2010 segera berlalu..
2011 datang menghampiri..
Happy new year!
Kata-kata yang lazim terdengar menjelang malam pergantian tahun. Yup, beberapa menit lagi kita akan segera meninggalkan tahun 2010, dan menginjak ke tahun baru, tahun 2011.
Tahun 2010 yang penuh dengan berbagai cerita, baik itu suka maupun duka, tawa maupun nestapa, senyum maupun tangis, telah mewarnai perjalanan sepanjang tahun 2010. Apapun pencapaian yang telah berhasil kita raih selama setahun ini, patut kita syukuri sepenuh hati, agar di tahun 2011 pencapaian itu akan semakin baik lagi. Sedangkan kegagalan yang kita alami di tahun 2010, hendaknya dapat kita jadikan sebagai bahan pelajaran agar ke depan kita dapat melewatinya dengan sebuah keberhasilan, amin..
Perjalanan selama 1 tahun telah membentuk karakter dan membawa kita pada posisi kita berdiri saat ini, entah itu lebih baik, sama, ataukah justru lebih buruk dibandingkan satu tahun yang lalu. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk melakukan introspeksi diri, jangan terlalu larut dalam euforia pesta pergantian tahun. Kita pikirkan apa penyebab kegagalan yang kita alami, untuk bekal menghadapi tantangan yang mungkin lebih berat di tahun depan. Kita harus membuat resolusi dan pencapaian apa saja yang ingin kita raih di tahun 2011. Tentunya kita semua berharap di tahun 2011, kita akan menjadi seseorang yang lebih baik dalam berbagai segi kehidupan. Amal ibadah semakin meningkat, sukses dalam karir, berhasil dalam menuntut ilmu bagi yang sedang belajar/kuliah, segera bertemu jodohnya bagi yang sedang mencari pendamping hidup, laris manis bagi mereka yang berdagang, dan masih banyak resolusi-resolusi yang pastinya berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Tetapi, semuanya bermuara pada satu hal, bahwa tahun 2011 ini harus bisa lebih baik dari tahun 2010, kita semua berharap demikian, amin..
SELAMAT TINGGAL TAHUN 2010, SELAMAT DATANG TAHUN 2011..
HAPPY NEW YEAR.....!!!
Jumat, 31 Desember 2010
Selasa, 28 Desember 2010
Bukan Misi Mustahil
Melanjutkan posting terdahulu (Euforia Yang Salah Kaprah)...
Dan ternyata apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi..
Eksploitasi dan pemberitaan yang berlebihan terhadap timnas benar-benar mengganggu persiapan timnas jelang laga final leg pertama di Bukit Jalil. Kita menjadi saksi bagaimana timnas kebanggaan kita semua menjadi bulan-bulanan Malaysia, kalah dengan skor 0-3. Terlepas dari ulah curang suporter Malaysia dengan teror laser hijaunya, tampak jelas kalau timnas tampil kurang determinasi, kurang ngotot, kurang greget dan kurang fight. Tapi itulah sepakbola, apapun bisa terjadi di dunia si kulit bundar.
Menang kalah adalah hal biasa. Kalah 0-3 bukan berarti peluang juara sudah tertutup. Ingat Bung, kita masih punya 2x45 menit di Gelora Bung Karno! Dengan dukungan dari 80.000 suporter Merah Putih dan gemuruh Garuda Di Dadaku yang membakar semangat juang, kita pasti bisa melakukan pembalasan (dalam arti positif) terhadap Malaysia.
Menang 4-0 bukanlah hal yang tak mungkin. Kita pernah membantai Malaysia dengan skor 5-1. Itu menjadi bukti timnas bisa melakukan apapun. Terlepas dari semakin padunya permainan Malaysia, kita harus optimis kalau kita bisa mengalahkan mereka. Kalau Malaysia bisa bangkit dari keterpurukan, mengapa kita tidak?
Kita pasti bisa, Indonesia pasti bisa!
Kita tidak perlu menirukan ulah curang suporter Malaysia dengan berbagai tindakan tidak terpujinya baik berupa teror laser maupun lemparan petasan ke tengah stadion. Kita tunjukkan bahwa kemenangan bisa diraih dengan cara-cara yang sportif, tanpa mencederai nilai-nilai fair play. Timnas kita masih punya semangat juang, saya yakin 100%. Apabila semangat juang itu dikombinasikan dengan dukungan puluhan ribu suporter Indonesia di Gelora Bung Karno dan tentunya doa dari seluruh bangsa Indonesia, saya yakin kita bisa meraih hasil yang optimal.
Kita tentunya masih ingat dengan laga final Liga Champions Eropa tahun 2005 di mana Liverpool sempat tertinggal 3 gol di babak pertama dari AC Milan, tapi mereka berhasil keluar dari tekanan dan menyamakan skor menjadi 3-3 sebelum akhirnya memenangkan pertandingan melalui drama adu penalti. Semoga perjuangan Steven Gerrard tersebut dapat memberikan inspirasi bagi para punggawa timnas. Bahwa melalui perjuangan tak kenal lelah, apapun bisa dilakukan, meskipun itu sesuatu yang berat. Kita tunggu siapa pemain timnas yang akan menjadi Steven Gerrard di laga final esok, apakah dia Cristian Gonzales, Firman Utina, Irfan Bachdim ataukah Bambang Pamungkas? Siapapun dia, yang pasti kita harus terus memberikan dukungan penuh kepada perjuangan timnas. Tak usah kita pedulikan bagaimana bobroknya PSSI. Kita mendukung timnas Indonesia, bukan PSSI!
Semoga de ja vu final liga Champions antara Liverpool kontra AC Milan bisa terjadi esok, 29 Desember 2010 malam, saat Firman Utina bisa mengangkat trofi Piala AFF untuk pertama kalinya bagi seluruh rakyat Indonesia, amin..
Selamat berjuang Firman Utina, Cristian Gonzales, Bepe, Irfan, Arif Suyono dkk!
Menang 4-0 bukan misi yang mustahil!
Kami selalu mendukung perjuangan kalian..
Apapun hasil yang dicapai, kami tetap bangga atas perjuangan yang telah kalian lakukan..
Garuda di Dadaku, selamanya...!
Merdeka!!
Dan ternyata apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi..
Eksploitasi dan pemberitaan yang berlebihan terhadap timnas benar-benar mengganggu persiapan timnas jelang laga final leg pertama di Bukit Jalil. Kita menjadi saksi bagaimana timnas kebanggaan kita semua menjadi bulan-bulanan Malaysia, kalah dengan skor 0-3. Terlepas dari ulah curang suporter Malaysia dengan teror laser hijaunya, tampak jelas kalau timnas tampil kurang determinasi, kurang ngotot, kurang greget dan kurang fight. Tapi itulah sepakbola, apapun bisa terjadi di dunia si kulit bundar.
Menang kalah adalah hal biasa. Kalah 0-3 bukan berarti peluang juara sudah tertutup. Ingat Bung, kita masih punya 2x45 menit di Gelora Bung Karno! Dengan dukungan dari 80.000 suporter Merah Putih dan gemuruh Garuda Di Dadaku yang membakar semangat juang, kita pasti bisa melakukan pembalasan (dalam arti positif) terhadap Malaysia.
Menang 4-0 bukanlah hal yang tak mungkin. Kita pernah membantai Malaysia dengan skor 5-1. Itu menjadi bukti timnas bisa melakukan apapun. Terlepas dari semakin padunya permainan Malaysia, kita harus optimis kalau kita bisa mengalahkan mereka. Kalau Malaysia bisa bangkit dari keterpurukan, mengapa kita tidak?Kita pasti bisa, Indonesia pasti bisa!
Kita tidak perlu menirukan ulah curang suporter Malaysia dengan berbagai tindakan tidak terpujinya baik berupa teror laser maupun lemparan petasan ke tengah stadion. Kita tunjukkan bahwa kemenangan bisa diraih dengan cara-cara yang sportif, tanpa mencederai nilai-nilai fair play. Timnas kita masih punya semangat juang, saya yakin 100%. Apabila semangat juang itu dikombinasikan dengan dukungan puluhan ribu suporter Indonesia di Gelora Bung Karno dan tentunya doa dari seluruh bangsa Indonesia, saya yakin kita bisa meraih hasil yang optimal.
Kita tentunya masih ingat dengan laga final Liga Champions Eropa tahun 2005 di mana Liverpool sempat tertinggal 3 gol di babak pertama dari AC Milan, tapi mereka berhasil keluar dari tekanan dan menyamakan skor menjadi 3-3 sebelum akhirnya memenangkan pertandingan melalui drama adu penalti. Semoga perjuangan Steven Gerrard tersebut dapat memberikan inspirasi bagi para punggawa timnas. Bahwa melalui perjuangan tak kenal lelah, apapun bisa dilakukan, meskipun itu sesuatu yang berat. Kita tunggu siapa pemain timnas yang akan menjadi Steven Gerrard di laga final esok, apakah dia Cristian Gonzales, Firman Utina, Irfan Bachdim ataukah Bambang Pamungkas? Siapapun dia, yang pasti kita harus terus memberikan dukungan penuh kepada perjuangan timnas. Tak usah kita pedulikan bagaimana bobroknya PSSI. Kita mendukung timnas Indonesia, bukan PSSI!
Semoga de ja vu final liga Champions antara Liverpool kontra AC Milan bisa terjadi esok, 29 Desember 2010 malam, saat Firman Utina bisa mengangkat trofi Piala AFF untuk pertama kalinya bagi seluruh rakyat Indonesia, amin..
Selamat berjuang Firman Utina, Cristian Gonzales, Bepe, Irfan, Arif Suyono dkk!
Menang 4-0 bukan misi yang mustahil!
Kami selalu mendukung perjuangan kalian..
Apapun hasil yang dicapai, kami tetap bangga atas perjuangan yang telah kalian lakukan..
Garuda di Dadaku, selamanya...!
Merdeka!!
Jumat, 24 Desember 2010
Euforia Yang Salah Kaprah
Bahwa timnas Indonesia lolos ke final Piala AFF 2010, kita semua bahagia..
Bahwa timnas Indonesia mampu menyuguhkan permainan cantik, kita pun bahagia..
Bahwa seluruh rakyat Indonesia kembali mencintai Timnas-nya, kita pastilah sangat bahagia..
Akan tetapi, kebahagiaan tersebut haruslah dikelola dengan bijak dan sesuai tempatnya. Jangan berubah menjadi euforia yang berlebihan dan terkesan lebay. Inilah yang kita saksikan beberapa hari belakangan ini. Di saat timnas butuh waktu latihan dan konsentrasi penuh dalam rangka persiapan bertanding melawan Malaysia dalam tajuk Final Piala AFF 2010 leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, mereka justru disibukkan, lebih tepatnya dipaksakan untuk sibuk dengan berbagai urusan di luar lapangan. Yang paling gres tentunya adalah seluruh punggawa timnas diboyong untuk menghadiri Istighosah Timnas di pesantren Assidiqiyah, Jakarta Barat. Maksudnya memang baik, akan tetapi hal seperti ini justru mengganggu agenda yang sudah disusun timnas dalam rangka persiapan pertandingan final. Kemarin sore, para punggawa timnas seharusnya melakukan program rileksasi seperti berenang, jacuzzi dan sesi gym, agar mereka bisa rileks saat bertandang ke Malaysia pada tanggal 26 Desember, Minggu esok. Dan yang lebih parah lagi, acara istighosah tersebut baru diberitahukan siang hari kemarin, sehingga timnas terpaksa merubah jadwalnya secara mendadak. Bukankah hal seperti ini justru tidak membantu timnas? Ini memperlihatkan ketidakprofesionalan pengurus PSSI, yang justru lebih memprioritaskan agenda di luar lapangan daripada persiapan timnas itu sendiri.
Bukti lainnya adalah saat timnas dibawa oleh PSSI untuk menghadiri jamuan makan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, beberapa hari yang lalu. Ini menunjukkan bahwa timnas saat ini mulai disusupi oleh kepentingan politis. Okelah kita semua maklum kalau Nurdin Halid yang ketuanya PSSI itu adalah pengagum berat dari Aburizal Bakrie, tapi bukan berarti dia harus memaksakan hal tersebut kepada skuad timnas dengan memboyong mereka semua untuk bertatap muka dan sowan ke kediaman Aburizal Bakrie. Kasihan timnas jika harus disibukkan dengan agenda lain di luar lapangan, di saat mereka butuh konsentrasi penuh untuk menghadapi Malaysia di final. Silakan baca artikel "Kasihan, Timnas Dibuat Sibuk oleh Urusan di Luar Lapangan" (link: http://www.detiksport.com/sepakbola).
Sebagai pendukung timnas Indonesia, kita semua seharusnya membantu para punggawa timnas dengan memberikan ketenangan dan membiarkan mereka berkonsentrasi penuh menjelang laga final. Bukankah akan menjadi sebuah ironi jika timnas Indonesia gagal menjadi juara Piala AFF hanya karena terlalu disibukkan oleh berbagai agenda di luar lapangan. Alfred Riedl telah melakukan tugasnya semaksimal mungkin untuk mencapai target juara. Demi menjaga konsentrasi pemain timnas menjelang laga final, dia melarang anak asuhnya untuk menanggapi dan menjawab pertanyaan media. Para punggawa timnas hanya diperbolehkan melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama saja. Riedl telah berupaya sebisanya untuk memproteksi skuad timnas, tapi sepertinya PSSI berkehendak lain, di mana punggawa timnas malah diajak ke sana kemari layaknya penyanyi yang sedang promo album barunya. Wahai pengurus PSSI, bijaksanalah untuk sejenak saja sampai timnas menyelesaikan pertandingan final, biarkan mereka fokus bertanding! Setelah trofi juara berada di lemari timnas, barulah kita boleh melakukan selebrasi kemenangan dan mengelu-elukan timnas, tapi tentu saja tetap dalam batas kewajaran.
Untuk Firman Utina dan kawan-kawan, saya dan (tentunya) seluruh pendukung Timnas Indonesia, mengucapkan selamat berjuang dalam pertandingan final leg pertama Piala AFF 2010 melawan Malaysia di stadion Bukit Jalil..
Lakukan yang terbaik, bawa pulang kemenangan untuk seluruh pendukungmu di tanah air..
Kami semua selalu mendukungmu..
Terbanglah tinggi Garudaku, kepakkan kedua sayapmu sekuat tenaga!
(coretan dari salah seorang pendukung Timnas Indonesia)
Bahwa timnas Indonesia mampu menyuguhkan permainan cantik, kita pun bahagia..
Bahwa seluruh rakyat Indonesia kembali mencintai Timnas-nya, kita pastilah sangat bahagia..
