Rabu, 01 Desember 2010

Sandhy Sondoro, Padang Bulan dan Tifus

Pasti Anda bertanya-tanya saat membaca judul postingan ini. Sebab secara kasat mata jelas sekali bahwa di antara ketiganya nyaris tak berhubungan sama sekali satu sama lain. Tapi, akan saya jlentrehkan dalam tulisan (yang mungkin tak karuan) berikut ini.

Sekarang, saat menulis postingan ini, kalender yang menempel di dinding kamar saya yang sudah kusam menunjukkan tanggal 1 Desember 2010. Yupz, tanggal 1 dab! Hari di mana kebanyakan orang bersuka cita karena hari ini adalah hari gajian sedunia! Tapi bukan itu poin utamanya, melainkan karena ini adalah hari ke 1, 2, 3,.... oh hari ke-6 tepatnya, saya harus terkapar di atas tempat tidur seharian, istilah kerennya bedrest (kedengarannya enak bisa tidur terus-terusan, tapi walah, bosennya luwaaarrr biasa...). Begitulah, beberapa hari ini saya musti istirahat total dikarenakan terkena demam tifoid atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah tifus, yaitu penyakit infeksi yang masuk melalui saluran cerna kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui darah (infeksi sistemik). Tifus disebabkan oleh bakteri yang disebut Salmonella serovarian typhi dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis bakteri Salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu Salmonella serovarian typhi, paratyphi A, paratyphi B, dan paratyphi C. Tapi sudahlah, tidak usah dibahas lebih lanjut, saya juga cuma mengutip informasi tentang tifus tersebut dari beberapa sumber di internet (karena saya bukan dokter!).

Yang jelas, dalam beberapa hari ini saya diharuskan istirahat total dan tidak boleh beraktivitas yang berlebihan, intinya adalah tidur seharian, makan teratur (dan tak melulu harus makan bubur seperti kebanyakan mitos orang bahwa kalau terkena tifus wajib hukumnya untuk makan bubur, ternyata tidak begitu adanya), dan tentu saja minum obat sesuai resep yang diberikan dokter.

Bisa ditebak dengan mudah bahwa dengan hanya melakukan aktivitas (kalau bisa dikategorikan sebagai aktivitas) yang berupa istirahat (tidur) seharian ini akan datang suatu kondisi yang diistilahkan dengan "kejenuhan tingkat tinggi". Yang biasanya beraktivitas mulai dari ngantor, main, wara-wiri ke sana kemari, tiba-tiba harus terkurung di dalam kamar berukuran 3x3 meter dan terbaring di atas kasur seharian. Tapi masih bersyukur, karena ternyata tidak perlu rawat inap di Rumah Sakit, cukup beristirahat di rumah saja. Nah, ternyata betul bahwa "di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya" (sok bijak mode on).

Di dalam situasi boring tingkat tinggi ini, untungnya ada beberapa hal yang bisa sedikit mengurangi rasa bosan tersebut. Iseng-iseng browsing di internet, tanpa sengaja nyasar di sebuah situs entertainmet yang mengulas informasi tentang launching album terbaru dari Sandhy Sondoro, seorang musisi Indonesia yang sukses menembus pasar internasional. 

Sandhy Sondoro (lahir di Jakarta, 12 Desember 1973) adalah seorang penyanyi, pencipta lagu dan pemain gitar asal Indonesia yang memulai karier musiknya di Jerman. Sandhy memulai karier musiknya sebagai musisi jalanan di kota Berlin, mengamen di Metro, dan bermain musik dari pub ke pub. Di jalanan Berlin ini pula ia mulai dikenal dan berkenalan dengan sejumlah musisi dan produser. Setelah mengeluarkan album bertitel Why don't We pada 25 April 2008, pada akhirnya karya musiknya mendapat apresiasi positif di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.

Untuk pertama kali sepanjang karirnya di industri musik internasional, penyanyi Sandhy Sondoro akhirnya merilis album penuh self titled, Sandhy Sondoro di bawah bendera Sony Music Entertainment Indonesia. Ini menjadi babak baru bersejarah bagi karir musik singer-songwriter multi-talenta yang sebelumnya hanya terkenal dengan hit fenomenal ”Malam Biru (Kasihku)” di Indonesia.

Album Sandhy Sondoro ini berisi empat belas lagu original yang diciptakan sendiri olehnya selama puluhan tahun tinggal di Berlin, Jerman. Masing-masing lagu di album ini memiliki pesona pop akustik tersendiri, entah itu di kedahsyatan vokal, permainan gitar hingga kedalaman lirik yang ditulis oleh Sandhy. 
Album Sandhy Sondoro ini merupakan re-release dari album aslinya bertitel Why Don’t We yang direkam dan rilis pertama kali di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya pada bulan April 2008. Dua lagu berbahasa Indonesia di album ini diproduseri Brandon Stone yang berkebangsaan Rusia sementara dua belas lagu lainnya yang berbahasa Inggris diproduseri oleh Guy Sternberg asal Jerman. Lagu-lagu yang ada di album ini sebenarnya telah ia ciptakan lebih dari satu dekade yang lalu. Misalnya lagu I Don’t Know Where dan That’s The Way ditulisnya di tahun 1998 sementara Down on the Street yang terinspirasi saat dirinya mengamen diciptakan sekitar tahun 2002. Sedangkan single pertama album ini “Bunga Mimpi” dan segera menjadi single kedua ”Salamanja” ditulisnya di tahun 2009.

