SEPEDA - satu kata yg benar-benar sedang
booming saat ini, mulai dari anak-anak, ababil (abg labil), pedagang, petani, pekerja pabrik pun kantoran, sampai mereka yg sudah purna tugas pun menggemarinya. Ya, sepeda memang telah berhasil menemukan kembali tempatnya di hati masyarakat Indonesia setelah sempat dilupakan beberapa waktu.
Funbike, sepeda sehat, sepeda santai, sepeda gembira, gowes bareng, atau istilah lain yg sejenis begitu akrab di telinga kita saat ini. Masyarakat sepertinya sudah mulai memiliki kesadaran akan pentingnya berolahraga yg salah satunya bisa dilakukan dengan bersepeda. Bersepeda atau yg lazim disebut dengan
gowes selain bisa menjadi sarana olahraga, juga bisa menjadi sarana rekreasi, pun ajang bersosialisasi. Banyak yg tadinya sama sekali tidak saling mengenal, menjadi begitu akrab setelah gowes bareng.
Bike community atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan
komunitas sepeda bermunculan di mana-mana. Mulai dari komunitas yg mengkhususkan diri pada jenis sepeda tertentu (semisal
folding bike,
fixed gear, pit
jowo dan sebagainya) hingga komunitas yg berbasis pada domain tempat tinggal (kampung, desa, kecamatan, bahkan kota), serta komunitas yg dibentuk oleh mereka yg memiliki sekolah/kampus ataupun tempat kerja (kantor) yg sama. Komunitas sepeda begitu menjamur belakangan ini, tak terkecuali di Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Beberapa komunitas sepeda yg ada di sini antara lain KOSKAS (salam gowes gan), PORY (yg kental dg pit
jowo nya), SPSS, dan masih banyak lagi tentunya.
Nah, sayapun juga tak bisa lepas dari virus sepeda ini. Yg awalnya jatuh hati pada
mountain bike (MTB), tapi kemudian berpaling ke
fixed gear atau yg dikenal dengan
fixie. Perselingkuhan saya ini terjadi karena terprovokasi teman (beda) kantor se-angkatan yg sudah terlebih dulu memiliki
fixie, sebut saja dia bung Jimmy. Awalnya saya juga tidak begitu terpengaruh oleh rayuan
fixie ini, akan tetapi semakin hari saya lihat perkembangan
trend sepeda
fixie semakin tinggi (khususnya di luar Yogyakarta) pada saat itu, memaksa saya untuk memberi perhatian lebih kepadanya. Sementara untuk di yogyakarta sendiri, pada saat itu (awal tahun 2011), sepeda
fixie masih jarang sekali beredar di jalanan (sepengetahuan saya).
Karena hati saya sudah terlanjur dicuri oleh si
sexy ini, saya pun rajin mencari informasi tentang jenis sepeda "maju kena mundur kena" ini baik di
website maupun tanya kanan kiri (terutama kepada si provokator tadi). Dan seperti mendapatkan NOS, ternyata ada teman dari kantor sebelah (yg juga temannya bung Jimmy) juga sedang
kesengsem sama yg namanya
fixie ini, sebut saja beliau kang Bendot. Akhirnya, kami pun mengumpulkan berbagai data dan informasi dari berbagai
data source tentang toko/bengkel yg menjual ataupun merakit
fixie di kota gudheg ini. Perlu kawan-kawan ketahui bahwa sepeda
fixie adalah sepeda dengan gir mati (
fixed gear), di mana pedal bisa dikayuh ke depan maupun ke belakang, makanya di depan tadi saya istilahkan dengan "sepeda maju kena mundur kena". Dan saat itu, belum ada pabrik sepeda yg memproduksi sepeda jenis ini, kalaupun ada itu baru terbatas pada merek luar negeri yg tentunya memiliki harga selangit. Mereka yg memiliki
fixie memperolehnya dengan membangun sendiri sepedanya, bisa dengan merakit sendiri ataupun mengorderkan ke bengkel/toko sepeda untuk merakit sepeda mereka.
Dan petualangan kami (saya dan kang Bendot) dalam membangun
fixie pun dimulai dengan
survey spare part ke toko sepeda yg direkomendasikan oleh bung Jimmy, yaitu di toko sepeda yg berlokasi di seputaran Jogjatronik (salah satu pusat elektronika di Yogyakarta). Oke, hari pertama
survey kami gunakan hanya untuk sekedar bertanya soal
spare part fixie, yg ternyata harganya lumayan agak
wah untuk ukuran kantong kami. Satu hal lagi yg menjadi catatan kami, bahwa di toko tersebut ternyata
spare part nya pun tidak lengkap, sehingga kami musti berkeliling ke beberapa toko sepeda lainnya, mungkin ada sekitar 7 toko sepeda yg sudah kami datangi.
Sehari setelahnya, kami pun mulai menyusun daftar
spare part apa saja yg diperlukan berikut rincian
budget yg menjadi konsekuensi tak terpisahkan darinya (ujung-ujungnya duit). Dan kami pun saat itu sudah memegang
blue print rancang bangun desain
fixie yg kami inginkan &
budget plan yg diperlukan, dengan kalkulasi awal sebesar 1,7 juta rupiah (gaji sebulan masih nombok tuh).
Kemudian, di akhir pekan minggu yg sama, kami pun mulai mengerjakan proyek impian tersebut (
lebay dikit boleh lah). Di perburuan awal tersebut kami berhasil mendapatkan rangka atau biasa disebut
frame berbahan besi yg mana saya memilih warna hitam, sedangkan kawan saya memilih warna
orange khas PT Pos Indonesia (Persero). Selain
frame, kami juga berhasil menebus BB (
bottom bracket),
headstem, pedal.
Perburuan selanjutnya, kami berputar-putar ke beberapa toko sepeda dan akhirnya berhasil mendapatkan stang, adaptor stem,
seatpost dan sadel. Berlanjut ke hari berikutnya, kami kesulitan memperoleh
rim atau
velg berukuran lebar 4-5 cm, dan setelah berputar-putar kota jogja selama beberapa hari, akhirnya kami berhasil mendapatkannya di toko sepeda yg berlokasi di wirobrajan. Kemudian kami lanjutkan dengan mencari jari-jari,
hub, rantai, ban dalam dan ban luar. Setelah
hunting selama kurang lebih satu minggu, akhirnya
spare part yg diperlukan untuk membangun sepeda
fixie pun sudah komplit.
Sehari sesudahnya, seluruh kepingan
puzzle dari proyek sepeda kami itupun kami angkut ke bengkel sepeda rekomendasi teman kang Bendot, tidak jauh dari kontrakan kang Bendot. Oh iya, tadi saya lupa menceritakan bahwa selama tahap perburuan
spare part, rumah kontrakan kang Bendot lah yg dijadikan gudang penyimpanan sementara. Oke, lanjut ke proses perbengkelan, dibutuhkan waktu sehari untuk bisa menjadikan sepeda kami bisa menggelinding di jalanan. Waktu yg agak lama terutama dihabiskan untuk memasang dan menyetel
velg & jari-jari, yg memang pengerjaannya harus dilakukan dengan cermat dan membutuhkan keterampilan khusus.
Hari yg dinantikan pun datang juga, selepas jam pulang kantor kami pun segera meluncur ke bengkel sepeda tempat kami mengorder proyek impian. Sesampainya di sana, ternyata pengerjaan proyek belum selesai. Kami maklumi karena bapak teknisi sepeda ini musti mengerjakan 2 sepeda dari kami dalam waktu yg bersamaan, di samping menyelesaikan orderan yg datang sebelum kami. Tak berselang lama sejak kami tiba di bengkel, sekitar sejam berikutnya, sepeda
fixie milik saya pun sudah selesai,
perfect!!
Sembari menunggu pengerjaan sepeda satunya diselesaikan, saya pun mencoba mengayuh sepeda
fixed gear warna hitam di sekitar bengkel. Satu hal yg saya rasakan saat mencoba menaiki sepeda
fixie ini adalah canggung, karena saya belum terbiasa dengan sepeda model gir mati ini. Sekitar setengah jam berselang, sepeda milik kang Bendot pun telah selesai pengerjaannya. Akhirnya proyek sepeda impian kami pun telah berhasil diselesaikan setelah memakan waktu sekian lama dalam pembangunannya.
Iseng-iseng kami beri julukan pada sepeda baru kami, untuk sepeda kang Bendot yg berwarna
orange itu, kami menyebutnya Mr. Postman,
kring kring.
.. Dan untuk sepeda saya yg dominan warna hitam, kami menyebutnya The Blackpit,
haha... Keduanya siap untuk digowes keliling kota yogyakarta berhati nyaman :)
 |
| The Blackpit |
*backsound lagu SEPEDA dari RAN
we gotta wake up wake up early in the morning
before the traffic traffic traffic jam is on
we gotta wake up wake up early in the morning
before the traffic traffic traffic jam is on
we gotta wake up wake up early in the morning
before the traffic traffic traffic jam is on
we gotta wake up wake up early in the morning
before the traffic traffic traffic jam is on
uw uw asyiknya bila bersepeda
uw uw berkeliling kota jakarta
uw uw ku kayuh dengan suka cita
uw uw ku rasakan indah dunia
bila ku pergi bersepeda
bersama dengan gembira
senangnya hatiku saat bersepeda