Akan tetapi, kebahagiaan tersebut haruslah dikelola dengan bijak dan sesuai tempatnya. Jangan berubah menjadi euforia yang berlebihan dan terkesan lebay. Inilah yang kita saksikan beberapa hari belakangan ini. Di saat timnas butuh waktu latihan dan konsentrasi penuh dalam rangka persiapan bertanding melawan Malaysia dalam tajuk Final Piala AFF 2010 leg pertama di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, mereka justru disibukkan, lebih tepatnya dipaksakan untuk sibuk dengan berbagai urusan di luar lapangan. Yang paling gres tentunya adalah seluruh punggawa timnas diboyong untuk menghadiri Istighosah Timnas di pesantren Assidiqiyah, Jakarta Barat. Maksudnya memang baik, akan tetapi hal seperti ini justru mengganggu agenda yang sudah disusun timnas dalam rangka persiapan pertandingan final. Kemarin sore, para punggawa timnas seharusnya melakukan program rileksasi seperti berenang, jacuzzi dan sesi gym, agar mereka bisa rileks saat bertandang ke Malaysia pada tanggal 26 Desember, Minggu esok. Dan yang lebih parah lagi, acara istighosah tersebut baru diberitahukan siang hari kemarin, sehingga timnas terpaksa merubah jadwalnya secara mendadak. Bukankah hal seperti ini justru tidak membantu timnas? Ini memperlihatkan ketidakprofesionalan pengurus PSSI, yang justru lebih memprioritaskan agenda di luar lapangan daripada persiapan timnas itu sendiri.
Bukti lainnya adalah saat timnas dibawa oleh PSSI untuk menghadiri jamuan makan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, beberapa hari yang lalu. Ini menunjukkan bahwa timnas saat ini mulai disusupi oleh kepentingan politis. Okelah kita semua maklum kalau Nurdin Halid yang ketuanya PSSI itu adalah pengagum berat dari Aburizal Bakrie, tapi bukan berarti dia harus memaksakan hal tersebut kepada skuad timnas dengan memboyong mereka semua untuk bertatap muka dan sowan ke kediaman Aburizal Bakrie. Kasihan timnas jika harus disibukkan dengan agenda lain di luar lapangan, di saat mereka butuh konsentrasi penuh untuk menghadapi Malaysia di final. Silakan baca artikel "Kasihan, Timnas Dibuat Sibuk oleh Urusan di Luar Lapangan" (link: http://www.detiksport.com/sepakbola).
Sebagai pendukung timnas Indonesia, kita semua seharusnya membantu para punggawa timnas dengan memberikan ketenangan dan membiarkan mereka berkonsentrasi penuh menjelang laga final. Bukankah akan menjadi sebuah ironi jika timnas Indonesia gagal menjadi juara Piala AFF hanya karena terlalu disibukkan oleh berbagai agenda di luar lapangan. Alfred Riedl telah melakukan tugasnya semaksimal mungkin untuk mencapai target juara. Demi menjaga konsentrasi pemain timnas menjelang laga final, dia melarang anak asuhnya untuk menanggapi dan menjawab pertanyaan media. Para punggawa timnas hanya diperbolehkan melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama saja. Riedl telah berupaya sebisanya untuk memproteksi skuad timnas, tapi sepertinya PSSI berkehendak lain, di mana punggawa timnas malah diajak ke sana kemari layaknya penyanyi yang sedang promo album barunya. Wahai pengurus PSSI, bijaksanalah untuk sejenak saja sampai timnas menyelesaikan pertandingan final, biarkan mereka fokus bertanding! Setelah trofi juara berada di lemari timnas, barulah kita boleh melakukan selebrasi kemenangan dan mengelu-elukan timnas, tapi tentu saja tetap dalam batas kewajaran.
Untuk Firman Utina dan kawan-kawan, saya dan (tentunya) seluruh pendukung Timnas Indonesia, mengucapkan selamat berjuang dalam pertandingan final leg pertama Piala AFF 2010 melawan Malaysia di stadion Bukit Jalil..
Lakukan yang terbaik, bawa pulang kemenangan untuk seluruh pendukungmu di tanah air..
Kami semua selalu mendukungmu..
Terbanglah tinggi Garudaku, kepakkan kedua sayapmu sekuat tenaga!
(coretan dari salah seorang pendukung Timnas Indonesia)
Jumat, 17 Desember 2010
Garuda Di Dadaku
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang...
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang...
Ku yakin hari ini pasti menang...
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang...
Itulah sepenggal lirik lagu Garuda Di Dadaku yang dibawakan oleh grup band Netral, yang saat ini tengah menjadi soundtrack serta sedang digemari masyarakat di seantero nusantara, dari Sabang sampai Merauke, seiring dengan menggeliatnya prestasi Tim Nasional Sepakbola Indonesia di ajang AFF Cup 2010. Hingga tulisan ini saya buat, Tim Garuda sudah menapakkan separuh kakinya di final ajang sepakbola kawasan Asia Tenggara ini, karena dalam semifinal 1st leg kemarin (16 Desember 2010) Firman Utina dan kawan-kawan berhasil menakhlukkan Filipina dengan skor 1-0. Tiket final memang belum 100% aman, karena dengan selisih gol yang cuma 1 biji itu, Filipina bisa saja membuat kejutan di 2nd leg yang akan dihelat besok Minggu, 19 Desember 2010 di Gelora Bung Karno. Tapi, saya dan pastinya seluruh rakyat Indonesia yakin bahwa Tim Garuda akan mampu mengalahkan Filipina di 2nd leg nanti, dan melenggang mulus ke partai puncak AFF Cup 2010. Keyakinan ini tentunya didasarkan pada fakta bahwa permainan timnas di era Alfred Riedl jauh lebih menghibur dan lebih menjanjikan dibandingkan dengan era sebelumnya. Skema permainan 4-4-2 yang diterapkan oleh Riedl, dapat berjalan dengan relatif mulus dan diterjemahkan dengan baik oleh para pemain di lapangan, meskipun tentunya masih banyak catatan yang mesti dibenahi demi peningkatan prestasi timnas Indonesia.
Timnas Indonesia mampu memperagakan permainan cantik dari kaki ke kaki, dengan kesalahan-kesalahan passing yang jauh lebih minimal dibandingkan timnas era sebelumnya. Kombinasi pemain senior dan muka-muka baru berhasil dipoles dengan baik oleh pelatih Riedl menjadi sebuah tim yang cukup solid. Lihatlah bagaimana si anak baru Irfan Bachdim yang tampil memukau di turnamen resmi pertamanya bersama timnas Indonesia setelah dinaturalisasi menjadi WNI. Dia sontak menjadi idola baru para penggila sepakbola Indonesia. Bahkan magnet Irfan Bachdim bisa menyedot mereka yang semula tidak menyukai bola, mendadak berubah menjadi pendukung fanatik tim Merah Putih. Satu lagi pemain hasil naturalisasi yang tampil mengesankan adalah Christian "El Loco" Gonzales, yang hingga partai semifinal telah berhasil menjaringkan 3 gol di ajang AFF Cup 2010. Naluri membunuh striker asal Uruguay ini sungguh luar biasa, skill nya pun juga mumpuni. Selain 2 striker hasil naturalisasi ini, talenta lokal pun tak kalah hebatnya. Firman Utina berhasil menjelma menjadi jenderal lapangan tengah timnas Indonesia, dengan mobilitas yang tinggi, umpan-umpan akurat, serta visi permainan yang ciamik. Naluri mencetak gol kapten timnas pun juga tinggi, terbukti dari 2 gol yang telah berhasil dia buat. Jangan lupakan pula peran Ahmad Bustomi sebagai gelandang bertahan yang menjadi patner Firman Utina di lini tengah. Permainannya lugas dan tak kenal kompromi, memainkan peran sebagai penyeimbang permainan timnas.
Bambang Pamungkas! Striker yang akrab dipanggil Bepe ini belum habis. Dia menunjukkan bahwa dirinya layak disebut sebagai legenda hidup sepakbola Indonesia. Kapten timnas ini, meskipun sering hanya diturunkan sebagai pemain pengganti, tetap menampilkan permainan yang penuh determinasi dan pantang menyerah. Dua gol dari titik putih telah berhasil ditorehkannya di ajang AFF Cup 2010 saat mendepak Thailand 2-1. Bahkan, juniornya yang saat ini menjadi pilihan utama di lini depan timnas, Irfan Bachdim dalam tweep nya setelah pertandingan kontra Thailand menyatakan "There is only 1 MAN, 1 HERO and 1 LEGEND.. His name... BAMBANG PAMUNGKAS!!". Ini menunjukkan respek yang luar biasa tinggi kepada Bepe.
Di sektor sayap kanan, ada nama Muhammad Ridwan bercokol di sana. Permainannya cukup stabil, dan mampu menjalankan perannya dengan baik di sektor sayap. Sayap kiri, seorang anak muda berusia 20 tahun yang dipercaya mengenakan nomor keramat "10", pemain debutan timnas asal Papua, dialah Oktovianus Maniani yang kerap disapa Okto. Skill mumpuni, dribble yang lengket, dan kengototannya dalam bermain patut diacungi jempol. Hanya saja, terkadang dia masih kurang bijak dalam mengambil keputusan kapan harus membawa bola, kapan harus mengumpan, kapan harus melakukan shooting. Tetapi seiring dengan bertambahnya jam terbang, saya yakin dia bakal menjadi pemain sukses di masa depan. Masih ada satu nama lagi yang harus mendapat apresiasi atas penampilan impresifnya, dialah Arif Suyono. Pemain ini dapat bermain di sayap kanan maupun kiri. Sayatannya dari sayap harus diacungi jempol. Kerap dimainkan sebagai pemain pengganti, tapi justru sering langsung mencetak gol saat dimainkan, inilah pemain yang layak mendapat julukan supersub sejati.
Di barisan pertahanan, ada kuartet bek yang siap menjaga setiap jengkal pertahanan timnas. Di sektor kanan pertahanan ada seorang Zulkifli Syukur yang cukup tangguh dalam mengawal sisi kanan pertahanan dari serbuan musuh, tak jarang dia juga melakukan overlaping untuk membantu penyerangan. Sedangkan di sektor kiri pertahanan berdiri pemain bernama Muhammad Nasuha, yang memperlihatkan progress penampilan yang signifikan dari hari ke hari. Dia semakin matang dalam mengawal pertahanan, memiliki timing yang tepat kapan harus membantu pertahanan, dan kapan saatnya ikut menyerang. Crossing nya pun cukup akurat, tipikal bek sayap modern yang rajin melakukan overlaping. Di jantung pertahanan tim Merah Putih, berdiri dua sosok yang menjadi tembok rapat pertahanan, duet Maman Abdurrahman dan Hamka Hamzah sampai sejauh ini menampilkan permainan yang cukup solid, meskipun sesekali masih melakukan kesalahan yang bisa saja berakibat fatal. Dan sebagai penjaga terakhir garis pertahanan adalah Markus Horison, seorang kiper dengan postur ideal dan teknik yang bagus. Dialah penjaga gawang nomor satu Indonesia saat ini, kerap melakukan penyelamatan gemilang, tapi tak jarang melakukan blunder yang tak perlu. Tapi tak apalah, toh kiper sekelas Iker Casillas, Van der Saar, dan David Seaman pun juga pernah melakukan blunder. Semoga ke depannya permainan kiper plontos ini semakin sempurna dalam menjaga keperawanan gawang tim Merah Putih.
Perjalanan Timnas Indonesia di AFF Cup 2010
Langkah Tim Merah Putih diawali dengan menghadapi musuh bebuyutan kita, Malaysia. Kita telah menjadi saksi bagaimana Irfan Bachdim dan kawan-kawan berhasil mempecundangi Malaysia dengan skor telak 5-1 di partai pembuka grup A ini. Kemenangan telak kembali dibukukan timnas saat berhadapan dengan Laos di partai kedua grup A, 6-0! Tim asuhan Alfred Riedl berhasil membombardir gawang Laos 6 gol tanpa balas, yang memastikan Tim Garuda lolos ke semifinal dan menjadi pemuncak di klasemen grup A. Di partai terakhir yang sudah tidak menentukan, Timnas Indonesia tetap saja ngotot dan berhasil menendang Thailand keluar dari AFF Cup 2010, setelah berhasil mengalahkan tim Gajah Putih dengan skor 2-1. Partai terakhir ini sempat membuat pendukung timnas ketar-ketir, pasalnya Indonesia sempat dibuat tertinggal 1-0 di babak pertama, sebelum disamakan dan berbalik unggul menjadi 2-1 saat peluit panjang dibunyikan. Kemenangan 2-1 ini tak lepas dari perjuangan tanpa kenal lelah dari anak-anak Garuda dalam mengejar kemenangan, yang akhirnya berbuah pada terciptanya 2 gol melalui titik penalti. Kredit poin patut diberikan pada Bambang Pamungkas "Bepe 20" yang berhasil mengeksekusi 2 penalti dengan dingin, tentunya dibutuhkan mental baja untuk melakukan hal semacam itu. Salut Bepe!
Setelah memastikan lolos sebagai juara grup A, Indonesia harus melakoni partai semifinal kontra runner up grup B, tim penuh kejutan berkat pemain-pemain naturalisasinya, Filipina. Semifinal digelar dengan sistem home and away dengan memperhitungkan skor agregat. Leg pertama semifinal AFF Cup 2010 antara Indonesia vs Filipina seharusnya digelar di Filipina pada tanggal 16 Desember 2010. Akan tetapi karena Filipina tidak memiliki stadion yang memenuhi standar untuk melangsungkan pertandingan bertaraf internasional, maka diputuskan 1st leg semifinal AFF Cup Indonesia vs Filipina dihelat di Gelora Bung Karno, Indonesia. Hal ini tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi timnas Indonesia, karena meskipun berstatus sebagai tim tamu, kita tetap bermain di kandang kita sendiri. Dan terbukti, pada pertandingan kemarin malam, 16 Desember 2010 kick-off pukul 19.00 WIB, tim Garuda berhasil menjinakkan Filipina yang diperkuat 8 pemain naturalisasi dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang dicetak oleh Christian "El Loco" Gonzales memanfaatkan umpan Firman Utina serta blunder yang dilakukan oleh barisan pertahanan Filipina.
Kerikil Si Penggugat Garuda
Di tengah euforia kebangkitan tim nasional Indonesia, ada satu kerikil yang justru muncul dari orang Indonesia sendiri. Seorang lawyer bernama David Tobing tiba-tiba mengajukan gugatan yang kurang lebih menyatakan bahwa "Pemakaian lambang Garuda di kostum tim nasional Indonesia melanggar UU tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara".
Saya cuma bisa geleng-geleng kepala saat mengetahui hal ini. Kenapa justru di saat timnas sedang berprestasi dan mendapatkan kembali tempatnya di hati seluruh rakyat Indonesia, ada satu orang yang justru merusak momen kebangkitan sepakbola Indonesia ini. Saya tak habis pikir, apa yang dimaksud melanggar UU dalam kasus pemakaian logo Garuda di seragam timnas?! Bukankah timnas bermain dalam rangka melakukan tugas negara, berjuang mengharumkan nama Indonesia melalui jalur sepakbola. Segenap punggawa timnas Indonesia rela berjuang di atas lapangan, berpeluh keringat, kadang bersimbah darah akibat benturan dengan lawan, tapi kenapa justru respon seperti ini yang didapatkan dari tuan pengacara yang satu ini.
Pemakaian lambang garuda di kaos timnas sendiri sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Tetapi kenapa baru sekarang dipermasalahkan? Dan menurut kebanyakan khalayak, pemakaian logo Garuda di kostum timnas adalah sesuatu yang wajar bahkan wajib, mengingat mereka (timnas) bermain mewakili nama Indonesia. Jadi sudah seharusnya lambang negara mereka bawa. Mengenai kemungkinan logo Garuda di kostum timnas terkena debu, tanah, keringat bahkan darah saat dipakai bermain, itu adalah hal yang wajar. Toh debu dan tanah yang menempel, keringat yang membasahi, serta darah yang mungkin mengenai logo Garuda itu adalah semata-mata dalam rangka perjuangan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa dan negara. Jadi hal seperti itu tak usah dipermasalahkan, karena penjelasannya sudah teramat jelas, bahkan bagi orang awam sekalipun seperti saya!
Berikut adalah beberapa kalimat yang saya cuplik dari official website Bambang Pamungkas yang notabene adalah kapten timnas saat ini sebagai reaksi atas mencuatnya gugatan atas lambang Garuda di jersey timnas:
“Memang tidak semua pertempuran dapat kami menangkan, dan juga tidak setiap saat kami mampu memberikan kebanggaan bagi negara ini. Akan tetapi setidaknya, kami adalah anak-anak bangsa yg berjuang dengan tulus ihklas dan sepenuh hati untuk mengharumkan nama tanah tumpah darah yg kami cintai”
Oleh karena itu, secara pribadi maupun sebagai kapten tim merah-putih mewakili seluruh komponen di dalam tim ini, kami mohon “Jangan renggut lambang garuda itu dari kami”. Karena lambang garuda itu telah menjadi saksi dari penjalanan panjang kami, lambang garuda itu telah menemani kami dalam setiap pertempuran kami, dan burung garuda itu adalah sahabat kami yg paling setia baik dalam kepedihan, kebahagiaan, kekalahan maupun kemenangan…
Terlepas dari segala perdebatan dan kontroversi yg meyelimuti seragam yg kami kenakan, hal tersebut tidak akan pernah mengurangi semangat, kebanggan, komitmen serta dedikasi kami dalam berjuang atas nama Indonesia…
Karena pada kenyataannya, simbol burung garuda berwarna emas tersebut “Sudah menjadi bagian dari jiwa dan raga kami”
(sumber: http://bambangpamungkas20.com)
Dari tulisan Bambang Pamungkas tersebut, dapat kita simpulkan bahwa memakai kaos timnas berlogo garuda di dada kiri adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya bagi para pemain timnas. Bahwa simbol garuda telah menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari seluruh punggawa timnas. Bahwa simbol garuda itulah yang mampu melecut semangat bertanding punggawa timnas.
Jadi, saya hanya ingin mengulangi dan menggarisbawahi apa yang ditulis Bepe:
"Jangan renggut lambang garuda itu dari kami"
Terbanglah Garuda, jayalah Indonesiaku!
Kamis, 09 Desember 2010
Mimpi, Cita-cita dan Keinginan
Setiap orang,
siapapun dia,
seperti apapun keterbatasannya,
berhak memiliki cita-cita,
berhak mengurai mimpi-mimpinya…
Manusia,
berhak mempunyai keinginan…
Dan barangsiapa dapat memupuknya,
keinginan itu akan tumbuh, tumbuh, dan tumbuh,
berkembang seiring berjalannya waktu,
dan menjadi semakin kuat…
Keinginan yang kuat,
dapat membangkitkan kemampuan yang luar biasa,
dapat mendatangkan keajaiban yang tak pernah terbayangkan…
Keinginan yg kuat,
dapat menuntun manusia ke arah yang tak diduga-duga sebelumnya…
Keinginan yang kuat,
dapat membawa manusia mendaki gunung tertinggi,
menerobos hutan belantara,
menembus goa yang gelap,
menyeberangi gurun sahara yang gersang,
mengarungi lautan yang ganas,
bahkan mampu menembus lapisan atmosfer dan mengantarkan manusia menjejakkan kaki di bulan…
Dan tentu saja,
keinginan yang kuat itu,
dapat pula mengantarkan manusia untuk meraih cita-cita,
menggapai mimpi-mimpinya…
Maka,
jangan sekali-kali meremehkan cita-cita, mimpi & keinginan seorang anak manusia,
bagaimanapun terbatasnya dia,
karena tak ada yg tak mungkin di dunia ini…
Tuhan akan menggenggam mimpi-mimpi itu,
kemudian mewujudkannya dengan cara yang tiada terduga sebelumnya...
Teruslah bermimpi, kejarlah tanpa kenal lelah, sampai kapanpun, di manapun...
*recycled from my old blog
siapapun dia,
seperti apapun keterbatasannya,
berhak memiliki cita-cita,
berhak mengurai mimpi-mimpinya…
Manusia,
berhak mempunyai keinginan…
Dan barangsiapa dapat memupuknya,
keinginan itu akan tumbuh, tumbuh, dan tumbuh,
berkembang seiring berjalannya waktu,
dan menjadi semakin kuat…
Keinginan yang kuat,
dapat membangkitkan kemampuan yang luar biasa,
dapat mendatangkan keajaiban yang tak pernah terbayangkan…
Keinginan yg kuat,
dapat menuntun manusia ke arah yang tak diduga-duga sebelumnya…
Keinginan yang kuat,
dapat membawa manusia mendaki gunung tertinggi,
menerobos hutan belantara,
menembus goa yang gelap,
menyeberangi gurun sahara yang gersang,
mengarungi lautan yang ganas,
bahkan mampu menembus lapisan atmosfer dan mengantarkan manusia menjejakkan kaki di bulan…
Dan tentu saja,
keinginan yang kuat itu,
dapat pula mengantarkan manusia untuk meraih cita-cita,
menggapai mimpi-mimpinya…
Maka,
jangan sekali-kali meremehkan cita-cita, mimpi & keinginan seorang anak manusia,
bagaimanapun terbatasnya dia,
karena tak ada yg tak mungkin di dunia ini…
Tuhan akan menggenggam mimpi-mimpi itu,
kemudian mewujudkannya dengan cara yang tiada terduga sebelumnya...
Teruslah bermimpi, kejarlah tanpa kenal lelah, sampai kapanpun, di manapun...
*recycled from my old blog
Rabu, 01 Desember 2010
Sandhy Sondoro, Padang Bulan dan Tifus
Pasti Anda bertanya-tanya saat membaca judul postingan ini. Sebab secara kasat mata jelas sekali bahwa di antara ketiganya nyaris tak berhubungan sama sekali satu sama lain. Tapi, akan saya jlentrehkan dalam tulisan (yang mungkin tak karuan) berikut ini.
Sekarang, saat menulis postingan ini, kalender yang menempel di dinding kamar saya yang sudah kusam menunjukkan tanggal 1 Desember 2010. Yupz, tanggal 1 dab! Hari di mana kebanyakan orang bersuka cita karena hari ini adalah hari gajian sedunia! Tapi bukan itu poin utamanya, melainkan karena ini adalah hari ke 1, 2, 3,.... oh hari ke-6 tepatnya, saya harus terkapar di atas tempat tidur seharian, istilah kerennya bedrest (kedengarannya enak bisa tidur terus-terusan, tapi walah, bosennya luwaaarrr biasa...). Begitulah, beberapa hari ini saya musti istirahat total dikarenakan terkena demam tifoid atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah tifus, yaitu penyakit infeksi yang masuk melalui saluran cerna kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui darah (infeksi sistemik). Tifus disebabkan oleh bakteri yang disebut Salmonella serovarian typhi dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis bakteri Salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu Salmonella serovarian typhi, paratyphi A, paratyphi B, dan paratyphi C. Tapi sudahlah, tidak usah dibahas lebih lanjut, saya juga cuma mengutip informasi tentang tifus tersebut dari beberapa sumber di internet (karena saya bukan dokter!).
Yang jelas, dalam beberapa hari ini saya diharuskan istirahat total dan tidak boleh beraktivitas yang berlebihan, intinya adalah tidur seharian, makan teratur (dan tak melulu harus makan bubur seperti kebanyakan mitos orang bahwa kalau terkena tifus wajib hukumnya untuk makan bubur, ternyata tidak begitu adanya), dan tentu saja minum obat sesuai resep yang diberikan dokter.
Bisa ditebak dengan mudah bahwa dengan hanya melakukan aktivitas (kalau bisa dikategorikan sebagai aktivitas) yang berupa istirahat (tidur) seharian ini akan datang suatu kondisi yang diistilahkan dengan "kejenuhan tingkat tinggi". Yang biasanya beraktivitas mulai dari ngantor, main, wara-wiri ke sana kemari, tiba-tiba harus terkurung di dalam kamar berukuran 3x3 meter dan terbaring di atas kasur seharian. Tapi masih bersyukur, karena ternyata tidak perlu rawat inap di Rumah Sakit, cukup beristirahat di rumah saja. Nah, ternyata betul bahwa "di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya" (sok bijak mode on).
Di dalam situasi boring tingkat tinggi ini, untungnya ada beberapa hal yang bisa sedikit mengurangi rasa bosan tersebut. Iseng-iseng browsing di internet, tanpa sengaja nyasar di sebuah situs entertainmet yang mengulas informasi tentang launching album terbaru dari Sandhy Sondoro, seorang musisi Indonesia yang sukses menembus pasar internasional.
Hidup Sandhy Sondoro selama ini memang sangat kaya pengalaman dan penuh kejutan. Selama lima belas tahun tinggal di Berlin menuntut ilmu ia sempat menekuni berbagai macam profesi. Mulai dari room boy, room service, fast food industry hingga menjadi pengamen. Di pertengahan 2009 ia membuat geger Eropa saat terpilih menjadi juara satu di ajang International Contest of Young Pop Singers NEW WAVE 2009 di Latvia, Eropa Utara.
Di bulan April 2010 ia mendadak diundang khusus oleh hitsmaker dunia, Diane Warren untuk ikut bernyanyi bersama Tony Braxton, Jane Fonda, Gloria Estefan, Eric Benet, LeeAnn Rimes dan sebagainya dalam acara bertajuk 'Dianne Warren and Friends' di Hollywood Palladium, Los Angeles, Amerika Serikat. Semua orang yang hadir di venue legendaris tersebut memberikan standing ovation dan pujian tiada henti kepadanya. Sandhy mendapatkan tepuk tangan dari 1000 penonton saat selesai membawakan lagu 'Time, Love, and Tenderness' ciptaan Dianne Warren.
Awesome!
Dan benar saja, ketika saya mendengarkan lagu-lagu dalam Album Sandhy Sondoro ini, rasa kekaguman muncul seketika, benar-benar musik berkelas dunia. Maka, jadilah lantunan suara khas dari sang musisi Indonesia bertaraf internasional ini menjadi soundtrack dan sekaligus sebagai obat kejenuhan saya selama masa rehat.
Sekarang, saat menulis postingan ini, kalender yang menempel di dinding kamar saya yang sudah kusam menunjukkan tanggal 1 Desember 2010. Yupz, tanggal 1 dab! Hari di mana kebanyakan orang bersuka cita karena hari ini adalah hari gajian sedunia! Tapi bukan itu poin utamanya, melainkan karena ini adalah hari ke 1, 2, 3,.... oh hari ke-6 tepatnya, saya harus terkapar di atas tempat tidur seharian, istilah kerennya bedrest (kedengarannya enak bisa tidur terus-terusan, tapi walah, bosennya luwaaarrr biasa...). Begitulah, beberapa hari ini saya musti istirahat total dikarenakan terkena demam tifoid atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah tifus, yaitu penyakit infeksi yang masuk melalui saluran cerna kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui darah (infeksi sistemik). Tifus disebabkan oleh bakteri yang disebut Salmonella serovarian typhi dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis bakteri Salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu Salmonella serovarian typhi, paratyphi A, paratyphi B, dan paratyphi C. Tapi sudahlah, tidak usah dibahas lebih lanjut, saya juga cuma mengutip informasi tentang tifus tersebut dari beberapa sumber di internet (karena saya bukan dokter!).
Yang jelas, dalam beberapa hari ini saya diharuskan istirahat total dan tidak boleh beraktivitas yang berlebihan, intinya adalah tidur seharian, makan teratur (dan tak melulu harus makan bubur seperti kebanyakan mitos orang bahwa kalau terkena tifus wajib hukumnya untuk makan bubur, ternyata tidak begitu adanya), dan tentu saja minum obat sesuai resep yang diberikan dokter.
Bisa ditebak dengan mudah bahwa dengan hanya melakukan aktivitas (kalau bisa dikategorikan sebagai aktivitas) yang berupa istirahat (tidur) seharian ini akan datang suatu kondisi yang diistilahkan dengan "kejenuhan tingkat tinggi". Yang biasanya beraktivitas mulai dari ngantor, main, wara-wiri ke sana kemari, tiba-tiba harus terkurung di dalam kamar berukuran 3x3 meter dan terbaring di atas kasur seharian. Tapi masih bersyukur, karena ternyata tidak perlu rawat inap di Rumah Sakit, cukup beristirahat di rumah saja. Nah, ternyata betul bahwa "di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya" (sok bijak mode on).
Di dalam situasi boring tingkat tinggi ini, untungnya ada beberapa hal yang bisa sedikit mengurangi rasa bosan tersebut. Iseng-iseng browsing di internet, tanpa sengaja nyasar di sebuah situs entertainmet yang mengulas informasi tentang launching album terbaru dari Sandhy Sondoro, seorang musisi Indonesia yang sukses menembus pasar internasional.
Sandhy Sondoro (lahir di Jakarta, 12 Desember 1973) adalah seorang penyanyi, pencipta lagu dan pemain gitar asal Indonesia yang memulai karier musiknya di Jerman. Sandhy memulai karier musiknya sebagai musisi jalanan di kota Berlin, mengamen di Metro, dan bermain musik dari pub ke pub. Di jalanan Berlin ini pula ia mulai dikenal dan berkenalan dengan sejumlah musisi dan produser. Setelah mengeluarkan album bertitel Why don't We pada 25 April 2008, pada akhirnya karya musiknya mendapat apresiasi positif di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.
Untuk pertama kali sepanjang karirnya di industri musik internasional, penyanyi Sandhy Sondoro akhirnya merilis album penuh self titled, Sandhy Sondoro di bawah bendera Sony Music Entertainment Indonesia. Ini menjadi babak baru bersejarah bagi karir musik singer-songwriter multi-talenta yang sebelumnya hanya terkenal dengan hit fenomenal ”Malam Biru (Kasihku)” di Indonesia.
Album Sandhy Sondoro ini berisi empat belas lagu original yang diciptakan sendiri olehnya selama puluhan tahun tinggal di Berlin, Jerman. Masing-masing lagu di album ini memiliki pesona pop akustik tersendiri, entah itu di kedahsyatan vokal, permainan gitar hingga kedalaman lirik yang ditulis oleh Sandhy. Album Sandhy Sondoro ini merupakan re-release dari album aslinya bertitel Why Don’t We yang direkam dan rilis pertama kali di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya pada bulan April 2008. Dua lagu berbahasa Indonesia di album ini diproduseri Brandon Stone yang berkebangsaan Rusia sementara dua belas lagu lainnya yang berbahasa Inggris diproduseri oleh Guy Sternberg asal Jerman. Lagu-lagu yang ada di album ini sebenarnya telah ia ciptakan lebih dari satu dekade yang lalu. Misalnya lagu I Don’t Know Where dan That’s The Way ditulisnya di tahun 1998 sementara Down on the Street yang terinspirasi saat dirinya mengamen diciptakan sekitar tahun 2002. Sedangkan single pertama album ini “Bunga Mimpi” dan segera menjadi single kedua ”Salamanja” ditulisnya di tahun 2009.
Untuk pertama kali sepanjang karirnya di industri musik internasional, penyanyi Sandhy Sondoro akhirnya merilis album penuh self titled, Sandhy Sondoro di bawah bendera Sony Music Entertainment Indonesia. Ini menjadi babak baru bersejarah bagi karir musik singer-songwriter multi-talenta yang sebelumnya hanya terkenal dengan hit fenomenal ”Malam Biru (Kasihku)” di Indonesia.
Album Sandhy Sondoro ini berisi empat belas lagu original yang diciptakan sendiri olehnya selama puluhan tahun tinggal di Berlin, Jerman. Masing-masing lagu di album ini memiliki pesona pop akustik tersendiri, entah itu di kedahsyatan vokal, permainan gitar hingga kedalaman lirik yang ditulis oleh Sandhy. Album Sandhy Sondoro ini merupakan re-release dari album aslinya bertitel Why Don’t We yang direkam dan rilis pertama kali di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya pada bulan April 2008. Dua lagu berbahasa Indonesia di album ini diproduseri Brandon Stone yang berkebangsaan Rusia sementara dua belas lagu lainnya yang berbahasa Inggris diproduseri oleh Guy Sternberg asal Jerman. Lagu-lagu yang ada di album ini sebenarnya telah ia ciptakan lebih dari satu dekade yang lalu. Misalnya lagu I Don’t Know Where dan That’s The Way ditulisnya di tahun 1998 sementara Down on the Street yang terinspirasi saat dirinya mengamen diciptakan sekitar tahun 2002. Sedangkan single pertama album ini “Bunga Mimpi” dan segera menjadi single kedua ”Salamanja” ditulisnya di tahun 2009.
Hidup Sandhy Sondoro selama ini memang sangat kaya pengalaman dan penuh kejutan. Selama lima belas tahun tinggal di Berlin menuntut ilmu ia sempat menekuni berbagai macam profesi. Mulai dari room boy, room service, fast food industry hingga menjadi pengamen. Di pertengahan 2009 ia membuat geger Eropa saat terpilih menjadi juara satu di ajang International Contest of Young Pop Singers NEW WAVE 2009 di Latvia, Eropa Utara.
Di bulan April 2010 ia mendadak diundang khusus oleh hitsmaker dunia, Diane Warren untuk ikut bernyanyi bersama Tony Braxton, Jane Fonda, Gloria Estefan, Eric Benet, LeeAnn Rimes dan sebagainya dalam acara bertajuk 'Dianne Warren and Friends' di Hollywood Palladium, Los Angeles, Amerika Serikat. Semua orang yang hadir di venue legendaris tersebut memberikan standing ovation dan pujian tiada henti kepadanya. Sandhy mendapatkan tepuk tangan dari 1000 penonton saat selesai membawakan lagu 'Time, Love, and Tenderness' ciptaan Dianne Warren.
Awesome!
Dan benar saja, ketika saya mendengarkan lagu-lagu dalam Album Sandhy Sondoro ini, rasa kekaguman muncul seketika, benar-benar musik berkelas dunia. Maka, jadilah lantunan suara khas dari sang musisi Indonesia bertaraf internasional ini menjadi soundtrack dan sekaligus sebagai obat kejenuhan saya selama masa rehat.
Di tengah keasikan menikmati alunan musik khas Sandhy Sondoro, dan di kala badan sudah berasa pegal-pegal karena berbaring selama berjam-jam lamanya, saya iseng membuka almari dan menemukan sebuah benda yang selama ini terlupakan. Sebuah buku yang sudah saya beli sekitar 5 bulan yang lalu, yang hingga beberapa hari kemarin belum sempat saya baca sama sekali karena terlalu disibukkan oleh berbagai rutinitas pekerjaan. Sebuah buku dwilogi karya dari seorang penulis yang namanya melejit lewat karya fenomenal Tetralogi Laskar Pelangi. Yup, dialah Andrea Hirata, si novelis penghasil tulisan-tulisan berjudul Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Sebuah tetralogi yang begitu memberikan inspirasi bagi kita semua, dan berani keluar dari genre cinta romantis yang sedang menjadi trend saat itu. Kisah Laskar Pelangi ini juga sukses diangkat ke layar lebar melalui film yang bertajuk Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Bahkan, kabar terbaru menyebutkan bahwa ada salah satu produser dari Hollywood yang tertarik untuk membuat ulang film Laskar Pelangi yang dalam versi internasionalnya berjudul The Rainbow Troops ini.
Sebuah dwilogi terbaru karya Andrea Hirata ini berjudul "Padang Bulan" dan "Cinta Dalam Gelas". Dwilogi yang pertama adalah "Padang Bulan", dan saya sungguh merasakan penyesalan saat membaca novel ini! Penyesalan tersebut adalah kenapa saya baru membacanya sekarang?! Padahal jalan ceritanya tak kalah dengan kisah tetralogi Laskar Pelangi. Yah, meskipun itu baru kesimpulan awal saya, karena saya baru membaca sejumlah 18 mozaik (istilah Andrea untuk menyebut Bab) dari total 41 mozaik yang ada dalam dwilogi "Padang Bulan" ini. Tapi dari separuh kisah yang sudah baca tersebut, sungguh menceritakan sesuatu yang saya pikir tak kalah fenomenal dengan Laskar Pelangi. Sebuah kisah yang mengambil latar belakang di bidang pendidikan dan masih juga berlatarkan pulau Belitong (sebagaimana Tetralogi Laskar Pelangi), yang dikemas secara unik dan khas ala Andrea Hirata. Sebuah novel yang inspiratif dan penuh kejutan. Apalagi saat membacanya diiringi dengan kedahsyatan musik dari Sandhy Sondoro, mantap!
Mungkin sekian dulu posting kali ini, berhubung saya harus menaati anjuran dokter yang mengharuskan agar banyak beristirahat. Padahal baru mengetik beberapa paragraf saja, tetapi sudah mulai terasa begitu lelah (ngantuk tenan dab!). Setelah istirahat sejenak mungkin akan saya lanjutkan dengan membaca Mozaik 19 dari Dwilogi "Padang Bulan" - Tahu Apa John Lennon?
*kota gudheg, 1 Desember 2010
Minggu, 21 November 2010
Ketika Garis Batas Toleransi Dilewati
Dari judul di atas pasti sudah bisa ditebak apa yang hendak saya tulis dalam postingan kali ini. Yupz, benar sekali, ini tentang saat-saat ketika garis batas toleransi yang kita berikan dengan seenaknya diterobos oleh orang lain.
Untuk permulaan, mungkin kita bisa memulai dari apa itu yang disebut dengan "toleransi"?
Kalau menurut saya, toleransi adalah suatu sikap yang mengharuskan kita untuk menghormati dan menghargai apa yang dimiliki, dipercayai, diperbuat, maupun diyakini orang lain, selama itu tidak merugikan kepentingan dan merenggut hak-hak yang kita miliki.
Istilah "mentolerir" juga kerap kita dengar diucapkan kebanyakan orang, yaitu membiarkan sesuatu hingga batas-batas yang masih dianggap wajar.
Satu pertanyaan yang ingin saya apungkan di sini adalah, "Bagaimana sikap yang harus kita ambil ketika batas-batas toleransi itu dilanggar dengan seenaknya oleh orang lain?"
Manakala sesuatu milik kita atau bahkan diri kita diusik oleh orang lain, pastilah reaksi yang kita munculkan adalah tidak terima terhadap hal tersebut. Reaksi tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk, antara lain peringatan secara halus, protes, nggrundel di dalam hati, konfrontasi langsung, atau bahkan kontak fisik pun bisa saja terjadi. Itu semua sangat bergantung pada sejauh mana batas toleransi itu dilanggar, siapa atau posisi pihak yang melanggar batas tersebut, serta kemampuan kita dalam menahan diri dalam bereaksi.
Reaksi tersebut akan sangat bervariasi adanya, sebagai contoh, apabila ada dua orang yang melanggar batas-batas-batas toleransi dalam kadar yang sama, akan tetapi yang satu adalah orang yang selevel dengan kita, dibandingkan dengan bila yang melakukannya adalah orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi, tentunya akan berbeda pula reaksi yang kita munculkan terhadap keduanya. Terhadap orang yang selevel, biasanya kita akan langsung protes atau bahkan langsung kita ajak berkonfrontasi. Lain halnya terhadap orang yang berkedudukan lebih tinggi dari kita, reaksi yang kita lakukan mungkin hanya berupa memperingatkan secara halus, atau bahkan hanya berupa berkeluh kesah kepada kawan untuk sekedar berbagi melepaskan uneg-uneg tanpa berani protes langsung kepada yang bersangkutan.
Sejauh mana sebuah garis batas toleransi dilanggar tentunya juga akan mempengaruhi reaksi yang timbul. Jika menurut kita kadarnya masih biasa-biasa saja, mungkin kita hanya akan bereaksi dengan menegurnya secara baik-baik. Lain halnya ketika kadarnya sudah sangat jauh melewati batas, tak ayal reaksi yang kemungkinan besar timbul adalah mendebat orang tersebut habis-habisan, cek-cok mulut, bahkan adu jotos pun bisa saja tak terhindarkan.
Kemampuan kita dalam mengendalikan diri (emosi) juga akan sangat berpengaruh pada reaksi yang timbul saat batas toleransi kita diinjak-injak orang lain. Orang yang berwatak sabar dan mampu mengendalikan emosi dengan baik tentunya akan bersikap lebih kalem dalam menanggapi suatu pelanggaran terhadap batas teritorial toleransinya. Hal ini tentu akan bertolak belakang terhadap mereka yang cenderung memiliki sifat temperamental, yang susah mengendalikan emosinya, reaksi yang muncul dari mereka dapat ditebak dengan mudah. Yah, pastilah mereka akan langsung naik pitam tatkala merasa batas-batasnya diinfiltrasi pihak lain. Reaksi yang muncul bisa berupa caci maki, yang kemungkinan besar akan berujung pada kontak fisik dengan pihak yang dianggap melanggar kepentingan dan privasinya.
Sejauh mana sebuah garis batas toleransi dilanggar tentunya juga akan mempengaruhi reaksi yang timbul. Jika menurut kita kadarnya masih biasa-biasa saja, mungkin kita hanya akan bereaksi dengan menegurnya secara baik-baik. Lain halnya ketika kadarnya sudah sangat jauh melewati batas, tak ayal reaksi yang kemungkinan besar timbul adalah mendebat orang tersebut habis-habisan, cek-cok mulut, bahkan adu jotos pun bisa saja tak terhindarkan.
Kemampuan kita dalam mengendalikan diri (emosi) juga akan sangat berpengaruh pada reaksi yang timbul saat batas toleransi kita diinjak-injak orang lain. Orang yang berwatak sabar dan mampu mengendalikan emosi dengan baik tentunya akan bersikap lebih kalem dalam menanggapi suatu pelanggaran terhadap batas teritorial toleransinya. Hal ini tentu akan bertolak belakang terhadap mereka yang cenderung memiliki sifat temperamental, yang susah mengendalikan emosinya, reaksi yang muncul dari mereka dapat ditebak dengan mudah. Yah, pastilah mereka akan langsung naik pitam tatkala merasa batas-batasnya diinfiltrasi pihak lain. Reaksi yang muncul bisa berupa caci maki, yang kemungkinan besar akan berujung pada kontak fisik dengan pihak yang dianggap melanggar kepentingan dan privasinya.
Sikap apapun yang hendak diambil sebagai reaksi dari terlewatinya suatu garis batas toleransi, sangat bergantung pada diri kita masing-masing. Apakah akan langsung mengajak debat orang tersebut, membiarkannya saja, atau malah langsung memberikan bogem mentah ke wajah orang tersebut??
Well, bersikaplah bijak dalam menghadapi segala sesuatu.
Namun, ada kalanya kita sampai pada titik yang sering diistilahkan dengan "Kesabaran itu ada batasnya!"
Namun, ada kalanya kita sampai pada titik yang sering diistilahkan dengan "Kesabaran itu ada batasnya!"
Dan saat kita sudah mencapai level itu, siap-siap saja bagi mereka yang berani mengusik kita untuk mendapatkan umpatan dikombinasikan dengan jab dan uppercut, serta tendangan kungfu dari kita!
*Kota Gudheg, 21 November 2010*
Kamis, 11 November 2010
Inilah Pidato Obama di Kampus UI Depok
Terima kasih atas sambutan yang hangat ini. Terima kasih kepada semua penduduk Jakarta. Dan terima kasih bagi seluruh bangsa Indonesia.
Saya senang akhirnya bisa berkunjung ke negeri ini dengan ditemani oleh Michelle. Tahun ini, kami telah dua kali gagal datang ke Indonesia. Namun, saya berkeras untuk menyambangi sebuah negeri yang amat bermakna bagi saya ini. Sayangnya, lawatan ini begitu singkat. Tapi saya berharap bisa datang lagi tahun depan pada saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur.
Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa doa dan perhatian kami tertuju kepada para korban bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini, khususnya bagi mereka yang kehilangan orang tercinta serta tempat tinggal. Amerika Serikat senantiasa ada di sisi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam ini, dan kami akan dengan senang hati menolong semampunya. Sebagaimana tetangga yang mengulurkan tangan kepada tetangganya yang lain, dan banyak keluarga menampung orang-orang yang kehilangan rumah, saya tahu bahwa kekuatan dan ketahanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan sanggup mengangkat kalian keluar dari kesusahan ini.
Saya akan memulai dengan pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. Pertama kali saya bersentuhan dengan negeri ini adalah ketika ibu saya menikahi seorang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Sebagai seorang bocah, saya terdampar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa berada di rumah saya sendiri.
Pada masa itu, Jakarta terlihat begitu berbeda. Kota ini disesaki gedung-gedung yang tak begitu tinggi. Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tinggi. Kala itu, ada sebuah pusat perbelanjaan baru bernama Sarinah. Jumlah becak jauh lebih banyak daripada kendaraan bermotor. Dan jalan raya tersisih oleh jalan-jalan kampung tak beraspal.
Kami tinggal di Menteng Dalam, pada sebuah rumah mungil yang halamannya ditumbuhi sebatang pohon mangga. Saya belajar mencintai Indonesia pada saat menerbangkan layang-layang, berlarian di sepanjang pematang sawah, menangkap capung, dan jajan sate atau bakso dari pedagang keliling. Yang paling saya kenangkan adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-guru yang mengajarkan keluasan dunia.
Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, dan orang-orang dari berbagai daerah dan suku, periode saya tinggal di negeri ini melapangkan jalan bagi saya menghargai kemanusiaan. Walau ayah tiri saya, sebagaimana orang Indonesia umumnya, dibesarkan sebagai seorang Muslim, ia sepenuhnya percaya bahwa semua agama patut dihargai secara setara. Dengan cara itu, ia mencerminkan semangat toleransi keberagamaan yang diabadikan dalam Undang-undang Dasar Indonesia yang tetap menjadi salah satu ciri negeri ini, yang tentunya memberi inspirasi.
Saya tinggal di kota ini selama bertahun-tahun -- sungguh suatu masa yang membentuk masa kecil saya; suatu masa yang menjadi saksi bagi kelahiran adik saya yang manis, Maya; dan suatu masa yang telah memesona ibu saya sehingga ia terus-menerus menghampiri Indonesia 20 tahun kemudian untuk tinggal, bekerja dan bepergian - mengejar hasratnya mendorong terbukanya kesempatan di pedesaan Indonesia khususnya bagi perempuan. Sepanjang hidupnya, negeri ini, beserta orang-orangnya, tetap tersimpan di hati ibu saya.
Begitu banyak yang berubah dalam empat dekade ini sejak saya kembali ke Hawaii. Jika kalian bertanya kepada saya - atau teman sekolah pada masa itu yang mengenal saya - saya yakin tak ada di antara kami yang mampu menyangka bahwa saya akan kembali ke negeri ini sebagai Presiden Amerika Serikat. Dan beberapa orang semestinya bisa meramalkan kisah luar biasa yang melibatkan Indonesia dalam empat dekade terakhir.
Jakarta yang dahulu saya kenal kini telah berkembang menjadi sebuah kota yang dijejali hampir sepuluh juta manusia, gedung-gedung pencakar langit yang membuat Hotel Indonesia terlihat kerdil, serta pusat-pusat kebudayaan dan perdagangan. Dulu saya dan kawan-kawan semasa kanak biasa berkejar-kejaran di lapangan ditemani kerbau dan kambing. Kini, generasi baru Indonesia termasuk dalam golongan paling terhubung dalam jagat komunikasi dunia melalui telepon genggam dan media sosial. Dulu, Indonesia sebagai bangsa yang masih muda berfokus ke dalam. Kini, bangsa ini memainkan peran penting di kawasan Asia-Pasifik dan ekonomi global.
Perubahan ini menjangkau ranah politik. Waktu ayah tiri saya masih kanak, ia menyaksikan ayah dan abangnya pergi berperang dan tewas demi kemerdekaan Indonesia. Saya lega bisa ada di sini tepat ketika Hari Pahlawan untuk mengingat jasa begitu banyak orang Indonesia yang rela berkorban demi negara yang besar ini.
Ketika saya pindah ke Jakarta pada tahun 1967, beberapa daerah di negeri ini baru saja mengalami penderitaan dan konflik yang hebat. Meski ayah tiri saya pernah menjadi seorang tentara, kekerasan dan pembantaian yang terjadi pada masa kekisruhan politik itu tak dapat saya pahami karena keluarga Indonesia dan teman-teman saya memilih bungkam. Di dalam rumah tangga saya, seperti keluarga Indonesia umumnya, peristiwa itu hadir secara sembunyi-sembunyi. Bangsa Indonesia merdeka, tapi rasa takut senantiasa mengikuti.
Pada masa-masa sesudahnya, Indonesia memilih jalurnya sendiri melalui tranformasi demokratis yang luar biasa - dari pemerintahan tangan besi, ke pemerintahan rakyat. Tahun-tahun belakangan, dunia menyaksikan dengan harapan dan rasa kagum usaha bangsa Indonesia merengkuh peralihan kekuasaan dengan jalan damai dan pemilihan kepala negara serta daerah secara langsung. Ketika demokrasi di negeri ini disimbolkan oleh terpilihnya Presiden dan wakil rakyat, ketika itu pula demokrasi dijalankan dan dipelihara melalui kontrol dan keseimbangan (check dan balance): Sebuah masyarakat madani, partai dan serikat politik yang madani; media dan warga negara penuh semangat yang telah yakin bahwa - di dalam Indonesia - tak ada lagi jalan memutar.
Bahkan ketika tanah tempat kemudaan saya pernah berlalu ini telah berubah banyak, hal-hal yang pernah saya pelajari untuk mencintai Indonesia - semangat toleransi yang tercantum dalam Undang-undang Dasar dan terpacak melalui masjid, gereja dan candi, pun tertanam dalam darah bangsa - masih mengalir di tubuh saya. Bhinneka Tunggal Ika - persatuan dalam keragaman. Falsafah itu merupakan pondasi yang dicontohkan Indonesia kepada dunia. Itu sebabnya Indonesia akan memainkan peran penting pada abad ke-21.
Hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai seorang sahabat sekaligus Presiden yang mengharapkan terjalinnya kerja sama erat antar kedua negara. Sebagai negara yang luas dan majemuk, berdamping-dampingan dengan Samudera Pasifik dan, di atas itu semua, demokrasi, Amerika Serikat dan Indonesia ditakdirkan bersama oleh kepentingan dan nilai-nilai yang sama.
Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya menyetujui Kerja Sama Komprehensif yang baru antara Amerika Serikat dan Indonesia. Pemerintahan kedua negara mempererat hubungan di berbagai bidang dan, yang juga penting, memperkuat hubungan antar bangsa. Kerja sama ini tentunya berdasar atas rasa saling membutuhkan dan saling menghormati.
Dengan sisa waktu yang saya miliki hari ini, saya ingin berbagi tentang mengapa kisah yang baru saja saya utarakan begitu penting bagi Amerika Serikat dan dunia. Saya ingin menitikberatkan pembahasan pada tiga hal yang saling berkait-erat serta mendasar bagi kemajuan manusia: Pembangunan, demokrasi dan agama.
Pertama, persahabatan yang terjalin antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat memajukan pembangunan yang saling menguntungkan.
Ketika saya hidup di Indonesia, sulit membayangkan sebuah masa depan dimana kemakmuran yang dirasakan oleh banyak keluarga di Chicago dan Jakarta akan berhubungan. Kini, kita ada pada zaman ekonomi global. Bangsa Indonesia telah merasakan risiko dan harapan dari globalisasi: Mulai dari krisis ekonomi Asia yang terjadi pada akhir tahun 1990, dan jutaan orang yang berhasil bangkit dari kemiskinan. Artinya, dan yang akhirnya kita pelajari dari krisis ekonomi barusan, masing-masing dari kita memiliki sumbangsih pada keberhasilan yang diraih pihak lain.
Amerika memiliki sumbangsih terhadap sebagian dari Indonesia yang merasakan kemakmuran, karena tumbuhnya kelas menengah di sini juga berarti timbulnya pasar bagi produk-produk kami seperti juga Amerika merupakan pasar bagi Indonesia. Karena itu, kami menanamkan modal lebih banyak di Indonesia. Ekspor dari Amerika telah naik 50 persen, dan kami membuka pintu bagi pengusaha Amerika dan Indonesia untuk saling berhubungan.
Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia, yang memainkan peranannya dalam perekonomian global. Hari-hari ketika tujuh atau delapan negara membentuk kelompok dan menentukan arah perekonomian dunia telah berlalu. Karena itulah saat ini G-20 telah menjadi pusat kerja sama ekonomi internasional: Hal yang memungkinkan negeri seperti Indonesia memiliki suara lebih nyaring dan tanggung jawab lebih besar. Melalui kepemimpinan Indonesia di dalam kelompok G-20 yang memerangi korupsi, negeri ini harus ada di depan pada panggung dunia dengan memberikan contoh baik dalam mempraktikkan transparansi dan akuntabilitas.
Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia yang mengejar pembangunan berkelanjutan. Karena cara kita bertumbuh akan mempengaruhi kualitas hidup kita serta kesejahteraan planet yang kita diami. Karena itulah kita mengembangkan teknologi untuk menghasilkan energi bersih yang mampu menopang industri dan menjaga sumber daya alam Indonesia. Amerika menyambut kepemimpinan negeri anda dalam usaha global memerangi perubahan iklim.
Di atas itu semua, Amerika memiliki sumbangsih terhadap keberhasilan manusia Indonesia. Kita harus membangun jembatan yang menghubungkan kedua bangsa karena kita akan berbagi jaminan dan kemakmuran di masa nanti. Itu yang kini sedang kita rintis: Meningkatkan kolaborasi antara ilmuwan dan peneliti kita serta bekerja sama memelihara kewirausahaan. Saya pribadi puas karena kita berhasil meningkatkan jumlah pelajar Amerika dan Indonesia yang meneruskan pendidikan di universitas-universitas yang ada pada kedua negara.
Baru saja saya bicarakan masalah-masalah penting dalam kehidupan kita. Lagipula, pembangunan tak melulu hanya berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan angka-angka dalam neraca. Pembangunan juga menyangkut bagaimana seorang anak mampu mempelajari keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi dunia yang selalu berubah. Pembangunan berkaitan dengan bagaimana gagasan baik dapat diwujudkan dan tak tercemar dengan korupsi. Pembangunan juga berhubungan dengan bagaiman kekuatan-kekuatan yang telah mengubah Jakarta yang pernah saya kenal - teknologi, perdagangan, arus keluar-masuk orang dan barang - mampu membuat hidup orang jadi lebih baik: Kehidupan uang ditandai dengan martabat dan kesempatan.
Pembangunan semacam itu tak mampu dipisahkan dari demokrasi.
Kini, kita sering mendengar bahwa demokrasi menghalangi pertumbuhan ekonomi. Ini bukanlah alasan baru. Orang akan berkata, khususnya di tengah perubahan dan kondisi ekonomi tak menentu, bahwa pembangunan akan lebih mudah dijalankan dengan mengorbankan hak asasi manusia. Tapi, saya tak melihat itu di India, juga Indonesia. Apa yang kalian telah raih menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan saling menopang.
Seperti laiknya demokrasi di negara lain, halangan selalu merintangi. Amerika juga mengalaminya. Undang-undang Dasar yang kami miliki menyatakan upaya untuk menempa "penyatuan lebih sempurna." Kami telah menempuh perjalanan untuk meraih itu. Kami melewati Perang Saudara dan berjuang menegakkan hak-hak pribadi warga negara Amerika Serikat. Usaha itu kemudian membuat kami lebih kuat dan sejahtera serta menjadi sebuah masyarakat yang lebih adil dan bebas.
Seperti negara lain yang bangkit dari pemerintahan kolonial di abad lalu, Indonesia berjuang dan berkorban demi memiliki hak menentukan nasib sendiri. Itulah makna Hari Pahlawan sesungguhnya: Sebuah Indonesia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Tapi, secara bersamaan, kemerdekaan yang telah didapatkan itu tak pula berarti menggantikan kekuatan kolonial dengan kekuatan pemerintahan lokal.
Tentunya, demokrasi morat-marit. Tak semua pihak menyukai hasil akhir suatu pemilihan umum. Kalian semua mengalami segala suka dan duka. Namun, perjalanan itu patut dilewati karena tak hanya melulu mengenai surat suara. Butuh lembaga yang kuat untuk mengontrol pemusatan kekuatan. Butuh pasar terbuka untuk memungkinkan banyak individu maju. Butuh pers dan sistem peradilan yang independen. Butuh masyarakat terbuka dan warga negara yang aktif untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan.
Yang demikian adalah kekuatan yang akan mendorong Indonesia. Korupsi harus dilawan. Komitmen pada keterbukaan, yang memungkinkan tiap warga memiliki sumbangsih terhadap pemerintahannya, mesti ada. Kepercayaan bahwa kemerdekaan yang telah direbut merupakan hal yang tetap menyatukan negeri ini harus ditumbuhkan.
Itu adalah pesan dari manusia Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis ini: Dari mereka yang berperang di Surabaya 55 tahun lampau; kepada para mahasiswa yang tergabung dalam demonstrasi tahun 1990an; kepada para pemimpin yang telah berhasil menjalani transisi kekuasaan secara damai pada awal abad ini. Karena, akhirnya, para warga negara memiliki hak untuk menyatukan Nusantara, yang membentang sepanjang Sabang dan Merauke: Sebuah penegasan bahwa setiap bayi yang lahir di negeri ini wajib diperlakukan dengan adil meski mereka berketurunan Jawa, Aceh, Bali atau Papua.
Upaya-upaya semacam itu ditunjukkan Indonesia kepada dunia. Negeri ini berinisiatif membentuk Forum Demokrasi Bali, sebuah forum bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman dalam menjaga demokrasi. Indonesia juga telah berusaha menekan ASEAN memperhatikan hak asasi manusia. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara berhak menentukan takdirnya sendiri dan Amerika Serikat akan mendukung upaya itu. Namun, warga Asia Tenggara harus pula memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri. Itu sebabnya kami mengutuk pemilihan umum di Burma, yang jauh dari kebebasan maupun keadilan. Itu sebabnya kami menyokong masyarakat madani yang penuh semangat di negeri ini. Tidak ada alasan untuk mencegah penegakan hak asasi manusia di manapun.