Hidup Sandhy Sondoro selama ini memang sangat kaya pengalaman dan penuh kejutan. Selama lima belas tahun tinggal di Berlin menuntut ilmu ia sempat menekuni berbagai macam profesi. Mulai dari room boy, room service, fast food industry hingga menjadi pengamen. Di pertengahan 2009 ia membuat geger Eropa saat terpilih menjadi juara satu di ajang International Contest of Young Pop Singers NEW WAVE 2009 di Latvia, Eropa Utara.

Di bulan April 2010 ia mendadak diundang khusus oleh hitsmaker dunia, Diane Warren untuk ikut bernyanyi bersama Tony Braxton, Jane Fonda, Gloria Estefan, Eric Benet, LeeAnn Rimes dan sebagainya dalam acara bertajuk 'Dianne Warren and Friends' di Hollywood Palladium, Los Angeles, Amerika Serikat. Semua orang yang hadir di venue legendaris tersebut memberikan standing ovation dan pujian tiada henti kepadanya. Sandhy mendapatkan tepuk tangan dari 1000 penonton saat selesai membawakan lagu 'Time, Love, and Tenderness' ciptaan Dianne Warren.

Awesome! 

Dan benar saja, ketika saya mendengarkan lagu-lagu dalam Album Sandhy Sondoro ini, rasa kekaguman muncul seketika, benar-benar musik berkelas dunia. Maka, jadilah lantunan suara khas dari sang musisi Indonesia bertaraf internasional ini menjadi soundtrack dan sekaligus sebagai obat kejenuhan saya selama masa rehat.

Di tengah keasikan menikmati alunan musik khas Sandhy Sondoro, dan di kala badan sudah berasa pegal-pegal karena berbaring selama berjam-jam lamanya, saya iseng membuka almari dan menemukan sebuah benda yang selama ini terlupakan. Sebuah buku yang sudah saya beli sekitar 5 bulan yang lalu, yang hingga beberapa hari kemarin belum sempat saya baca sama sekali karena terlalu disibukkan oleh berbagai rutinitas pekerjaan. Sebuah buku dwilogi karya dari seorang penulis yang namanya melejit lewat karya fenomenal Tetralogi Laskar Pelangi. Yup, dialah Andrea Hirata, si novelis penghasil tulisan-tulisan berjudul Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Sebuah tetralogi yang begitu memberikan inspirasi bagi kita semua, dan berani keluar dari genre cinta romantis yang sedang menjadi trend saat itu. Kisah Laskar Pelangi ini juga sukses diangkat ke layar lebar melalui film yang bertajuk Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Bahkan, kabar terbaru menyebutkan bahwa ada salah satu produser dari Hollywood yang tertarik untuk membuat ulang film Laskar Pelangi yang dalam versi internasionalnya berjudul The Rainbow Troops ini.

Sebuah dwilogi terbaru karya Andrea Hirata ini berjudul "Padang Bulan" dan "Cinta Dalam Gelas". Dwilogi yang pertama adalah "Padang Bulan", dan saya sungguh merasakan penyesalan saat membaca novel ini! Penyesalan tersebut adalah kenapa saya baru membacanya sekarang?! Padahal jalan ceritanya tak kalah dengan kisah tetralogi Laskar Pelangi. Yah, meskipun itu baru kesimpulan awal saya, karena saya baru membaca sejumlah 18 mozaik (istilah Andrea untuk menyebut Bab) dari total 41 mozaik yang ada dalam dwilogi "Padang Bulan" ini. Tapi dari separuh kisah yang sudah baca tersebut, sungguh menceritakan sesuatu yang saya pikir tak kalah fenomenal dengan Laskar Pelangi. Sebuah kisah yang mengambil latar belakang di bidang pendidikan dan masih juga berlatarkan pulau Belitong (sebagaimana Tetralogi Laskar Pelangi), yang dikemas secara unik dan khas ala Andrea Hirata. Sebuah novel yang inspiratif dan penuh kejutan. Apalagi saat membacanya diiringi dengan kedahsyatan musik dari Sandhy Sondoro, mantap!

Mungkin sekian dulu posting kali ini, berhubung saya harus menaati anjuran dokter yang mengharuskan agar banyak beristirahat. Padahal baru mengetik beberapa paragraf saja, tetapi sudah mulai terasa begitu lelah (ngantuk tenan dab!). Setelah istirahat sejenak mungkin akan saya lanjutkan dengan membaca Mozaik 19 dari Dwilogi "Padang Bulan" - Tahu Apa John Lennon?

*kota gudheg, 1 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar