2010 segera berlalu..
2011 datang menghampiri..
Happy new year!
Kata-kata yang lazim terdengar menjelang malam pergantian tahun. Yup, beberapa menit lagi kita akan segera meninggalkan tahun 2010, dan menginjak ke tahun baru, tahun 2011.
Tahun 2010 yang penuh dengan berbagai cerita, baik itu suka maupun duka, tawa maupun nestapa, senyum maupun tangis, telah mewarnai perjalanan sepanjang tahun 2010. Apapun pencapaian yang telah berhasil kita raih selama setahun ini, patut kita syukuri sepenuh hati, agar di tahun 2011 pencapaian itu akan semakin baik lagi. Sedangkan kegagalan yang kita alami di tahun 2010, hendaknya dapat kita jadikan sebagai bahan pelajaran agar ke depan kita dapat melewatinya dengan sebuah keberhasilan, amin..
Perjalanan selama 1 tahun telah membentuk karakter dan membawa kita pada posisi kita berdiri saat ini, entah itu lebih baik, sama, ataukah justru lebih buruk dibandingkan satu tahun yang lalu. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk melakukan introspeksi diri, jangan terlalu larut dalam euforia pesta pergantian tahun. Kita pikirkan apa penyebab kegagalan yang kita alami, untuk bekal menghadapi tantangan yang mungkin lebih berat di tahun depan. Kita harus membuat resolusi dan pencapaian apa saja yang ingin kita raih di tahun 2011. Tentunya kita semua berharap di tahun 2011, kita akan menjadi seseorang yang lebih baik dalam berbagai segi kehidupan. Amal ibadah semakin meningkat, sukses dalam karir, berhasil dalam menuntut ilmu bagi yang sedang belajar/kuliah, segera bertemu jodohnya bagi yang sedang mencari pendamping hidup, laris manis bagi mereka yang berdagang, dan masih banyak resolusi-resolusi yang pastinya berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Tetapi, semuanya bermuara pada satu hal, bahwa tahun 2011 ini harus bisa lebih baik dari tahun 2010, kita semua berharap demikian, amin..
SELAMAT TINGGAL TAHUN 2010, SELAMAT DATANG TAHUN 2011..
HAPPY NEW YEAR.....!!!
Jumat, 31 Desember 2010
Selasa, 28 Desember 2010
Bukan Misi Mustahil
Melanjutkan posting terdahulu (Euforia Yang Salah Kaprah)...
Dan ternyata apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi..
Eksploitasi dan pemberitaan yang berlebihan terhadap timnas benar-benar mengganggu persiapan timnas jelang laga final leg pertama di Bukit Jalil. Kita menjadi saksi bagaimana timnas kebanggaan kita semua menjadi bulan-bulanan Malaysia, kalah dengan skor 0-3. Terlepas dari ulah curang suporter Malaysia dengan teror laser hijaunya, tampak jelas kalau timnas tampil kurang determinasi, kurang ngotot, kurang greget dan kurang fight. Tapi itulah sepakbola, apapun bisa terjadi di dunia si kulit bundar.
Menang kalah adalah hal biasa. Kalah 0-3 bukan berarti peluang juara sudah tertutup. Ingat Bung, kita masih punya 2x45 menit di Gelora Bung Karno! Dengan dukungan dari 80.000 suporter Merah Putih dan gemuruh Garuda Di Dadaku yang membakar semangat juang, kita pasti bisa melakukan pembalasan (dalam arti positif) terhadap Malaysia.
Menang 4-0 bukanlah hal yang tak mungkin. Kita pernah membantai Malaysia dengan skor 5-1. Itu menjadi bukti timnas bisa melakukan apapun. Terlepas dari semakin padunya permainan Malaysia, kita harus optimis kalau kita bisa mengalahkan mereka. Kalau Malaysia bisa bangkit dari keterpurukan, mengapa kita tidak?
Kita pasti bisa, Indonesia pasti bisa!
Kita tidak perlu menirukan ulah curang suporter Malaysia dengan berbagai tindakan tidak terpujinya baik berupa teror laser maupun lemparan petasan ke tengah stadion. Kita tunjukkan bahwa kemenangan bisa diraih dengan cara-cara yang sportif, tanpa mencederai nilai-nilai fair play. Timnas kita masih punya semangat juang, saya yakin 100%. Apabila semangat juang itu dikombinasikan dengan dukungan puluhan ribu suporter Indonesia di Gelora Bung Karno dan tentunya doa dari seluruh bangsa Indonesia, saya yakin kita bisa meraih hasil yang optimal.
Kita tentunya masih ingat dengan laga final Liga Champions Eropa tahun 2005 di mana Liverpool sempat tertinggal 3 gol di babak pertama dari AC Milan, tapi mereka berhasil keluar dari tekanan dan menyamakan skor menjadi 3-3 sebelum akhirnya memenangkan pertandingan melalui drama adu penalti. Semoga perjuangan Steven Gerrard tersebut dapat memberikan inspirasi bagi para punggawa timnas. Bahwa melalui perjuangan tak kenal lelah, apapun bisa dilakukan, meskipun itu sesuatu yang berat. Kita tunggu siapa pemain timnas yang akan menjadi Steven Gerrard di laga final esok, apakah dia Cristian Gonzales, Firman Utina, Irfan Bachdim ataukah Bambang Pamungkas? Siapapun dia, yang pasti kita harus terus memberikan dukungan penuh kepada perjuangan timnas. Tak usah kita pedulikan bagaimana bobroknya PSSI. Kita mendukung timnas Indonesia, bukan PSSI!
Semoga de ja vu final liga Champions antara Liverpool kontra AC Milan bisa terjadi esok, 29 Desember 2010 malam, saat Firman Utina bisa mengangkat trofi Piala AFF untuk pertama kalinya bagi seluruh rakyat Indonesia, amin..
Selamat berjuang Firman Utina, Cristian Gonzales, Bepe, Irfan, Arif Suyono dkk!
Menang 4-0 bukan misi yang mustahil!
Kami selalu mendukung perjuangan kalian..
Apapun hasil yang dicapai, kami tetap bangga atas perjuangan yang telah kalian lakukan..
Garuda di Dadaku, selamanya...!
Merdeka!!
Dan ternyata apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi..
Eksploitasi dan pemberitaan yang berlebihan terhadap timnas benar-benar mengganggu persiapan timnas jelang laga final leg pertama di Bukit Jalil. Kita menjadi saksi bagaimana timnas kebanggaan kita semua menjadi bulan-bulanan Malaysia, kalah dengan skor 0-3. Terlepas dari ulah curang suporter Malaysia dengan teror laser hijaunya, tampak jelas kalau timnas tampil kurang determinasi, kurang ngotot, kurang greget dan kurang fight. Tapi itulah sepakbola, apapun bisa terjadi di dunia si kulit bundar.
Menang kalah adalah hal biasa. Kalah 0-3 bukan berarti peluang juara sudah tertutup. Ingat Bung, kita masih punya 2x45 menit di Gelora Bung Karno! Dengan dukungan dari 80.000 suporter Merah Putih dan gemuruh Garuda Di Dadaku yang membakar semangat juang, kita pasti bisa melakukan pembalasan (dalam arti positif) terhadap Malaysia.
Menang 4-0 bukanlah hal yang tak mungkin. Kita pernah membantai Malaysia dengan skor 5-1. Itu menjadi bukti timnas bisa melakukan apapun. Terlepas dari semakin padunya permainan Malaysia, kita harus optimis kalau kita bisa mengalahkan mereka. Kalau Malaysia bisa bangkit dari keterpurukan, mengapa kita tidak?Kita pasti bisa, Indonesia pasti bisa!
Kita tidak perlu menirukan ulah curang suporter Malaysia dengan berbagai tindakan tidak terpujinya baik berupa teror laser maupun lemparan petasan ke tengah stadion. Kita tunjukkan bahwa kemenangan bisa diraih dengan cara-cara yang sportif, tanpa mencederai nilai-nilai fair play. Timnas kita masih punya semangat juang, saya yakin 100%. Apabila semangat juang itu dikombinasikan dengan dukungan puluhan ribu suporter Indonesia di Gelora Bung Karno dan tentunya doa dari seluruh bangsa Indonesia, saya yakin kita bisa meraih hasil yang optimal.
Kita tentunya masih ingat dengan laga final Liga Champions Eropa tahun 2005 di mana Liverpool sempat tertinggal 3 gol di babak pertama dari AC Milan, tapi mereka berhasil keluar dari tekanan dan menyamakan skor menjadi 3-3 sebelum akhirnya memenangkan pertandingan melalui drama adu penalti. Semoga perjuangan Steven Gerrard tersebut dapat memberikan inspirasi bagi para punggawa timnas. Bahwa melalui perjuangan tak kenal lelah, apapun bisa dilakukan, meskipun itu sesuatu yang berat. Kita tunggu siapa pemain timnas yang akan menjadi Steven Gerrard di laga final esok, apakah dia Cristian Gonzales, Firman Utina, Irfan Bachdim ataukah Bambang Pamungkas? Siapapun dia, yang pasti kita harus terus memberikan dukungan penuh kepada perjuangan timnas. Tak usah kita pedulikan bagaimana bobroknya PSSI. Kita mendukung timnas Indonesia, bukan PSSI!
Semoga de ja vu final liga Champions antara Liverpool kontra AC Milan bisa terjadi esok, 29 Desember 2010 malam, saat Firman Utina bisa mengangkat trofi Piala AFF untuk pertama kalinya bagi seluruh rakyat Indonesia, amin..
Selamat berjuang Firman Utina, Cristian Gonzales, Bepe, Irfan, Arif Suyono dkk!
Menang 4-0 bukan misi yang mustahil!
Kami selalu mendukung perjuangan kalian..
Apapun hasil yang dicapai, kami tetap bangga atas perjuangan yang telah kalian lakukan..
Garuda di Dadaku, selamanya...!
Merdeka!!
Jumat, 24 Desember 2010
Euforia Yang Salah Kaprah
Bahwa timnas Indonesia lolos ke final Piala AFF 2010, kita semua bahagia..
Bahwa timnas Indonesia mampu menyuguhkan permainan cantik, kita pun bahagia..
Bahwa seluruh rakyat Indonesia kembali mencintai Timnas-nya, kita pastilah sangat bahagia..
Akan tetapi, kebahagiaan tersebut haruslah dikelola dengan bijak dan sesuai tempatnya. Jangan berubah menjadi euforia yang berlebihan dan terkesan lebay. Inilah yang kita saksikan beberapa hari belakangan ini. Di saat timnas butuh waktu latihan dan konsentrasi penuh dalam rangka persiapan bertanding melawan Malaysia dalam tajuk Final Piala AFF 2010 leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, mereka justru disibukkan, lebih tepatnya dipaksakan untuk sibuk dengan berbagai urusan di luar lapangan. Yang paling gres tentunya adalah seluruh punggawa timnas diboyong untuk menghadiri Istighosah Timnas di pesantren Assidiqiyah, Jakarta Barat. Maksudnya memang baik, akan tetapi hal seperti ini justru mengganggu agenda yang sudah disusun timnas dalam rangka persiapan pertandingan final. Kemarin sore, para punggawa timnas seharusnya melakukan program rileksasi seperti berenang, jacuzzi dan sesi gym, agar mereka bisa rileks saat bertandang ke Malaysia pada tanggal 26 Desember, Minggu esok. Dan yang lebih parah lagi, acara istighosah tersebut baru diberitahukan siang hari kemarin, sehingga timnas terpaksa merubah jadwalnya secara mendadak. Bukankah hal seperti ini justru tidak membantu timnas? Ini memperlihatkan ketidakprofesionalan pengurus PSSI, yang justru lebih memprioritaskan agenda di luar lapangan daripada persiapan timnas itu sendiri.
Bukti lainnya adalah saat timnas dibawa oleh PSSI untuk menghadiri jamuan makan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, beberapa hari yang lalu. Ini menunjukkan bahwa timnas saat ini mulai disusupi oleh kepentingan politis. Okelah kita semua maklum kalau Nurdin Halid yang ketuanya PSSI itu adalah pengagum berat dari Aburizal Bakrie, tapi bukan berarti dia harus memaksakan hal tersebut kepada skuad timnas dengan memboyong mereka semua untuk bertatap muka dan sowan ke kediaman Aburizal Bakrie. Kasihan timnas jika harus disibukkan dengan agenda lain di luar lapangan, di saat mereka butuh konsentrasi penuh untuk menghadapi Malaysia di final. Silakan baca artikel "Kasihan, Timnas Dibuat Sibuk oleh Urusan di Luar Lapangan" (link: http://www.detiksport.com/sepakbola).
Sebagai pendukung timnas Indonesia, kita semua seharusnya membantu para punggawa timnas dengan memberikan ketenangan dan membiarkan mereka berkonsentrasi penuh menjelang laga final. Bukankah akan menjadi sebuah ironi jika timnas Indonesia gagal menjadi juara Piala AFF hanya karena terlalu disibukkan oleh berbagai agenda di luar lapangan. Alfred Riedl telah melakukan tugasnya semaksimal mungkin untuk mencapai target juara. Demi menjaga konsentrasi pemain timnas menjelang laga final, dia melarang anak asuhnya untuk menanggapi dan menjawab pertanyaan media. Para punggawa timnas hanya diperbolehkan melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama saja. Riedl telah berupaya sebisanya untuk memproteksi skuad timnas, tapi sepertinya PSSI berkehendak lain, di mana punggawa timnas malah diajak ke sana kemari layaknya penyanyi yang sedang promo album barunya. Wahai pengurus PSSI, bijaksanalah untuk sejenak saja sampai timnas menyelesaikan pertandingan final, biarkan mereka fokus bertanding! Setelah trofi juara berada di lemari timnas, barulah kita boleh melakukan selebrasi kemenangan dan mengelu-elukan timnas, tapi tentu saja tetap dalam batas kewajaran.
Untuk Firman Utina dan kawan-kawan, saya dan (tentunya) seluruh pendukung Timnas Indonesia, mengucapkan selamat berjuang dalam pertandingan final leg pertama Piala AFF 2010 melawan Malaysia di stadion Bukit Jalil..
Lakukan yang terbaik, bawa pulang kemenangan untuk seluruh pendukungmu di tanah air..
Kami semua selalu mendukungmu..
Terbanglah tinggi Garudaku, kepakkan kedua sayapmu sekuat tenaga!
(coretan dari salah seorang pendukung Timnas Indonesia)
Bahwa timnas Indonesia mampu menyuguhkan permainan cantik, kita pun bahagia..
Bahwa seluruh rakyat Indonesia kembali mencintai Timnas-nya, kita pastilah sangat bahagia..
Akan tetapi, kebahagiaan tersebut haruslah dikelola dengan bijak dan sesuai tempatnya. Jangan berubah menjadi euforia yang berlebihan dan terkesan lebay. Inilah yang kita saksikan beberapa hari belakangan ini. Di saat timnas butuh waktu latihan dan konsentrasi penuh dalam rangka persiapan bertanding melawan Malaysia dalam tajuk Final Piala AFF 2010 leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, mereka justru disibukkan, lebih tepatnya dipaksakan untuk sibuk dengan berbagai urusan di luar lapangan. Yang paling gres tentunya adalah seluruh punggawa timnas diboyong untuk menghadiri Istighosah Timnas di pesantren Assidiqiyah, Jakarta Barat. Maksudnya memang baik, akan tetapi hal seperti ini justru mengganggu agenda yang sudah disusun timnas dalam rangka persiapan pertandingan final. Kemarin sore, para punggawa timnas seharusnya melakukan program rileksasi seperti berenang, jacuzzi dan sesi gym, agar mereka bisa rileks saat bertandang ke Malaysia pada tanggal 26 Desember, Minggu esok. Dan yang lebih parah lagi, acara istighosah tersebut baru diberitahukan siang hari kemarin, sehingga timnas terpaksa merubah jadwalnya secara mendadak. Bukankah hal seperti ini justru tidak membantu timnas? Ini memperlihatkan ketidakprofesionalan pengurus PSSI, yang justru lebih memprioritaskan agenda di luar lapangan daripada persiapan timnas itu sendiri.
Bukti lainnya adalah saat timnas dibawa oleh PSSI untuk menghadiri jamuan makan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, beberapa hari yang lalu. Ini menunjukkan bahwa timnas saat ini mulai disusupi oleh kepentingan politis. Okelah kita semua maklum kalau Nurdin Halid yang ketuanya PSSI itu adalah pengagum berat dari Aburizal Bakrie, tapi bukan berarti dia harus memaksakan hal tersebut kepada skuad timnas dengan memboyong mereka semua untuk bertatap muka dan sowan ke kediaman Aburizal Bakrie. Kasihan timnas jika harus disibukkan dengan agenda lain di luar lapangan, di saat mereka butuh konsentrasi penuh untuk menghadapi Malaysia di final. Silakan baca artikel "Kasihan, Timnas Dibuat Sibuk oleh Urusan di Luar Lapangan" (link: http://www.detiksport.com/sepakbola).
Sebagai pendukung timnas Indonesia, kita semua seharusnya membantu para punggawa timnas dengan memberikan ketenangan dan membiarkan mereka berkonsentrasi penuh menjelang laga final. Bukankah akan menjadi sebuah ironi jika timnas Indonesia gagal menjadi juara Piala AFF hanya karena terlalu disibukkan oleh berbagai agenda di luar lapangan. Alfred Riedl telah melakukan tugasnya semaksimal mungkin untuk mencapai target juara. Demi menjaga konsentrasi pemain timnas menjelang laga final, dia melarang anak asuhnya untuk menanggapi dan menjawab pertanyaan media. Para punggawa timnas hanya diperbolehkan melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama saja. Riedl telah berupaya sebisanya untuk memproteksi skuad timnas, tapi sepertinya PSSI berkehendak lain, di mana punggawa timnas malah diajak ke sana kemari layaknya penyanyi yang sedang promo album barunya. Wahai pengurus PSSI, bijaksanalah untuk sejenak saja sampai timnas menyelesaikan pertandingan final, biarkan mereka fokus bertanding! Setelah trofi juara berada di lemari timnas, barulah kita boleh melakukan selebrasi kemenangan dan mengelu-elukan timnas, tapi tentu saja tetap dalam batas kewajaran.
Untuk Firman Utina dan kawan-kawan, saya dan (tentunya) seluruh pendukung Timnas Indonesia, mengucapkan selamat berjuang dalam pertandingan final leg pertama Piala AFF 2010 melawan Malaysia di stadion Bukit Jalil..
Lakukan yang terbaik, bawa pulang kemenangan untuk seluruh pendukungmu di tanah air..
Kami semua selalu mendukungmu..
Terbanglah tinggi Garudaku, kepakkan kedua sayapmu sekuat tenaga!
(coretan dari salah seorang pendukung Timnas Indonesia)
Jumat, 17 Desember 2010
Garuda Di Dadaku
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang...
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang...
Ku yakin hari ini pasti menang...
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang...
Itulah sepenggal lirik lagu Garuda Di Dadaku yang dibawakan oleh grup band Netral, yang saat ini tengah menjadi soundtrack serta sedang digemari masyarakat di seantero nusantara, dari Sabang sampai Merauke, seiring dengan menggeliatnya prestasi Tim Nasional Sepakbola Indonesia di ajang AFF Cup 2010. Hingga tulisan ini saya buat, Tim Garuda sudah menapakkan separuh kakinya di final ajang sepakbola kawasan Asia Tenggara ini, karena dalam semifinal 1st leg kemarin (16 Desember 2010) Firman Utina dan kawan-kawan berhasil menakhlukkan Filipina dengan skor 1-0. Tiket final memang belum 100% aman, karena dengan selisih gol yang cuma 1 biji itu, Filipina bisa saja membuat kejutan di 2nd leg yang akan dihelat besok Minggu, 19 Desember 2010 di Gelora Bung Karno. Tapi, saya dan pastinya seluruh rakyat Indonesia yakin bahwa Tim Garuda akan mampu mengalahkan Filipina di 2nd leg nanti, dan melenggang mulus ke partai puncak AFF Cup 2010. Keyakinan ini tentunya didasarkan pada fakta bahwa permainan timnas di era Alfred Riedl jauh lebih menghibur dan lebih menjanjikan dibandingkan dengan era sebelumnya. Skema permainan 4-4-2 yang diterapkan oleh Riedl, dapat berjalan dengan relatif mulus dan diterjemahkan dengan baik oleh para pemain di lapangan, meskipun tentunya masih banyak catatan yang mesti dibenahi demi peningkatan prestasi timnas Indonesia.
Timnas Indonesia mampu memperagakan permainan cantik dari kaki ke kaki, dengan kesalahan-kesalahan passing yang jauh lebih minimal dibandingkan timnas era sebelumnya. Kombinasi pemain senior dan muka-muka baru berhasil dipoles dengan baik oleh pelatih Riedl menjadi sebuah tim yang cukup solid. Lihatlah bagaimana si anak baru Irfan Bachdim yang tampil memukau di turnamen resmi pertamanya bersama timnas Indonesia setelah dinaturalisasi menjadi WNI. Dia sontak menjadi idola baru para penggila sepakbola Indonesia. Bahkan magnet Irfan Bachdim bisa menyedot mereka yang semula tidak menyukai bola, mendadak berubah menjadi pendukung fanatik tim Merah Putih. Satu lagi pemain hasil naturalisasi yang tampil mengesankan adalah Christian "El Loco" Gonzales, yang hingga partai semifinal telah berhasil menjaringkan 3 gol di ajang AFF Cup 2010. Naluri membunuh striker asal Uruguay ini sungguh luar biasa, skill nya pun juga mumpuni. Selain 2 striker hasil naturalisasi ini, talenta lokal pun tak kalah hebatnya. Firman Utina berhasil menjelma menjadi jenderal lapangan tengah timnas Indonesia, dengan mobilitas yang tinggi, umpan-umpan akurat, serta visi permainan yang ciamik. Naluri mencetak gol kapten timnas pun juga tinggi, terbukti dari 2 gol yang telah berhasil dia buat. Jangan lupakan pula peran Ahmad Bustomi sebagai gelandang bertahan yang menjadi patner Firman Utina di lini tengah. Permainannya lugas dan tak kenal kompromi, memainkan peran sebagai penyeimbang permainan timnas.
Bambang Pamungkas! Striker yang akrab dipanggil Bepe ini belum habis. Dia menunjukkan bahwa dirinya layak disebut sebagai legenda hidup sepakbola Indonesia. Kapten timnas ini, meskipun sering hanya diturunkan sebagai pemain pengganti, tetap menampilkan permainan yang penuh determinasi dan pantang menyerah. Dua gol dari titik putih telah berhasil ditorehkannya di ajang AFF Cup 2010 saat mendepak Thailand 2-1. Bahkan, juniornya yang saat ini menjadi pilihan utama di lini depan timnas, Irfan Bachdim dalam tweep nya setelah pertandingan kontra Thailand menyatakan "There is only 1 MAN, 1 HERO and 1 LEGEND.. His name... BAMBANG PAMUNGKAS!!". Ini menunjukkan respek yang luar biasa tinggi kepada Bepe.
Di sektor sayap kanan, ada nama Muhammad Ridwan bercokol di sana. Permainannya cukup stabil, dan mampu menjalankan perannya dengan baik di sektor sayap. Sayap kiri, seorang anak muda berusia 20 tahun yang dipercaya mengenakan nomor keramat "10", pemain debutan timnas asal Papua, dialah Oktovianus Maniani yang kerap disapa Okto. Skill mumpuni, dribble yang lengket, dan kengototannya dalam bermain patut diacungi jempol. Hanya saja, terkadang dia masih kurang bijak dalam mengambil keputusan kapan harus membawa bola, kapan harus mengumpan, kapan harus melakukan shooting. Tetapi seiring dengan bertambahnya jam terbang, saya yakin dia bakal menjadi pemain sukses di masa depan. Masih ada satu nama lagi yang harus mendapat apresiasi atas penampilan impresifnya, dialah Arif Suyono. Pemain ini dapat bermain di sayap kanan maupun kiri. Sayatannya dari sayap harus diacungi jempol. Kerap dimainkan sebagai pemain pengganti, tapi justru sering langsung mencetak gol saat dimainkan, inilah pemain yang layak mendapat julukan supersub sejati.
Di barisan pertahanan, ada kuartet bek yang siap menjaga setiap jengkal pertahanan timnas. Di sektor kanan pertahanan ada seorang Zulkifli Syukur yang cukup tangguh dalam mengawal sisi kanan pertahanan dari serbuan musuh, tak jarang dia juga melakukan overlaping untuk membantu penyerangan. Sedangkan di sektor kiri pertahanan berdiri pemain bernama Muhammad Nasuha, yang memperlihatkan progress penampilan yang signifikan dari hari ke hari. Dia semakin matang dalam mengawal pertahanan, memiliki timing yang tepat kapan harus membantu pertahanan, dan kapan saatnya ikut menyerang. Crossing nya pun cukup akurat, tipikal bek sayap modern yang rajin melakukan overlaping. Di jantung pertahanan tim Merah Putih, berdiri dua sosok yang menjadi tembok rapat pertahanan, duet Maman Abdurrahman dan Hamka Hamzah sampai sejauh ini menampilkan permainan yang cukup solid, meskipun sesekali masih melakukan kesalahan yang bisa saja berakibat fatal. Dan sebagai penjaga terakhir garis pertahanan adalah Markus Horison, seorang kiper dengan postur ideal dan teknik yang bagus. Dialah penjaga gawang nomor satu Indonesia saat ini, kerap melakukan penyelamatan gemilang, tapi tak jarang melakukan blunder yang tak perlu. Tapi tak apalah, toh kiper sekelas Iker Casillas, Van der Saar, dan David Seaman pun juga pernah melakukan blunder. Semoga ke depannya permainan kiper plontos ini semakin sempurna dalam menjaga keperawanan gawang tim Merah Putih.
Perjalanan Timnas Indonesia di AFF Cup 2010
Langkah Tim Merah Putih diawali dengan menghadapi musuh bebuyutan kita, Malaysia. Kita telah menjadi saksi bagaimana Irfan Bachdim dan kawan-kawan berhasil mempecundangi Malaysia dengan skor telak 5-1 di partai pembuka grup A ini. Kemenangan telak kembali dibukukan timnas saat berhadapan dengan Laos di partai kedua grup A, 6-0! Tim asuhan Alfred Riedl berhasil membombardir gawang Laos 6 gol tanpa balas, yang memastikan Tim Garuda lolos ke semifinal dan menjadi pemuncak di klasemen grup A. Di partai terakhir yang sudah tidak menentukan, Timnas Indonesia tetap saja ngotot dan berhasil menendang Thailand keluar dari AFF Cup 2010, setelah berhasil mengalahkan tim Gajah Putih dengan skor 2-1. Partai terakhir ini sempat membuat pendukung timnas ketar-ketir, pasalnya Indonesia sempat dibuat tertinggal 1-0 di babak pertama, sebelum disamakan dan berbalik unggul menjadi 2-1 saat peluit panjang dibunyikan. Kemenangan 2-1 ini tak lepas dari perjuangan tanpa kenal lelah dari anak-anak Garuda dalam mengejar kemenangan, yang akhirnya berbuah pada terciptanya 2 gol melalui titik penalti. Kredit poin patut diberikan pada Bambang Pamungkas "Bepe 20" yang berhasil mengeksekusi 2 penalti dengan dingin, tentunya dibutuhkan mental baja untuk melakukan hal semacam itu. Salut Bepe!
Setelah memastikan lolos sebagai juara grup A, Indonesia harus melakoni partai semifinal kontra runner up grup B, tim penuh kejutan berkat pemain-pemain naturalisasinya, Filipina. Semifinal digelar dengan sistem home and away dengan memperhitungkan skor agregat. Leg pertama semifinal AFF Cup 2010 antara Indonesia vs Filipina seharusnya digelar di Filipina pada tanggal 16 Desember 2010. Akan tetapi karena Filipina tidak memiliki stadion yang memenuhi standar untuk melangsungkan pertandingan bertaraf internasional, maka diputuskan 1st leg semifinal AFF Cup Indonesia vs Filipina dihelat di Gelora Bung Karno, Indonesia. Hal ini tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi timnas Indonesia, karena meskipun berstatus sebagai tim tamu, kita tetap bermain di kandang kita sendiri. Dan terbukti, pada pertandingan kemarin malam, 16 Desember 2010 kick-off pukul 19.00 WIB, tim Garuda berhasil menjinakkan Filipina yang diperkuat 8 pemain naturalisasi dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang dicetak oleh Christian "El Loco" Gonzales memanfaatkan umpan Firman Utina serta blunder yang dilakukan oleh barisan pertahanan Filipina.
Kerikil Si Penggugat Garuda
Di tengah euforia kebangkitan tim nasional Indonesia, ada satu kerikil yang justru muncul dari orang Indonesia sendiri. Seorang lawyer bernama David Tobing tiba-tiba mengajukan gugatan yang kurang lebih menyatakan bahwa "Pemakaian lambang Garuda di kostum tim nasional Indonesia melanggar UU tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara".
Saya cuma bisa geleng-geleng kepala saat mengetahui hal ini. Kenapa justru di saat timnas sedang berprestasi dan mendapatkan kembali tempatnya di hati seluruh rakyat Indonesia, ada satu orang yang justru merusak momen kebangkitan sepakbola Indonesia ini. Saya tak habis pikir, apa yang dimaksud melanggar UU dalam kasus pemakaian logo Garuda di seragam timnas?! Bukankah timnas bermain dalam rangka melakukan tugas negara, berjuang mengharumkan nama Indonesia melalui jalur sepakbola. Segenap punggawa timnas Indonesia rela berjuang di atas lapangan, berpeluh keringat, kadang bersimbah darah akibat benturan dengan lawan, tapi kenapa justru respon seperti ini yang didapatkan dari tuan pengacara yang satu ini.
Pemakaian lambang garuda di kaos timnas sendiri sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Tetapi kenapa baru sekarang dipermasalahkan? Dan menurut kebanyakan khalayak, pemakaian logo Garuda di kostum timnas adalah sesuatu yang wajar bahkan wajib, mengingat mereka (timnas) bermain mewakili nama Indonesia. Jadi sudah seharusnya lambang negara mereka bawa. Mengenai kemungkinan logo Garuda di kostum timnas terkena debu, tanah, keringat bahkan darah saat dipakai bermain, itu adalah hal yang wajar. Toh debu dan tanah yang menempel, keringat yang membasahi, serta darah yang mungkin mengenai logo Garuda itu adalah semata-mata dalam rangka perjuangan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa dan negara. Jadi hal seperti itu tak usah dipermasalahkan, karena penjelasannya sudah teramat jelas, bahkan bagi orang awam sekalipun seperti saya!
Berikut adalah beberapa kalimat yang saya cuplik dari official website Bambang Pamungkas yang notabene adalah kapten timnas saat ini sebagai reaksi atas mencuatnya gugatan atas lambang Garuda di jersey timnas:
“Memang tidak semua pertempuran dapat kami menangkan, dan juga tidak setiap saat kami mampu memberikan kebanggaan bagi negara ini. Akan tetapi setidaknya, kami adalah anak-anak bangsa yg berjuang dengan tulus ihklas dan sepenuh hati untuk mengharumkan nama tanah tumpah darah yg kami cintai”
Oleh karena itu, secara pribadi maupun sebagai kapten tim merah-putih mewakili seluruh komponen di dalam tim ini, kami mohon “Jangan renggut lambang garuda itu dari kami”. Karena lambang garuda itu telah menjadi saksi dari penjalanan panjang kami, lambang garuda itu telah menemani kami dalam setiap pertempuran kami, dan burung garuda itu adalah sahabat kami yg paling setia baik dalam kepedihan, kebahagiaan, kekalahan maupun kemenangan…
Terlepas dari segala perdebatan dan kontroversi yg meyelimuti seragam yg kami kenakan, hal tersebut tidak akan pernah mengurangi semangat, kebanggan, komitmen serta dedikasi kami dalam berjuang atas nama Indonesia…
Karena pada kenyataannya, simbol burung garuda berwarna emas tersebut “Sudah menjadi bagian dari jiwa dan raga kami”
(sumber: http://bambangpamungkas20.com)
Dari tulisan Bambang Pamungkas tersebut, dapat kita simpulkan bahwa memakai kaos timnas berlogo garuda di dada kiri adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya bagi para pemain timnas. Bahwa simbol garuda telah menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari seluruh punggawa timnas. Bahwa simbol garuda itulah yang mampu melecut semangat bertanding punggawa timnas.
Jadi, saya hanya ingin mengulangi dan menggarisbawahi apa yang ditulis Bepe:
"Jangan renggut lambang garuda itu dari kami"
Terbanglah Garuda, jayalah Indonesiaku!
Kamis, 09 Desember 2010
Mimpi, Cita-cita dan Keinginan
Setiap orang,
siapapun dia,
seperti apapun keterbatasannya,
berhak memiliki cita-cita,
berhak mengurai mimpi-mimpinya…
Manusia,
berhak mempunyai keinginan…
Dan barangsiapa dapat memupuknya,
keinginan itu akan tumbuh, tumbuh, dan tumbuh,
berkembang seiring berjalannya waktu,
dan menjadi semakin kuat…
Keinginan yang kuat,
dapat membangkitkan kemampuan yang luar biasa,
dapat mendatangkan keajaiban yang tak pernah terbayangkan…
Keinginan yg kuat,
dapat menuntun manusia ke arah yang tak diduga-duga sebelumnya…
Keinginan yang kuat,
dapat membawa manusia mendaki gunung tertinggi,
menerobos hutan belantara,
menembus goa yang gelap,
menyeberangi gurun sahara yang gersang,
mengarungi lautan yang ganas,
bahkan mampu menembus lapisan atmosfer dan mengantarkan manusia menjejakkan kaki di bulan…
Dan tentu saja,
keinginan yang kuat itu,
dapat pula mengantarkan manusia untuk meraih cita-cita,
menggapai mimpi-mimpinya…
Maka,
jangan sekali-kali meremehkan cita-cita, mimpi & keinginan seorang anak manusia,
bagaimanapun terbatasnya dia,
karena tak ada yg tak mungkin di dunia ini…
Tuhan akan menggenggam mimpi-mimpi itu,
kemudian mewujudkannya dengan cara yang tiada terduga sebelumnya...
Teruslah bermimpi, kejarlah tanpa kenal lelah, sampai kapanpun, di manapun...
*recycled from my old blog
siapapun dia,
seperti apapun keterbatasannya,
berhak memiliki cita-cita,
berhak mengurai mimpi-mimpinya…
Manusia,
berhak mempunyai keinginan…
Dan barangsiapa dapat memupuknya,
keinginan itu akan tumbuh, tumbuh, dan tumbuh,
berkembang seiring berjalannya waktu,
dan menjadi semakin kuat…
Keinginan yang kuat,
dapat membangkitkan kemampuan yang luar biasa,
dapat mendatangkan keajaiban yang tak pernah terbayangkan…
Keinginan yg kuat,
dapat menuntun manusia ke arah yang tak diduga-duga sebelumnya…
Keinginan yang kuat,
dapat membawa manusia mendaki gunung tertinggi,
menerobos hutan belantara,
menembus goa yang gelap,
menyeberangi gurun sahara yang gersang,
mengarungi lautan yang ganas,
bahkan mampu menembus lapisan atmosfer dan mengantarkan manusia menjejakkan kaki di bulan…
Dan tentu saja,
keinginan yang kuat itu,
dapat pula mengantarkan manusia untuk meraih cita-cita,
menggapai mimpi-mimpinya…
Maka,
jangan sekali-kali meremehkan cita-cita, mimpi & keinginan seorang anak manusia,
bagaimanapun terbatasnya dia,
karena tak ada yg tak mungkin di dunia ini…
Tuhan akan menggenggam mimpi-mimpi itu,
kemudian mewujudkannya dengan cara yang tiada terduga sebelumnya...
Teruslah bermimpi, kejarlah tanpa kenal lelah, sampai kapanpun, di manapun...
*recycled from my old blog
Rabu, 01 Desember 2010
Sandhy Sondoro, Padang Bulan dan Tifus
Pasti Anda bertanya-tanya saat membaca judul postingan ini. Sebab secara kasat mata jelas sekali bahwa di antara ketiganya nyaris tak berhubungan sama sekali satu sama lain. Tapi, akan saya jlentrehkan dalam tulisan (yang mungkin tak karuan) berikut ini.
Sekarang, saat menulis postingan ini, kalender yang menempel di dinding kamar saya yang sudah kusam menunjukkan tanggal 1 Desember 2010. Yupz, tanggal 1 dab! Hari di mana kebanyakan orang bersuka cita karena hari ini adalah hari gajian sedunia! Tapi bukan itu poin utamanya, melainkan karena ini adalah hari ke 1, 2, 3,.... oh hari ke-6 tepatnya, saya harus terkapar di atas tempat tidur seharian, istilah kerennya bedrest (kedengarannya enak bisa tidur terus-terusan, tapi walah, bosennya luwaaarrr biasa...). Begitulah, beberapa hari ini saya musti istirahat total dikarenakan terkena demam tifoid atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah tifus, yaitu penyakit infeksi yang masuk melalui saluran cerna kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui darah (infeksi sistemik). Tifus disebabkan oleh bakteri yang disebut Salmonella serovarian typhi dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis bakteri Salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu Salmonella serovarian typhi, paratyphi A, paratyphi B, dan paratyphi C. Tapi sudahlah, tidak usah dibahas lebih lanjut, saya juga cuma mengutip informasi tentang tifus tersebut dari beberapa sumber di internet (karena saya bukan dokter!).
Yang jelas, dalam beberapa hari ini saya diharuskan istirahat total dan tidak boleh beraktivitas yang berlebihan, intinya adalah tidur seharian, makan teratur (dan tak melulu harus makan bubur seperti kebanyakan mitos orang bahwa kalau terkena tifus wajib hukumnya untuk makan bubur, ternyata tidak begitu adanya), dan tentu saja minum obat sesuai resep yang diberikan dokter.
Bisa ditebak dengan mudah bahwa dengan hanya melakukan aktivitas (kalau bisa dikategorikan sebagai aktivitas) yang berupa istirahat (tidur) seharian ini akan datang suatu kondisi yang diistilahkan dengan "kejenuhan tingkat tinggi". Yang biasanya beraktivitas mulai dari ngantor, main, wara-wiri ke sana kemari, tiba-tiba harus terkurung di dalam kamar berukuran 3x3 meter dan terbaring di atas kasur seharian. Tapi masih bersyukur, karena ternyata tidak perlu rawat inap di Rumah Sakit, cukup beristirahat di rumah saja. Nah, ternyata betul bahwa "di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya" (sok bijak mode on).