Itulah pembangunan dan demokrasi - gagasan bahwa ada nilai-nilai yang sifatnya universal. Kemakmuran tanpa kemerdekaan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Manusia memiliki cita-cita bersama: Kebebasan untuk tahu bahwa pemimpinmu bertanggung jawab atasmu dan bahwa anda takkan dibui bila memiliki pandangan yang berseberangan dengannya. Anda memiliki kesempatan belajar dan bekerja dengan kemuliaan. Anda bebas menjalankan kepercayaan yang anda anut tanpa takut dikucilkan.
Agama merupakan topik terakhir yang akan saya bicarakan hari ini dan, seperti layaknya demokrasi dan pembangunan, merupakan hal mendasar bagi kisah Indonesia.
Seperti negara Asia lain yang saya kunjungi, Indonesia tenggelam dalam spiritualitas: Sebuah tempat manusia menyembah Tuhan dengan berbagai cara. Sejalan dengan keberagamannya, Indonesia juga negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia - hal yang telah saya ketahui sejak kecil ketika mendengar lantunan azan di Jakarta.
Suatu Individu tak hanya didefinisikan berdasarkan kepercayaannya. Begitu pula Indonesia. Negeri ini tidak hanya ditetapkan berdasarkan penduduk Muslimnya. Kita juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam telah lama rusak. Sebagai Presiden, saya mendahulukan perbaikan atas hubungan yang rusak ini. Salah satu upaya itu adalah kunjungan ke Kairo pada bulan Juni yang lalu dan keinginan untuk memulai lagi hubungan yang baru antara Amerika Serikat dan umat Islam sedunia.
Waktu itu saya bilang, dan akan saya ulangi sekarang, bahwa tak ada satu pidato pun yang dapat menghapuskan tahun-tahun penuh ketidakpercayaan. Tapi waktu itu saya percaya, demikian pula sekarang, bahwa kita punya pilihan. Kita bisa memilih untuk bisa menetapkan diri kita berdasarkan perbedaan-perbedaan yang kita miliki dan menyerah pada masa depan yang penuh kecurigaan dan ketidakpercayaan. Atau kita bisa memilih untuk bekerja keras demi memelihara persamaan hak. Saya berjanji, apapun rintangannya, Amerika Serikat akan berkomitmen memajukan manusia. Itulah kami. Kami telah melakukannya. Kami akan terus menjalankannya.
Kami tahu baik masalah-masalah yang menyebabkan adanya tekanan bertahun-tahun ini. Kami telah menciptakan kemajuan setelah 17 bulan pemerintahan. Tapi, pekerjaan belum selesai.
Banyak warga tak berdosa di Amerika, Indonesia dan belahan dunia lainnya masih menjadi target kaum ekstremis. Saya telah menegaskan bahwa Amerika tidak sedang memerangi, dan takkan terlibat perang dengan, Islam. Namun, kita semua harus menghancurkan Al-Qaeda dan antek-anteknya. Siapapun yang ingin membangun tak boleh bekerja sama dengan teroris. Ini bukanlah tugas Amerika sendiri. Indonesia telah berhasil memerangi para teroris dan aliran garis keras.
Di Afghanistan, kami terus bekerja bersama beberapa negara untuk membantu pemerintah Afghanistan meretas masa depannya. Kepentingan kami di sana adalah memungkinkan terwujudnya perdamaian yang pada akhirnya mampu memunculkan harapan bagi negeri itu.
Kami juga telah mencatat kemajuan dalam salah satu komitmen utama kami: Upaya mengakhiri perang di Irak. 100 ribu tentara Amerika telah meninggalkan negeri itu. Penduduk Irak telah memiliki tanggung jawab penuh atas keamanan mereka. Kami terus mendukung Irak dalam prosesnya membentuk pemerintahan yang inklusif. Kami juga akan memulangkan seluruh tentara AS.
Di Timur Tengah, kami telah menghadapi permulaan yang gagal serta halangan. Namun, kami juga terus menjaga upaya merengkuh perdamaian. Bangsa Israel dan Palestina memulai kembali perundingan. Namun, masih ada masalah besar di sana. Ilusi bahwa kedamaian dan keamanan akan datang dengan mudah tak boleh muncul. Tapi, singkirkanlah keragu-raguan: Kami takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh hasil yang adil bagi semua pihak yang bertikai: Dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan secara damai dan sentosa.
Penyelesaian atas masalah-masalah itu memiliki taruhan yang besar. Dunia yang kita huni telah menjadi kian kecil. Sementara kekuatan-kekuatan yang menghubungkan kita membuka kesempatan, kekuatan-kekuatan itu juga menyokong pihak yang ingin menghambat kemajuan. Sebuah bom di tengah pasar melumpuhkan kegiatan jual-beli. Sepotong gosip dapat mengaburkan kebenaran dan memicu kekerasan di tengah masyarakat yang sebelumnya hidup rukun. Di zaman ini, ketika perubahan begitu cepat dan berbagai budaya berbenturan, apa yang kita bagikan sebagai manusia dapat musnah.
Saya percaya bahwa sejarah Indonesia dan Amerika mampu memberikan kita harapan. Kisah keduanya tertulis dalam semboyan yang dimiliki oleh negara kita masing-masing. E pluribus unum - beragam tapi bersatu. Bhinneka Tunggal Ika - persatuan dalam keberagaman. Kita dua bangsa yang mengambil jalan masing-masing. Namun kedua negara ini menunjukkan bahwa ratusan juta orang yang memiliki kepercayaan berbeda mampu bersatu dengan merdeka di bawah satu bendera. Dan kita sekarang membangun kemanusiaan melalui anak-anak muda yang akan melalui pendidikan di sekolah masing-masing; melalui wirausahawan yang saling berhubungan demi meraih kemakmuran; dan melalui upaya kita memeluk nilai-nilai demokrasi serta cita-cita manusiawi.
Tadi saya mampir ke Masjid Istiqlal. Rumah ibadah itu masih dalam pengerjaan ketika saya tinggal di Jakarta. Saya mengagumi menaranya yang menjulang, kubah yang megah, serta tempatnya yang lapang. Namun, nama serta sejarahnya juga menjadi saksi kebesaran Indonesia. Istiqlal maknanya kemerdekaan. Bangunan itu sebagiannya merupakan wasiat perjuangan sebuah bangsa menuju kemerdekaan. Terlebih lagi, masjid itu dibangun oleh seorang arsitek Kristen.
Itulah semangat Indonesia. Itulah pesan yang diimbuhkan dalam Pancasila. Di sebuah negeri kepulauan yang berisi beberapa ciptaan Tuhan yang paling elok, pulau-pulau yang menyembul dari samudera, orang bebas memilih Tuhan yang ingin mereka sembah. Islam berkembang, begitu pula ajaran lain. Pembangunan diperkuat oleh demokrasi yang sedang berkembang. Tradisi purba terpelihara meski sebuah kekuatan sedang lahir.
Tapi bukan berarti Indonesia negeri sempurna. Tak ada satu negeri pun yang bisa. Tapi di sini ras, wilayah, dan agama yang berbeda mampu dijembatani. Sebagai seorang bocah yang berasal dari suatu ras dan datang dari sebuah negeri yang jauh, saya menemukan semangat untuk melihat diri sebagai seorang individu dalam ucapan "Selamat Datang". Sebagai seorang pemeluk Kristiani yang mengunjungi masjid, saya mengutip pendapat seseorang yang ditanyai tentang kunjungan saya: "Orang Islam juga boleh masuk gereja. Kita semua adalah umat Tuhan."
Ungkapan itu mencetuskan gagasan bahwa sifat ketuhanan ada di dalam diri kita. Kita tak boleh menyerah pada penyangkalan atau sinisisme atau keputusasaan. Kisah yang melibatkan Indonesia dan Amerika menunjukkan kepada kita bahwa sejarah mengikuti perkembangan manusia; bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan; dan bahwa warga dunia dapat hidup dengan damai. Semoga kedua negeri kita dapat terus bekerja sama, dengan kepercayaan dan determinasi, menyebarkan kebenaran-kebenaran ini dengan seluruh manusia.
Saya senang akhirnya bisa berkunjung ke negeri ini dengan ditemani oleh Michelle. Tahun ini, kami telah dua kali gagal datang ke Indonesia. Namun, saya berkeras untuk menyambangi sebuah negeri yang amat bermakna bagi saya ini. Sayangnya, lawatan ini begitu singkat. Tapi saya berharap bisa datang lagi tahun depan pada saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT Asia Timur.
Sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa doa dan perhatian kami tertuju kepada para korban bencana tsunami dan gunung meletus baru-baru ini, khususnya bagi mereka yang kehilangan orang tercinta serta tempat tinggal. Amerika Serikat senantiasa ada di sisi pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam ini, dan kami akan dengan senang hati menolong semampunya. Sebagaimana tetangga yang mengulurkan tangan kepada tetangganya yang lain, dan banyak keluarga menampung orang-orang yang kehilangan rumah, saya tahu bahwa kekuatan dan ketahanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan sanggup mengangkat kalian keluar dari kesusahan ini.
Saya akan memulai dengan pernyataan sederhana: Indonesia bagian dari diri saya. Pertama kali saya bersentuhan dengan negeri ini adalah ketika ibu saya menikahi seorang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Sebagai seorang bocah, saya terdampar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa berada di rumah saya sendiri.
Pada masa itu, Jakarta terlihat begitu berbeda. Kota ini disesaki gedung-gedung yang tak begitu tinggi. Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tinggi. Kala itu, ada sebuah pusat perbelanjaan baru bernama Sarinah. Jumlah becak jauh lebih banyak daripada kendaraan bermotor. Dan jalan raya tersisih oleh jalan-jalan kampung tak beraspal.
Kami tinggal di Menteng Dalam, pada sebuah rumah mungil yang halamannya ditumbuhi sebatang pohon mangga. Saya belajar mencintai Indonesia pada saat menerbangkan layang-layang, berlarian di sepanjang pematang sawah, menangkap capung, dan jajan sate atau bakso dari pedagang keliling. Yang paling saya kenangkan adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga; dan guru-guru yang mengajarkan keluasan dunia.
Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, dan orang-orang dari berbagai daerah dan suku, periode saya tinggal di negeri ini melapangkan jalan bagi saya menghargai kemanusiaan. Walau ayah tiri saya, sebagaimana orang Indonesia umumnya, dibesarkan sebagai seorang Muslim, ia sepenuhnya percaya bahwa semua agama patut dihargai secara setara. Dengan cara itu, ia mencerminkan semangat toleransi keberagamaan yang diabadikan dalam Undang-undang Dasar Indonesia yang tetap menjadi salah satu ciri negeri ini, yang tentunya memberi inspirasi.
Saya tinggal di kota ini selama bertahun-tahun -- sungguh suatu masa yang membentuk masa kecil saya; suatu masa yang menjadi saksi bagi kelahiran adik saya yang manis, Maya; dan suatu masa yang telah memesona ibu saya sehingga ia terus-menerus menghampiri Indonesia 20 tahun kemudian untuk tinggal, bekerja dan bepergian - mengejar hasratnya mendorong terbukanya kesempatan di pedesaan Indonesia khususnya bagi perempuan. Sepanjang hidupnya, negeri ini, beserta orang-orangnya, tetap tersimpan di hati ibu saya.
Begitu banyak yang berubah dalam empat dekade ini sejak saya kembali ke Hawaii. Jika kalian bertanya kepada saya - atau teman sekolah pada masa itu yang mengenal saya - saya yakin tak ada di antara kami yang mampu menyangka bahwa saya akan kembali ke negeri ini sebagai Presiden Amerika Serikat. Dan beberapa orang semestinya bisa meramalkan kisah luar biasa yang melibatkan Indonesia dalam empat dekade terakhir.
Jakarta yang dahulu saya kenal kini telah berkembang menjadi sebuah kota yang dijejali hampir sepuluh juta manusia, gedung-gedung pencakar langit yang membuat Hotel Indonesia terlihat kerdil, serta pusat-pusat kebudayaan dan perdagangan. Dulu saya dan kawan-kawan semasa kanak biasa berkejar-kejaran di lapangan ditemani kerbau dan kambing. Kini, generasi baru Indonesia termasuk dalam golongan paling terhubung dalam jagat komunikasi dunia melalui telepon genggam dan media sosial. Dulu, Indonesia sebagai bangsa yang masih muda berfokus ke dalam. Kini, bangsa ini memainkan peran penting di kawasan Asia-Pasifik dan ekonomi global.
Perubahan ini menjangkau ranah politik. Waktu ayah tiri saya masih kanak, ia menyaksikan ayah dan abangnya pergi berperang dan tewas demi kemerdekaan Indonesia. Saya lega bisa ada di sini tepat ketika Hari Pahlawan untuk mengingat jasa begitu banyak orang Indonesia yang rela berkorban demi negara yang besar ini.
Ketika saya pindah ke Jakarta pada tahun 1967, beberapa daerah di negeri ini baru saja mengalami penderitaan dan konflik yang hebat. Meski ayah tiri saya pernah menjadi seorang tentara, kekerasan dan pembantaian yang terjadi pada masa kekisruhan politik itu tak dapat saya pahami karena keluarga Indonesia dan teman-teman saya memilih bungkam. Di dalam rumah tangga saya, seperti keluarga Indonesia umumnya, peristiwa itu hadir secara sembunyi-sembunyi. Bangsa Indonesia merdeka, tapi rasa takut senantiasa mengikuti.
Pada masa-masa sesudahnya, Indonesia memilih jalurnya sendiri melalui tranformasi demokratis yang luar biasa - dari pemerintahan tangan besi, ke pemerintahan rakyat. Tahun-tahun belakangan, dunia menyaksikan dengan harapan dan rasa kagum usaha bangsa Indonesia merengkuh peralihan kekuasaan dengan jalan damai dan pemilihan kepala negara serta daerah secara langsung. Ketika demokrasi di negeri ini disimbolkan oleh terpilihnya Presiden dan wakil rakyat, ketika itu pula demokrasi dijalankan dan dipelihara melalui kontrol dan keseimbangan (check dan balance): Sebuah masyarakat madani, partai dan serikat politik yang madani; media dan warga negara penuh semangat yang telah yakin bahwa - di dalam Indonesia - tak ada lagi jalan memutar.
Bahkan ketika tanah tempat kemudaan saya pernah berlalu ini telah berubah banyak, hal-hal yang pernah saya pelajari untuk mencintai Indonesia - semangat toleransi yang tercantum dalam Undang-undang Dasar dan terpacak melalui masjid, gereja dan candi, pun tertanam dalam darah bangsa - masih mengalir di tubuh saya. Bhinneka Tunggal Ika - persatuan dalam keragaman. Falsafah itu merupakan pondasi yang dicontohkan Indonesia kepada dunia. Itu sebabnya Indonesia akan memainkan peran penting pada abad ke-21.
Hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai seorang sahabat sekaligus Presiden yang mengharapkan terjalinnya kerja sama erat antar kedua negara. Sebagai negara yang luas dan majemuk, berdamping-dampingan dengan Samudera Pasifik dan, di atas itu semua, demokrasi, Amerika Serikat dan Indonesia ditakdirkan bersama oleh kepentingan dan nilai-nilai yang sama.
Kemarin, Presiden Yudhoyono dan saya menyetujui Kerja Sama Komprehensif yang baru antara Amerika Serikat dan Indonesia. Pemerintahan kedua negara mempererat hubungan di berbagai bidang dan, yang juga penting, memperkuat hubungan antar bangsa. Kerja sama ini tentunya berdasar atas rasa saling membutuhkan dan saling menghormati.
Dengan sisa waktu yang saya miliki hari ini, saya ingin berbagi tentang mengapa kisah yang baru saja saya utarakan begitu penting bagi Amerika Serikat dan dunia. Saya ingin menitikberatkan pembahasan pada tiga hal yang saling berkait-erat serta mendasar bagi kemajuan manusia: Pembangunan, demokrasi dan agama.
Pertama, persahabatan yang terjalin antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat memajukan pembangunan yang saling menguntungkan.
Ketika saya hidup di Indonesia, sulit membayangkan sebuah masa depan dimana kemakmuran yang dirasakan oleh banyak keluarga di Chicago dan Jakarta akan berhubungan. Kini, kita ada pada zaman ekonomi global. Bangsa Indonesia telah merasakan risiko dan harapan dari globalisasi: Mulai dari krisis ekonomi Asia yang terjadi pada akhir tahun 1990, dan jutaan orang yang berhasil bangkit dari kemiskinan. Artinya, dan yang akhirnya kita pelajari dari krisis ekonomi barusan, masing-masing dari kita memiliki sumbangsih pada keberhasilan yang diraih pihak lain.
Amerika memiliki sumbangsih terhadap sebagian dari Indonesia yang merasakan kemakmuran, karena tumbuhnya kelas menengah di sini juga berarti timbulnya pasar bagi produk-produk kami seperti juga Amerika merupakan pasar bagi Indonesia. Karena itu, kami menanamkan modal lebih banyak di Indonesia. Ekspor dari Amerika telah naik 50 persen, dan kami membuka pintu bagi pengusaha Amerika dan Indonesia untuk saling berhubungan.
Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia, yang memainkan peranannya dalam perekonomian global. Hari-hari ketika tujuh atau delapan negara membentuk kelompok dan menentukan arah perekonomian dunia telah berlalu. Karena itulah saat ini G-20 telah menjadi pusat kerja sama ekonomi internasional: Hal yang memungkinkan negeri seperti Indonesia memiliki suara lebih nyaring dan tanggung jawab lebih besar. Melalui kepemimpinan Indonesia di dalam kelompok G-20 yang memerangi korupsi, negeri ini harus ada di depan pada panggung dunia dengan memberikan contoh baik dalam mempraktikkan transparansi dan akuntabilitas.
Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia yang mengejar pembangunan berkelanjutan. Karena cara kita bertumbuh akan mempengaruhi kualitas hidup kita serta kesejahteraan planet yang kita diami. Karena itulah kita mengembangkan teknologi untuk menghasilkan energi bersih yang mampu menopang industri dan menjaga sumber daya alam Indonesia. Amerika menyambut kepemimpinan negeri anda dalam usaha global memerangi perubahan iklim.
Di atas itu semua, Amerika memiliki sumbangsih terhadap keberhasilan manusia Indonesia. Kita harus membangun jembatan yang menghubungkan kedua bangsa karena kita akan berbagi jaminan dan kemakmuran di masa nanti. Itu yang kini sedang kita rintis: Meningkatkan kolaborasi antara ilmuwan dan peneliti kita serta bekerja sama memelihara kewirausahaan. Saya pribadi puas karena kita berhasil meningkatkan jumlah pelajar Amerika dan Indonesia yang meneruskan pendidikan di universitas-universitas yang ada pada kedua negara.
Baru saja saya bicarakan masalah-masalah penting dalam kehidupan kita. Lagipula, pembangunan tak melulu hanya berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan angka-angka dalam neraca. Pembangunan juga menyangkut bagaimana seorang anak mampu mempelajari keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi dunia yang selalu berubah. Pembangunan berkaitan dengan bagaimana gagasan baik dapat diwujudkan dan tak tercemar dengan korupsi. Pembangunan juga berhubungan dengan bagaiman kekuatan-kekuatan yang telah mengubah Jakarta yang pernah saya kenal - teknologi, perdagangan, arus keluar-masuk orang dan barang - mampu membuat hidup orang jadi lebih baik: Kehidupan uang ditandai dengan martabat dan kesempatan.
Pembangunan semacam itu tak mampu dipisahkan dari demokrasi.
Kini, kita sering mendengar bahwa demokrasi menghalangi pertumbuhan ekonomi. Ini bukanlah alasan baru. Orang akan berkata, khususnya di tengah perubahan dan kondisi ekonomi tak menentu, bahwa pembangunan akan lebih mudah dijalankan dengan mengorbankan hak asasi manusia. Tapi, saya tak melihat itu di India, juga Indonesia. Apa yang kalian telah raih menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan saling menopang.
Seperti laiknya demokrasi di negara lain, halangan selalu merintangi. Amerika juga mengalaminya. Undang-undang Dasar yang kami miliki menyatakan upaya untuk menempa "penyatuan lebih sempurna." Kami telah menempuh perjalanan untuk meraih itu. Kami melewati Perang Saudara dan berjuang menegakkan hak-hak pribadi warga negara Amerika Serikat. Usaha itu kemudian membuat kami lebih kuat dan sejahtera serta menjadi sebuah masyarakat yang lebih adil dan bebas.
Seperti negara lain yang bangkit dari pemerintahan kolonial di abad lalu, Indonesia berjuang dan berkorban demi memiliki hak menentukan nasib sendiri. Itulah makna Hari Pahlawan sesungguhnya: Sebuah Indonesia yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Tapi, secara bersamaan, kemerdekaan yang telah didapatkan itu tak pula berarti menggantikan kekuatan kolonial dengan kekuatan pemerintahan lokal.
Tentunya, demokrasi morat-marit. Tak semua pihak menyukai hasil akhir suatu pemilihan umum. Kalian semua mengalami segala suka dan duka. Namun, perjalanan itu patut dilewati karena tak hanya melulu mengenai surat suara. Butuh lembaga yang kuat untuk mengontrol pemusatan kekuatan. Butuh pasar terbuka untuk memungkinkan banyak individu maju. Butuh pers dan sistem peradilan yang independen. Butuh masyarakat terbuka dan warga negara yang aktif untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan.
Yang demikian adalah kekuatan yang akan mendorong Indonesia. Korupsi harus dilawan. Komitmen pada keterbukaan, yang memungkinkan tiap warga memiliki sumbangsih terhadap pemerintahannya, mesti ada. Kepercayaan bahwa kemerdekaan yang telah direbut merupakan hal yang tetap menyatukan negeri ini harus ditumbuhkan.
Itu adalah pesan dari manusia Indonesia yang telah memajukan kisah demokratis ini: Dari mereka yang berperang di Surabaya 55 tahun lampau; kepada para mahasiswa yang tergabung dalam demonstrasi tahun 1990an; kepada para pemimpin yang telah berhasil menjalani transisi kekuasaan secara damai pada awal abad ini. Karena, akhirnya, para warga negara memiliki hak untuk menyatukan Nusantara, yang membentang sepanjang Sabang dan Merauke: Sebuah penegasan bahwa setiap bayi yang lahir di negeri ini wajib diperlakukan dengan adil meski mereka berketurunan Jawa, Aceh, Bali atau Papua.
Upaya-upaya semacam itu ditunjukkan Indonesia kepada dunia. Negeri ini berinisiatif membentuk Forum Demokrasi Bali, sebuah forum bagi negara-negara untuk berbagi pengalaman dalam menjaga demokrasi. Indonesia juga telah berusaha menekan ASEAN memperhatikan hak asasi manusia. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara berhak menentukan takdirnya sendiri dan Amerika Serikat akan mendukung upaya itu. Namun, warga Asia Tenggara harus pula memiliki hak menentukan nasib mereka sendiri. Itu sebabnya kami mengutuk pemilihan umum di Burma, yang jauh dari kebebasan maupun keadilan. Itu sebabnya kami menyokong masyarakat madani yang penuh semangat di negeri ini. Tidak ada alasan untuk mencegah penegakan hak asasi manusia di manapun.
Itulah pembangunan dan demokrasi - gagasan bahwa ada nilai-nilai yang sifatnya universal. Kemakmuran tanpa kemerdekaan adalah bentuk lain dari kemiskinan. Manusia memiliki cita-cita bersama: Kebebasan untuk tahu bahwa pemimpinmu bertanggung jawab atasmu dan bahwa anda takkan dibui bila memiliki pandangan yang berseberangan dengannya. Anda memiliki kesempatan belajar dan bekerja dengan kemuliaan. Anda bebas menjalankan kepercayaan yang anda anut tanpa takut dikucilkan.
Agama merupakan topik terakhir yang akan saya bicarakan hari ini dan, seperti layaknya demokrasi dan pembangunan, merupakan hal mendasar bagi kisah Indonesia.
Seperti negara Asia lain yang saya kunjungi, Indonesia tenggelam dalam spiritualitas: Sebuah tempat manusia menyembah Tuhan dengan berbagai cara. Sejalan dengan keberagamannya, Indonesia juga negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia - hal yang telah saya ketahui sejak kecil ketika mendengar lantunan azan di Jakarta.
Suatu Individu tak hanya didefinisikan berdasarkan kepercayaannya. Begitu pula Indonesia. Negeri ini tidak hanya ditetapkan berdasarkan penduduk Muslimnya. Kita juga tahu bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan masyarakat Islam telah lama rusak. Sebagai Presiden, saya mendahulukan perbaikan atas hubungan yang rusak ini. Salah satu upaya itu adalah kunjungan ke Kairo pada bulan Juni yang lalu dan keinginan untuk memulai lagi hubungan yang baru antara Amerika Serikat dan umat Islam sedunia.
Waktu itu saya bilang, dan akan saya ulangi sekarang, bahwa tak ada satu pidato pun yang dapat menghapuskan tahun-tahun penuh ketidakpercayaan. Tapi waktu itu saya percaya, demikian pula sekarang, bahwa kita punya pilihan. Kita bisa memilih untuk bisa menetapkan diri kita berdasarkan perbedaan-perbedaan yang kita miliki dan menyerah pada masa depan yang penuh kecurigaan dan ketidakpercayaan. Atau kita bisa memilih untuk bekerja keras demi memelihara persamaan hak. Saya berjanji, apapun rintangannya, Amerika Serikat akan berkomitmen memajukan manusia. Itulah kami. Kami telah melakukannya. Kami akan terus menjalankannya.
Kami tahu baik masalah-masalah yang menyebabkan adanya tekanan bertahun-tahun ini. Kami telah menciptakan kemajuan setelah 17 bulan pemerintahan. Tapi, pekerjaan belum selesai.
Banyak warga tak berdosa di Amerika, Indonesia dan belahan dunia lainnya masih menjadi target kaum ekstremis. Saya telah menegaskan bahwa Amerika tidak sedang memerangi, dan takkan terlibat perang dengan, Islam. Namun, kita semua harus menghancurkan Al-Qaeda dan antek-anteknya. Siapapun yang ingin membangun tak boleh bekerja sama dengan teroris. Ini bukanlah tugas Amerika sendiri. Indonesia telah berhasil memerangi para teroris dan aliran garis keras.
Di Afghanistan, kami terus bekerja bersama beberapa negara untuk membantu pemerintah Afghanistan meretas masa depannya. Kepentingan kami di sana adalah memungkinkan terwujudnya perdamaian yang pada akhirnya mampu memunculkan harapan bagi negeri itu.
Kami juga telah mencatat kemajuan dalam salah satu komitmen utama kami: Upaya mengakhiri perang di Irak. 100 ribu tentara Amerika telah meninggalkan negeri itu. Penduduk Irak telah memiliki tanggung jawab penuh atas keamanan mereka. Kami terus mendukung Irak dalam prosesnya membentuk pemerintahan yang inklusif. Kami juga akan memulangkan seluruh tentara AS.
Di Timur Tengah, kami telah menghadapi permulaan yang gagal serta halangan. Namun, kami juga terus menjaga upaya merengkuh perdamaian. Bangsa Israel dan Palestina memulai kembali perundingan. Namun, masih ada masalah besar di sana. Ilusi bahwa kedamaian dan keamanan akan datang dengan mudah tak boleh muncul. Tapi, singkirkanlah keragu-raguan: Kami takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh hasil yang adil bagi semua pihak yang bertikai: Dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan secara damai dan sentosa.
Penyelesaian atas masalah-masalah itu memiliki taruhan yang besar. Dunia yang kita huni telah menjadi kian kecil. Sementara kekuatan-kekuatan yang menghubungkan kita membuka kesempatan, kekuatan-kekuatan itu juga menyokong pihak yang ingin menghambat kemajuan. Sebuah bom di tengah pasar melumpuhkan kegiatan jual-beli. Sepotong gosip dapat mengaburkan kebenaran dan memicu kekerasan di tengah masyarakat yang sebelumnya hidup rukun. Di zaman ini, ketika perubahan begitu cepat dan berbagai budaya berbenturan, apa yang kita bagikan sebagai manusia dapat musnah.
Saya percaya bahwa sejarah Indonesia dan Amerika mampu memberikan kita harapan. Kisah keduanya tertulis dalam semboyan yang dimiliki oleh negara kita masing-masing. E pluribus unum - beragam tapi bersatu. Bhinneka Tunggal Ika - persatuan dalam keberagaman. Kita dua bangsa yang mengambil jalan masing-masing. Namun kedua negara ini menunjukkan bahwa ratusan juta orang yang memiliki kepercayaan berbeda mampu bersatu dengan merdeka di bawah satu bendera. Dan kita sekarang membangun kemanusiaan melalui anak-anak muda yang akan melalui pendidikan di sekolah masing-masing; melalui wirausahawan yang saling berhubungan demi meraih kemakmuran; dan melalui upaya kita memeluk nilai-nilai demokrasi serta cita-cita manusiawi.
