fixed gear atau yg dikenal dengan fixie. Perselingkuhan saya ini terjadi karena terprovokasi teman (beda) kantor se-angkatan yg sudah terlebih dulu memiliki fixie, sebut saja dia bung Jimmy. Awalnya saya juga tidak begitu terpengaruh oleh rayuan fixie ini, akan tetapi semakin hari saya lihat perkembangan trend sepeda fixie semakin tinggi (khususnya di luar Yogyakarta) pada saat itu, memaksa saya untuk memberi perhatian lebih kepadanya. Sementara untuk di yogyakarta sendiri, pada saat itu (awal tahun 2011), sepeda fixie masih jarang sekali beredar di jalanan (sepengetahuan saya).

Karena hati saya sudah terlanjur dicuri oleh si sexy ini, saya pun rajin mencari informasi tentang jenis sepeda "maju kena mundur kena" ini baik di website maupun tanya kanan kiri (terutama kepada si provokator tadi). Dan seperti mendapatkan NOS, ternyata ada teman dari kantor sebelah (yg juga temannya bung Jimmy) juga sedang kesengsem sama yg namanya fixie ini, sebut saja beliau kang Bendot. Akhirnya, kami pun mengumpulkan berbagai data dan informasi dari berbagai data source tentang toko/bengkel yg menjual ataupun merakit fixie di kota gudheg ini. Perlu kawan-kawan ketahui bahwa sepeda fixie adalah sepeda dengan gir mati (fixed gear), di mana pedal bisa dikayuh ke depan maupun ke belakang, makanya di depan tadi saya istilahkan dengan "sepeda maju kena mundur kena". Dan saat itu, belum ada pabrik sepeda yg memproduksi sepeda jenis ini, kalaupun ada itu baru terbatas pada merek luar negeri yg tentunya memiliki harga selangit. Mereka yg memiliki fixie memperolehnya dengan membangun sendiri sepedanya, bisa dengan merakit sendiri ataupun mengorderkan ke bengkel/toko sepeda untuk merakit sepeda mereka.

Dan petualangan kami (saya dan kang Bendot) dalam membangun fixie pun dimulai dengan survey spare part ke toko sepeda yg direkomendasikan oleh bung Jimmy, yaitu di toko sepeda yg berlokasi di seputaran Jogjatronik (salah satu pusat elektronika di Yogyakarta). Oke, hari pertama survey kami gunakan hanya untuk sekedar bertanya soal spare part fixie, yg ternyata harganya lumayan agak wah untuk ukuran kantong kami. Satu hal lagi yg menjadi catatan kami, bahwa di toko tersebut ternyata spare part nya pun tidak lengkap, sehingga kami musti berkeliling ke beberapa toko sepeda lainnya, mungkin ada sekitar 7 toko sepeda yg sudah kami datangi.

Sehari setelahnya, kami pun mulai menyusun daftar spare part apa saja yg diperlukan berikut rincian budget yg menjadi konsekuensi tak terpisahkan darinya (ujung-ujungnya duit). Dan kami pun saat itu sudah memegang blue print rancang bangun desain fixie yg kami inginkan & budget plan yg diperlukan, dengan kalkulasi awal sebesar 1,7 juta rupiah (gaji sebulan masih nombok tuh).

Kemudian, di akhir pekan minggu yg sama, kami pun mulai mengerjakan proyek impian tersebut (lebay dikit boleh lah). Di perburuan awal tersebut kami berhasil mendapatkan rangka atau biasa disebut frame berbahan besi yg mana saya memilih warna hitam, sedangkan kawan saya memilih warna orange khas PT Pos Indonesia (Persero). Selain frame, kami juga berhasil menebus BB (bottom bracket), headstem, pedal.

Perburuan selanjutnya, kami berputar-putar ke beberapa toko sepeda dan akhirnya berhasil mendapatkan stang, adaptor stem, seatpost dan sadel. Berlanjut ke hari berikutnya, kami kesulitan memperoleh rim atau velg berukuran lebar 4-5 cm, dan setelah berputar-putar kota jogja selama beberapa hari, akhirnya kami berhasil mendapatkannya di toko sepeda yg berlokasi di wirobrajan. Kemudian kami lanjutkan dengan mencari jari-jari, hub, rantai, ban dalam dan ban luar. Setelah hunting selama kurang lebih satu minggu, akhirnya spare part yg diperlukan untuk membangun sepeda fixie pun sudah komplit.

Sehari sesudahnya, seluruh kepingan puzzle dari proyek sepeda kami itupun kami angkut ke bengkel sepeda  rekomendasi teman kang Bendot, tidak jauh dari kontrakan kang Bendot. Oh iya, tadi saya lupa menceritakan bahwa selama tahap perburuan spare part, rumah kontrakan kang Bendot lah yg dijadikan gudang penyimpanan sementara. Oke, lanjut ke proses perbengkelan, dibutuhkan waktu sehari untuk bisa menjadikan sepeda kami bisa menggelinding di jalanan. Waktu yg agak lama terutama dihabiskan untuk memasang dan menyetel velg  & jari-jari, yg memang pengerjaannya harus dilakukan dengan cermat dan membutuhkan keterampilan khusus.

Hari yg dinantikan pun datang juga, selepas jam pulang kantor kami pun segera meluncur ke bengkel sepeda tempat kami mengorder proyek impian. Sesampainya di sana, ternyata pengerjaan proyek belum selesai. Kami maklumi karena bapak teknisi sepeda ini musti mengerjakan 2 sepeda dari kami dalam waktu yg bersamaan, di samping menyelesaikan orderan yg datang sebelum kami. Tak berselang lama sejak kami tiba di bengkel, sekitar sejam berikutnya, sepeda fixie milik saya pun sudah selesai, perfect!! 


Sembari menunggu pengerjaan sepeda satunya diselesaikan, saya pun mencoba mengayuh sepeda fixed gear warna hitam di sekitar bengkel. Satu hal yg saya rasakan saat mencoba menaiki sepeda fixie ini adalah canggung, karena saya belum terbiasa dengan sepeda model gir mati ini. Sekitar setengah jam berselang, sepeda milik kang Bendot pun telah selesai pengerjaannya. Akhirnya proyek sepeda impian kami pun telah berhasil diselesaikan setelah memakan waktu sekian lama dalam pembangunannya.

Iseng-iseng kami beri julukan pada sepeda baru kami, untuk sepeda kang Bendot yg berwarna orange itu, kami menyebutnya Mr. Postman, kring kring... Dan untuk sepeda saya yg dominan warna hitam, kami menyebutnya The Blackpit, haha... Keduanya siap untuk digowes keliling kota yogyakarta berhati nyaman :)




The Blackpit


*backsound lagu SEPEDA dari RAN


we gotta wake up wake up early in the morning
before the traffic traffic traffic jam is on

we gotta wake up wake up early in the morning
before the traffic traffic traffic jam is on

we gotta wake up wake up early in the morning
before the traffic traffic traffic jam is on

we gotta wake up wake up early in the morning
before the traffic traffic traffic jam is on



uw uw asyiknya bila bersepeda
uw uw berkeliling kota jakarta

uw uw ku kayuh dengan suka cita
uw uw ku rasakan indah dunia

bila ku pergi bersepeda
bersama dengan gembira
senangnya hatiku saat bersepeda

Sabtu, 17 September 2011

Tangkapan Lensa

Simpel saja, kali ini akan saya biarkan gambar-gambar hasil jepretan saya beberapa waktu yang lalu untuk bercerita... Gambar ini diambil dalam perjalanan (benar-benar jalan kaki) dari Malioboro menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta dalam rangka Open House Sri Sultan HB X dan Sri Paduka Paku Alam pada tanggal 05 September 2011..


1. Simbah Kusir Andong


2. Lautan Manusia di Nol Kilometer Jogja


3. Salah seorang warga masyarakat sedang mengibarkan Bendera Pro Penetapan mendukung keistimewaan DIY




4. Suasana di dalam Pagelaran Keraton (Antusiasme warga masyarakat yang begitu tinggi untuk 'sungkem' dengan Ngarsa Dalem)



5. Suasana di luar Pagelaran Keraton Yogyakarta

Selasa, 17 Mei 2011

Perokok Itu Tidak Keren

Siapa bilang orang yang merokok itu keren? Rokok tidaklah sekeren iklan atau saat Anda memegangnya dengan dua buah jari. Bahaya rokok bahkan bisa merusak penampilan dan membuat Anda menjadi tidak keren.

Bahaya rokok yang merusak jantung, paru, otak sudah banyak diketahui orang. Tapi efek merokok juga bikin buruk rupa alias penampilan yang tidak keren.