Di dalam situasi boring tingkat tinggi ini, untungnya ada beberapa hal yang bisa sedikit mengurangi rasa bosan tersebut. Iseng-iseng browsing di internet, tanpa sengaja nyasar di sebuah situs entertainmet yang mengulas informasi tentang launching album terbaru dari Sandhy Sondoro, seorang musisi Indonesia yang sukses menembus pasar internasional.
Hidup Sandhy Sondoro selama ini memang sangat kaya pengalaman dan penuh kejutan. Selama lima belas tahun tinggal di Berlin menuntut ilmu ia sempat menekuni berbagai macam profesi. Mulai dari room boy, room service, fast food industry hingga menjadi pengamen. Di pertengahan 2009 ia membuat geger Eropa saat terpilih menjadi juara satu di ajang International Contest of Young Pop Singers NEW WAVE 2009 di Latvia, Eropa Utara.
Di bulan April 2010 ia mendadak diundang khusus oleh hitsmaker dunia, Diane Warren untuk ikut bernyanyi bersama Tony Braxton, Jane Fonda, Gloria Estefan, Eric Benet, LeeAnn Rimes dan sebagainya dalam acara bertajuk 'Dianne Warren and Friends' di Hollywood Palladium, Los Angeles, Amerika Serikat. Semua orang yang hadir di venue legendaris tersebut memberikan standing ovation dan pujian tiada henti kepadanya. Sandhy mendapatkan tepuk tangan dari 1000 penonton saat selesai membawakan lagu 'Time, Love, and Tenderness' ciptaan Dianne Warren.
Awesome!
Dan benar saja, ketika saya mendengarkan lagu-lagu dalam Album Sandhy Sondoro ini, rasa kekaguman muncul seketika, benar-benar musik berkelas dunia. Maka, jadilah lantunan suara khas dari sang musisi Indonesia bertaraf internasional ini menjadi soundtrack dan sekaligus sebagai obat kejenuhan saya selama masa rehat.
Sekarang, saat menulis postingan ini, kalender yang menempel di dinding kamar saya yang sudah kusam menunjukkan tanggal 1 Desember 2010. Yupz, tanggal 1 dab! Hari di mana kebanyakan orang bersuka cita karena hari ini adalah hari gajian sedunia! Tapi bukan itu poin utamanya, melainkan karena ini adalah hari ke 1, 2, 3,.... oh hari ke-6 tepatnya, saya harus terkapar di atas tempat tidur seharian, istilah kerennya bedrest (kedengarannya enak bisa tidur terus-terusan, tapi walah, bosennya luwaaarrr biasa...). Begitulah, beberapa hari ini saya musti istirahat total dikarenakan terkena demam tifoid atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah tifus, yaitu penyakit infeksi yang masuk melalui saluran cerna kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui darah (infeksi sistemik). Tifus disebabkan oleh bakteri yang disebut Salmonella serovarian typhi dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis bakteri Salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu Salmonella serovarian typhi, paratyphi A, paratyphi B, dan paratyphi C. Tapi sudahlah, tidak usah dibahas lebih lanjut, saya juga cuma mengutip informasi tentang tifus tersebut dari beberapa sumber di internet (karena saya bukan dokter!).
Yang jelas, dalam beberapa hari ini saya diharuskan istirahat total dan tidak boleh beraktivitas yang berlebihan, intinya adalah tidur seharian, makan teratur (dan tak melulu harus makan bubur seperti kebanyakan mitos orang bahwa kalau terkena tifus wajib hukumnya untuk makan bubur, ternyata tidak begitu adanya), dan tentu saja minum obat sesuai resep yang diberikan dokter.
Bisa ditebak dengan mudah bahwa dengan hanya melakukan aktivitas (kalau bisa dikategorikan sebagai aktivitas) yang berupa istirahat (tidur) seharian ini akan datang suatu kondisi yang diistilahkan dengan "kejenuhan tingkat tinggi". Yang biasanya beraktivitas mulai dari ngantor, main, wara-wiri ke sana kemari, tiba-tiba harus terkurung di dalam kamar berukuran 3x3 meter dan terbaring di atas kasur seharian. Tapi masih bersyukur, karena ternyata tidak perlu rawat inap di Rumah Sakit, cukup beristirahat di rumah saja. Nah, ternyata betul bahwa "di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya" (sok bijak mode on).
Di dalam situasi boring tingkat tinggi ini, untungnya ada beberapa hal yang bisa sedikit mengurangi rasa bosan tersebut. Iseng-iseng browsing di internet, tanpa sengaja nyasar di sebuah situs entertainmet yang mengulas informasi tentang launching album terbaru dari Sandhy Sondoro, seorang musisi Indonesia yang sukses menembus pasar internasional.
Sandhy Sondoro (lahir di Jakarta, 12 Desember 1973) adalah seorang penyanyi, pencipta lagu dan pemain gitar asal Indonesia yang memulai karier musiknya di Jerman. Sandhy memulai karier musiknya sebagai musisi jalanan di kota Berlin, mengamen di Metro, dan bermain musik dari pub ke pub. Di jalanan Berlin ini pula ia mulai dikenal dan berkenalan dengan sejumlah musisi dan produser. Setelah mengeluarkan album bertitel Why don't We pada 25 April 2008, pada akhirnya karya musiknya mendapat apresiasi positif di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.
Untuk pertama kali sepanjang karirnya di industri musik internasional, penyanyi Sandhy Sondoro akhirnya merilis album penuh self titled, Sandhy Sondoro di bawah bendera Sony Music Entertainment Indonesia. Ini menjadi babak baru bersejarah bagi karir musik singer-songwriter multi-talenta yang sebelumnya hanya terkenal dengan hit fenomenal ”Malam Biru (Kasihku)” di Indonesia.
Album Sandhy Sondoro ini berisi empat belas lagu original yang diciptakan sendiri olehnya selama puluhan tahun tinggal di Berlin, Jerman. Masing-masing lagu di album ini memiliki pesona pop akustik tersendiri, entah itu di kedahsyatan vokal, permainan gitar hingga kedalaman lirik yang ditulis oleh Sandhy. Album Sandhy Sondoro ini merupakan re-release dari album aslinya bertitel Why Don’t We yang direkam dan rilis pertama kali di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya pada bulan April 2008. Dua lagu berbahasa Indonesia di album ini diproduseri Brandon Stone yang berkebangsaan Rusia sementara dua belas lagu lainnya yang berbahasa Inggris diproduseri oleh Guy Sternberg asal Jerman. Lagu-lagu yang ada di album ini sebenarnya telah ia ciptakan lebih dari satu dekade yang lalu. Misalnya lagu I Don’t Know Where dan That’s The Way ditulisnya di tahun 1998 sementara Down on the Street yang terinspirasi saat dirinya mengamen diciptakan sekitar tahun 2002. Sedangkan single pertama album ini “Bunga Mimpi” dan segera menjadi single kedua ”Salamanja” ditulisnya di tahun 2009.
Untuk pertama kali sepanjang karirnya di industri musik internasional, penyanyi Sandhy Sondoro akhirnya merilis album penuh self titled, Sandhy Sondoro di bawah bendera Sony Music Entertainment Indonesia. Ini menjadi babak baru bersejarah bagi karir musik singer-songwriter multi-talenta yang sebelumnya hanya terkenal dengan hit fenomenal ”Malam Biru (Kasihku)” di Indonesia.
Album Sandhy Sondoro ini berisi empat belas lagu original yang diciptakan sendiri olehnya selama puluhan tahun tinggal di Berlin, Jerman. Masing-masing lagu di album ini memiliki pesona pop akustik tersendiri, entah itu di kedahsyatan vokal, permainan gitar hingga kedalaman lirik yang ditulis oleh Sandhy. Album Sandhy Sondoro ini merupakan re-release dari album aslinya bertitel Why Don’t We yang direkam dan rilis pertama kali di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya pada bulan April 2008. Dua lagu berbahasa Indonesia di album ini diproduseri Brandon Stone yang berkebangsaan Rusia sementara dua belas lagu lainnya yang berbahasa Inggris diproduseri oleh Guy Sternberg asal Jerman. Lagu-lagu yang ada di album ini sebenarnya telah ia ciptakan lebih dari satu dekade yang lalu. Misalnya lagu I Don’t Know Where dan That’s The Way ditulisnya di tahun 1998 sementara Down on the Street yang terinspirasi saat dirinya mengamen diciptakan sekitar tahun 2002. Sedangkan single pertama album ini “Bunga Mimpi” dan segera menjadi single kedua ”Salamanja” ditulisnya di tahun 2009.
Hidup Sandhy Sondoro selama ini memang sangat kaya pengalaman dan penuh kejutan. Selama lima belas tahun tinggal di Berlin menuntut ilmu ia sempat menekuni berbagai macam profesi. Mulai dari room boy, room service, fast food industry hingga menjadi pengamen. Di pertengahan 2009 ia membuat geger Eropa saat terpilih menjadi juara satu di ajang International Contest of Young Pop Singers NEW WAVE 2009 di Latvia, Eropa Utara.
Di bulan April 2010 ia mendadak diundang khusus oleh hitsmaker dunia, Diane Warren untuk ikut bernyanyi bersama Tony Braxton, Jane Fonda, Gloria Estefan, Eric Benet, LeeAnn Rimes dan sebagainya dalam acara bertajuk 'Dianne Warren and Friends' di Hollywood Palladium, Los Angeles, Amerika Serikat. Semua orang yang hadir di venue legendaris tersebut memberikan standing ovation dan pujian tiada henti kepadanya. Sandhy mendapatkan tepuk tangan dari 1000 penonton saat selesai membawakan lagu 'Time, Love, and Tenderness' ciptaan Dianne Warren.
Awesome!
Dan benar saja, ketika saya mendengarkan lagu-lagu dalam Album Sandhy Sondoro ini, rasa kekaguman muncul seketika, benar-benar musik berkelas dunia. Maka, jadilah lantunan suara khas dari sang musisi Indonesia bertaraf internasional ini menjadi soundtrack dan sekaligus sebagai obat kejenuhan saya selama masa rehat.
Di tengah keasikan menikmati alunan musik khas Sandhy Sondoro, dan di kala badan sudah berasa pegal-pegal karena berbaring selama berjam-jam lamanya, saya iseng membuka almari dan menemukan sebuah benda yang selama ini terlupakan. Sebuah buku yang sudah saya beli sekitar 5 bulan yang lalu, yang hingga beberapa hari kemarin belum sempat saya baca sama sekali karena terlalu disibukkan oleh berbagai rutinitas pekerjaan. Sebuah buku dwilogi karya dari seorang penulis yang namanya melejit lewat karya fenomenal Tetralogi Laskar Pelangi. Yup, dialah Andrea Hirata, si novelis penghasil tulisan-tulisan berjudul Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Sebuah tetralogi yang begitu memberikan inspirasi bagi kita semua, dan berani keluar dari genre cinta romantis yang sedang menjadi trend saat itu. Kisah Laskar Pelangi ini juga sukses diangkat ke layar lebar melalui film yang bertajuk Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Bahkan, kabar terbaru menyebutkan bahwa ada salah satu produser dari Hollywood yang tertarik untuk membuat ulang film Laskar Pelangi yang dalam versi internasionalnya berjudul The Rainbow Troops ini.
Sebuah dwilogi terbaru karya Andrea Hirata ini berjudul "Padang Bulan" dan "Cinta Dalam Gelas". Dwilogi yang pertama adalah "Padang Bulan", dan saya sungguh merasakan penyesalan saat membaca novel ini! Penyesalan tersebut adalah kenapa saya baru membacanya sekarang?! Padahal jalan ceritanya tak kalah dengan kisah tetralogi Laskar Pelangi. Yah, meskipun itu baru kesimpulan awal saya, karena saya baru membaca sejumlah 18 mozaik (istilah Andrea untuk menyebut Bab) dari total 41 mozaik yang ada dalam dwilogi "Padang Bulan" ini. Tapi dari separuh kisah yang sudah baca tersebut, sungguh menceritakan sesuatu yang saya pikir tak kalah fenomenal dengan Laskar Pelangi. Sebuah kisah yang mengambil latar belakang di bidang pendidikan dan masih juga berlatarkan pulau Belitong (sebagaimana Tetralogi Laskar Pelangi), yang dikemas secara unik dan khas ala Andrea Hirata. Sebuah novel yang inspiratif dan penuh kejutan. Apalagi saat membacanya diiringi dengan kedahsyatan musik dari Sandhy Sondoro, mantap!
Mungkin sekian dulu posting kali ini, berhubung saya harus menaati anjuran dokter yang mengharuskan agar banyak beristirahat. Padahal baru mengetik beberapa paragraf saja, tetapi sudah mulai terasa begitu lelah (ngantuk tenan dab!). Setelah istirahat sejenak mungkin akan saya lanjutkan dengan membaca Mozaik 19 dari Dwilogi "Padang Bulan" - Tahu Apa John Lennon?
*kota gudheg, 1 Desember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)