Berikut beberapa alasan mengapa perokok itu tidak keren, seperti dilansir Health24, Kamis (12/5/2011):

1. Rokok bikin napas bau
Orang yang baru saja merokok baunya bisa ketahuan. Jangankan si perokok, berdiri atau berada di dekat orang yang merokok pun bisa membuat badan bau asap. Dan perokok umumnya memiliki bau napas yang tidak enak.

Bau yang susah hilang ini karena asap rokok terbuat dari rantai molekul yang panjang, sehingga butuh waktu yang lama atau sulit untuk dihilangkan terutama pada kain. Selain itu asap rokok yang dihasilkan umumnya mengandung banyak zat atau residu.

2. Rokok bikin cepat botak
Rokok tak hanya menyebabkan penyakit serius seperti jantung, paru-paru atau kanker, tetapi juga membuat rambut rontok yang berpotensi mempercepat kebotakan. Merokok telah ditemukan dapat meningkatkan kadar hormon yang bertanggung jawab untuk kerontokan rambut pada pria.

3. Rokok bikin gigi kuning
Nikotin dalam rokok bisa menodai gigi dan membuat warnanya terlihat tidak bersih. Bisa saja si perokok mempunyai gigi putih dengan pergi ke dokter gigi tapi tentu saja harus mengeluarkan biaya rutin yang tidak murah.

4. Rokok bikin cepat keriput
Merokok bisa mempercepat proses penuaan. Perokok terlihat 1,4 tahun lebih tua daripada yang bukan perokok.

5. Rokok bikin gigi gampang copot
Merokok membuat masalah besar terhadap gigi termasuk risiko kanker mulut dan penyakit gusi. Studi di Inggris tahun 2005 yang dimuat dalam Journal of Clinical Periodonti menyebutkan, perokok enam kali lebih besar mengalami penyakit gusi yang dapat menyebabkan hilangnya gigi.

6. Perokok dapat tempat duduk yang buruk di beberapa tempat
Ruangan merokok biasanya kecil, bau, mengerikan dan sering terselip di belakang meja dan di dekat toilet.

7. Rokok bikin impotensi
Merokok mengurangi aliran pembuluh darah perifer dan aliran darah yang diperlukan untuk mencapai ereksi, sehingga alirah darah bisa menjadi tersumbat dan membuat perokok mengalami impotensi atau disfungsi ereksi. Hal ini tampaknya menjadi harga yang sangat tinggi untuk membayar sebungkus rokok.




(sumber: health.detik.com)

Kamis, 24 Februari 2011

Gowes ke Kantor Picu Serangan Jantung?


Bersepeda adalah salah satu olahraga ringan dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Tak heran bila olahraga ini banyak dipilih dan menjadi salah satu favorit bagi semua kalangan.  
Bahkan di kota-kota besar seperti di Jakarta, bersepeda tak sekedar menjadi hobi tetap mulai menjadi tren alat transportasi menuju tempat kerja. Komunitas 'bike to work' terus berkembang dilatarbelakangi kepedulian untuk mengurangi tingkat polusi udara kota. Walaupun sayangnya, animo warga menggunakan sepeda belum ditindaklanjuti serius oleh pemerintah dengan menyediakan jalur khusus sepeda.
Nah bagi Anda yang rutin 'gowes' ke tempat kerja, ada baiknya juga mencermati hasil sebuah studi terbaru di Eropa. Penelitian para ahli dari Hasselt University di Belgia mengindikasikan, aktivitas bersepeda ke tempat kerja, khususnya di kota besar dengan beberapa ancaman selama perjalanan,  dapat meningkatkan risiko bagi kesehatan. 
Seperti dilaporkan jurnal kesehatan The Lancet online, bersepeda di tengah jalur lalu lintas yang padat dengan tingkat polusi yang tinggi dapat menjadi salah satu pemicu utama kasus serangan jantung. 
Dalam suatu pengukuran skala risiko setiap hari yang terbukti memicu serangan jantung, terjebak dalam lalu lintas padat (baik sebagai pengemudi, pengguna sepeda atau komuter) termasuk dalam daftar teratas faktor pemicu serangan, termasuk di antaranya stres dan paparan terhadap polusi.
Tetapi dari semua itu, pengguna sepeda memiliki risiko terbesar karena selain terpapar polusi berat, mereka juga melakukan aktivitas lain yang memicu serangan jantung, yakni berolahraga.
Studi oleh Hasselt University ini dilakukan dengan cara menganalisis 36 riset sebelumnya. Penelitian ini adalah yang pertama kali meneliti faktor risiko pemicu serangan selain penyakit yang dapat menyebabkan sakit jantung. Meski beberapa faktor ini tampak tumpang tindih, bersepeda ke tempat kerja tetap dimasukkan dalam peringkat, setelah memperhitungkan proporsi total kasus serangan jantung yang disebabkan beragam penyebab.
Menurut pimpinan riset  Dr Tim Nawrot, paparan terhadap lalu lintas dapat memicu risiko serangan jantung sebesar 7,4 persen, diikuti tekanan fisik saat berolahraga sebesar 6,2 persen. Polusi udara dapat memicu antara 5 hingga 7 persen serangan,sementara meminum alkohol atau kopi mencapai 5 persen.
Faktor risiko lainnya adalah emosi negatif (3.9 persen), marah (3.1 persen), makan berat (2.7 persen), emosi positif (2.4 persen)  dan aktivitas seks (2,2 persen).
Polusi udara juga menimbulkan risiko tambahan sebesar 5 persen, tetapi seiring dengan banyaknya warga yang terpapar asap knalpot kendaraan,  asap industri, kualitas udara menjadi ancaman yang lebih penting bagi populasi masyarakat.
Professor David Spiegelhalter, ahli risiko dari Universitas Cambridge, menilai sebenarnya sulit menguraikan faktor risiko dalam suatu peneltiian untuk suatu kondisi tertentu seperti bersepeda atau mengemudi dalam lalu lintas padat.
"Banyak faktor yang berkontribusi pada risiko secara keseluruhan; seperti polusi udara, stres, tekanan fisik, bahkan emosi yang sudah dikenal sebagai pemicu serangan jantung. Itu adalah gabungan yang kompleks," ujarnya.
Sedangkan Judy O’Sullivan, dari British Heart Foundation, berpendapat manfaat berolahraga di luar ruangan  bagi kebenyakan individu sebenarnya jauh melebihi risiko yang ditimbulkan polusi udara.  Ia tetap meminta warga untuk tidak mengurungkan niat berolahaga di dalam kota, seperti berjalan kaki atau  bersepeda.
Dr Tim Chico, konsultan penyakit jantung dari University of Sheffield, Inggris,  menekankan pengaturan gaya hidup jauh lebih penting untuk mencegah timbulnya serangan jantung. 
"Kami lebih tahu banyak tentang kenapa seseorang terkena serangan jantung (semisal akibat merokok, kolesterol dan obesitas), tetapi tidak sedikit tentang mengapa itu terjadi pada hari dan waktu tertentu. Dasar dari penyakit jantung timbul selama bertahun-tahun. Jika seseorang ingin menghindar dari serangan maka ia harus fokus untuk tetap berolahraga, tidak merokok, menjaga pola makan sehat dan berat badan ideal," paparnya.
(sumber: KOMPAS.com)

Selasa, 18 Januari 2011

Keindahan"mu"

Engkau..

Begitu elok
Mempesona
Keindahan”mu” tiada tara
Membuatku tak berdaya
Tak mampu berkata apa-apa



Setiap kali aku memandang”mu”
Mulut ini terkunci rapat
Hanya bisa diam seribu bahasa
Membisu
Mematung

Hanya bisa menghela napas
Berdecak kagum
Mengagumi keindahan yang ada pada”mu”



Kadang aku tak habis pikir
Kenapa otak dan simpul syaraf di sekujur tubuh ini mendadak tak berfungsi bila berada di dekat”mu”
Entahlah..
Mungkin ada semacam medan elektromagnetis atau semacamnya yang membuat aku tak berkutik
Luruh di hadapan”mu”



Tapi..
Itu semua tak penting
Karena dalam ketidakberdayaanku ini
Justru aku bisa menjadi pengagum”mu”
Menikmati keindahan”mu”



Dan semua itu tak akan bisa diwakili oleh kata apapun..


“Terpesona”?
Ah masih kurang tepat



“Tersihir”?
Bukan juga



“Takjub”?
Kelihatannya lebih dari sekedar takjub


Entahlah..



Biarkan diamku ini yang mewakili itu semua..


Sungguh,
Keindahan”mu” begitu sempurna!