Tadi saya mampir ke Masjid Istiqlal. Rumah ibadah itu masih dalam pengerjaan ketika saya tinggal di Jakarta. Saya mengagumi menaranya yang menjulang, kubah yang megah, serta tempatnya yang lapang. Namun, nama serta sejarahnya juga menjadi saksi kebesaran Indonesia. Istiqlal maknanya kemerdekaan. Bangunan itu sebagiannya merupakan wasiat perjuangan sebuah bangsa menuju kemerdekaan. Terlebih lagi, masjid itu dibangun oleh seorang arsitek Kristen.
Itulah semangat Indonesia. Itulah pesan yang diimbuhkan dalam Pancasila. Di sebuah negeri kepulauan yang berisi beberapa ciptaan Tuhan yang paling elok, pulau-pulau yang menyembul dari samudera, orang bebas memilih Tuhan yang ingin mereka sembah. Islam berkembang, begitu pula ajaran lain. Pembangunan diperkuat oleh demokrasi yang sedang berkembang. Tradisi purba terpelihara meski sebuah kekuatan sedang lahir.
Tapi bukan berarti Indonesia negeri sempurna. Tak ada satu negeri pun yang bisa. Tapi di sini ras, wilayah, dan agama yang berbeda mampu dijembatani. Sebagai seorang bocah yang berasal dari suatu ras dan datang dari sebuah negeri yang jauh, saya menemukan semangat untuk melihat diri sebagai seorang individu dalam ucapan "Selamat Datang". Sebagai seorang pemeluk Kristiani yang mengunjungi masjid, saya mengutip pendapat seseorang yang ditanyai tentang kunjungan saya: "Orang Islam juga boleh masuk gereja. Kita semua adalah umat Tuhan."
Ungkapan itu mencetuskan gagasan bahwa sifat ketuhanan ada di dalam diri kita. Kita tak boleh menyerah pada penyangkalan atau sinisisme atau keputusasaan. Kisah yang melibatkan Indonesia dan Amerika menunjukkan kepada kita bahwa sejarah mengikuti perkembangan manusia; bahwa persatuan lebih kuat daripada perpecahan; dan bahwa warga dunia dapat hidup dengan damai. Semoga kedua negeri kita dapat terus bekerja sama, dengan kepercayaan dan determinasi, menyebarkan kebenaran-kebenaran ini dengan seluruh manusia.
Senin, 25 Oktober 2010
Atasan vs Bawahan
Dalam kehidupan di dunia ini, sudah lazim kita mendengar istilah "atasan dan bawahan" dalam segala macam konteksnya.
Kali ini kita akan memulai mengupas "atasan dan bawahan" dari konteks akal pikiran dan anatomi tubuh. Kenapa saya menggabungkan dua bagian tersebut menjadi satu? Itu akan kita ketahui jawabannya dalam penjelasan berikut ini. Yang menjadi titik awal pembahasan ini adalah posisi tengah yaitu posisi ulu hati yang dalam anatomi tubuh kebetulan berada di tengah-tengah. Selanjutnya organ yang berada di atas ulu hati kita sebut saja sebagai posisi atasan, sedangkan ulu hati ke bawah kita sebut saja bawahan.
Kita mulai dulu dari yang bawah-bawah alias posisi bawahan, karena kebanyakan orang justru senang memulai dari bawah (haha, mulai agak ngaco nih...)
Baiklah, sekarang kita beralih ke posisi ulu hati ke atas yang selanjutnya kita sebut sebagai atasan.
Atasan di sini menunjuk pada hati dan akal pikiran (otak) manusia. Setiap manusia dibekali otak untuk berpikir, dan hati nurani untuk menimbang baik buruknya sesuatu.
Permasalahan yang sering timbul adalah tidak semua orang bisa menggunakan keduanya (hati nurani dan akal pikiran) dengan selaras dan benar. Justru mereka seringkali lebih memperturutkan bawahannya (perut dan syahwat) daripada hati nurani dan akal pikirannya. Di sinilah pentingnya manusia untuk membekali dan membentengi dirinya dengan akidah dan keyakinan yang kuat, untuk menuntun dan mengarahkan mereka pada jalan yang lurus dan benar. Kita harus senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. agar senantiasa dilindungi dari hal-hal yang dilaknat agama.
Akidah yang kuat akan menuntun hati nurani dan akal pikiran kita untuk senantiasa menjauhkan kita dari bujukan hawa nafsu dan urusan perut, sehingga meskipun kita memiliki kebutuhan akan hal tersebut, kita tetap harus melakukannya sesuai dengan tuntunan agar terhindar dari hal-hal yang merugikan diri kita sendiri baik di dunia maupun akhirat kelak.
Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita di jalan-Nya dan manjauhkan kita dari segala macam larangan-Nya....
Amiiin Ya Rabbal Alamiiin....
Kali ini kita akan memulai mengupas "atasan dan bawahan" dari konteks akal pikiran dan anatomi tubuh. Kenapa saya menggabungkan dua bagian tersebut menjadi satu? Itu akan kita ketahui jawabannya dalam penjelasan berikut ini. Yang menjadi titik awal pembahasan ini adalah posisi tengah yaitu posisi ulu hati yang dalam anatomi tubuh kebetulan berada di tengah-tengah. Selanjutnya organ yang berada di atas ulu hati kita sebut saja sebagai posisi atasan, sedangkan ulu hati ke bawah kita sebut saja bawahan.
Kita mulai dulu dari yang bawah-bawah alias posisi bawahan, karena kebanyakan orang justru senang memulai dari bawah (haha, mulai agak ngaco nih...)
Yang pertama adalah perut.
Ya, perut, seringkali urusan perut menjadi sesuatu yang amat penting dan paling menentukan. Di saat perut kosong, tentunya harus segera diisi. Permasalahannya adalah bagaimana cara yang ditempuh seseorang unntuk memenuhi kebutuhan perut ini? Bagi orang-orang yang berkecukupan dan berlimpah materi, tentulah bukan suatu hal yang sulit kalau hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan perut. Itupun juga dengan style khas orang berkecukupan (memilih beraneka menu : pagi sarapan bubur, siang steak, malemnya sate, dan semacamnya).
Akan tetapi bagi orang-orang yang hidupnya serba kesusahan, jangankan untuk memilih-milih menu, untuk sekedar mengganjal perutnya dengan makanan saja mereka begitu kesulitan. Mereka musti membanting tulang dan memeras keringat untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi dan lauk ala kadarnya, itu bagi yang akalnya masih diberi kejernihan untuk berpikir.
Sedangkan bagi yang akal dan nuraninya telah dibutakan oleh setan yang menyamun dalam bentuk rasa lapar, mereka tak segan menempuh berbagai cara meskipun itu dengan cara mencuri, merampok, menjambret, menodong, dsb demi mengisi kebutuhan perutnya.
Yang kedua yaitu syahwat (nafsu)
Kita lanjutkan dengan posisi bawahan yang kedua, yang berada sedikit di bawah perut, yaitu kemaluan atau syahwat atau nafsu. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan syahwat agar manusia dapat berkembang biak melanjutkan keturunannya dari masa ke masa. Akan tetapi seringkali justru urusan syahwat (nafsu) ini menjadi sumber dari permasalahan yang dibuat manusia sendiri. Manusia seringkali justru lebih menuruti hawa nafsunya untuk memenuhi kebutuhan syahwatnya semata, tanpa berpikir panjang akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Ya, saat ini sudah sangat dikenal istilah kumpul kebo, free sex, bergonta-ganti pasangan yang kesemuanya itu adalah termasuk perbuatan zinah yang sangat dibenci oleh agama. Salah satu contoh riil yang masih hangat-hangatnya tentu saja kasus peterporn yang melibatkan 3 (tiga) selebriti papan atas negeri ini, ARIEL, LUNA MAYA & CUT TARI. Yang parahnya, akibat dari tersebarluasnya video adegan mesum dari mereka, entah signifikan atau tidak, telah memacu meningkatnya tindak pencabulan dan perkosaan yang terjadi di masyarakat, naudzubillah...
Itu baru satu contoh saja, masih banyak kasus-kasus pelecehan seksual lainnya yang terjadi, baik di dalam negeri maupun yang dialami oleh para pejuang devisa di tanah seberang sana.
Baiklah, sekarang kita beralih ke posisi ulu hati ke atas yang selanjutnya kita sebut sebagai atasan.
Atasan di sini menunjuk pada hati dan akal pikiran (otak) manusia. Setiap manusia dibekali otak untuk berpikir, dan hati nurani untuk menimbang baik buruknya sesuatu.
Permasalahan yang sering timbul adalah tidak semua orang bisa menggunakan keduanya (hati nurani dan akal pikiran) dengan selaras dan benar. Justru mereka seringkali lebih memperturutkan bawahannya (perut dan syahwat) daripada hati nurani dan akal pikirannya. Di sinilah pentingnya manusia untuk membekali dan membentengi dirinya dengan akidah dan keyakinan yang kuat, untuk menuntun dan mengarahkan mereka pada jalan yang lurus dan benar. Kita harus senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. agar senantiasa dilindungi dari hal-hal yang dilaknat agama.
Akidah yang kuat akan menuntun hati nurani dan akal pikiran kita untuk senantiasa menjauhkan kita dari bujukan hawa nafsu dan urusan perut, sehingga meskipun kita memiliki kebutuhan akan hal tersebut, kita tetap harus melakukannya sesuai dengan tuntunan agar terhindar dari hal-hal yang merugikan diri kita sendiri baik di dunia maupun akhirat kelak.
Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita di jalan-Nya dan manjauhkan kita dari segala macam larangan-Nya....
Amiiin Ya Rabbal Alamiiin....
Minggu, 10 Oktober 2010
Yang Pertama
Bismillah...
Ini adalah postingan pertama di blog ini (meskipun bukan yang pertama di dunia blog). Kemarin, beberapa waktu yang lalu, sempat juga nulis hal-hal yang nggak karuan di wordpress, yang hasilnya tentu saja juga serba nggak karuan. Oleh sebab itu, hingga saat ini masih harus terus belajar gimana nulis blog yang oke dan menarik serta sebisa mungkin bermanfaat (nah, ini yang rada susah!).
Setelah beberapa minggu ini disibukkan dengan tumpukan kerjaan kantor yang tak ada habisnya (lebay), yang sering bikin otak sedikit error (cuma sedikit lho...), kadang bikin tensi gampang naik juga, yang untungnya semuanya bisa terselesaikan hari ini (meskipun untuk sementara waktu, sebab ke depan pasti akan ada perubahan lagi yang pasti bikin kepala puyeng), akhirnya bisa bersantai ria lagi.
Tadi, beberapa jam yang lalu, iseng-iseng saja buka mbah google (sesepuh dunia pencarian di dunia maya), browsing artikel ini itu, dan nggak sengaja nyasar di beberapa blog yang tulisannya lumayan bikin mata mantengin monitor laptop dengan lebih seksama. Dan akhirnya kepikiran juga, kenapa nggak coba nge-blog saja di blogspot ini, dan sejurus waktu kemudian jadilah akun blog ini. Itulah sekelumit sejarah yang mendasari berdirinya blog ini (halah!).
Kembali lagi ke tensi tinggi seperti disebut di awal tadi... Beberapa hari belakangan ini memang bawaannya pengen muring-muring (marah-marah) terus, nggak peduli tempat dan waktu. Jadi teringat waktu berangkat ngantor tadi pagi, dimulai dengan start yang buruk yaitu bangun agak kesiangan (jam 06.00 pagi) padahal musti nyuci stok pakaian kotor dulu yang sudah menumpuk di bak selama seminggu, jadilah berangkat ke kantor rada molor (lebih molor dari biasanya, haaaa...). Berangkat dari rumah jam 07.40 pagi (padahal jam masuk kantor 07.30) tapi dengan tetap santai dengan mengendarai motor di jalan kampung, tetapi tak lama berselang mood pun sontak berubah begitu memasuki area jalan raya yang crowded (sangat menyebalkan untuk ukuran lalu lintas jogja), dengan antrian kendaraan yang berjalan sangat lambat dikarenakan ada persimpangan (sumber kemacetan) yang (seperti biasanya) tidak dijaga polisi. Belum lagi, polah ugal-ugalan pengguna jalan yang semuanya ngotot pengen duluan, nggak ada yang mau ngalah, yang tentu saja semakin menyulut emosi saja. Kelakuan mereka seperti orang kesetanan semua, pisuhan demi pisuhan pun tanpa sadar keluar dari mulut ini, entah mereka mendengarnya atau tidak (gggrrrrttttt...). Betul saja, waktu tempuh ke kantor yang biasanya hanya ditempuh selama 15 menit, molor menjadi hampir 45 menit gara-gara macet (jiiiaaahhh...). Dan dapat ditebak dengan mudah bahwa saat tiba di kantor sudah telat sekali (untuk standar jam ngantor saya yang sudah biasa ngaret). Ditambah lagi, begitu sampai di parkiran ternyata sudah penuh (bahkan melebihi kapasitas), sehingga terpaksa parkir di halaman depan kantor yang tanpa atap (dengan resiko motor kepanasan dan kehujanan), tapi mau gimana lagi, ya sudahlah...
Masuk kantor pun langsung membuka laptop berusaha menyelesaikan tugas yang telah menyita pikiran dan tenaga selama berminggu-minggu, pokoknya harus selesai hari ini! Tak dinyana, ternyata masih ada perubahan yang mesti dilakukan lagi menyesuaikan kebijakan baru (huft...).
Dan setelah berjam-jam mantengin yang namanya laptop, akhirnya tugas yang satu ini selesai juga! Yes, I've done it!
Finally, hari ini bisa kesampaian juga pulang agak tepat waktu (tanpa harus melihat matahari terbenam di jalan).
Ya, begitulah sekelumit aktivitas yang terjadi hari ini. Begitu sampai di rumah, leyeh-leyeh sebentar untuk sekedar melepas ketegangan selama beberapa minggu, tiduran di kasur busa sembari berselancar di dunia maya, mulai sekedar facebook-an, buka situs kompas, detik, okezone, vivanews, dsb, hingga membuka artikel ini itu yang akhirnya menemukan beberapa blog yang cukup menarik, yang menumbuhkan niat bikin blog di blogspot, sehingga lahirlah blog ini.
Sekian dulu postingan pertama dari saya, semoga esok bisa segera memposting tulisan-tulisan berikutnya (dengan catatan tidak terlalu larut dan terjebak dalam rutinitas pekerjaan).
Yang Pertama
(Yogyakarta, 10-10-2010, jam 00.55 lewat tengah malam)
Ini adalah postingan pertama di blog ini (meskipun bukan yang pertama di dunia blog). Kemarin, beberapa waktu yang lalu, sempat juga nulis hal-hal yang nggak karuan di wordpress, yang hasilnya tentu saja juga serba nggak karuan. Oleh sebab itu, hingga saat ini masih harus terus belajar gimana nulis blog yang oke dan menarik serta sebisa mungkin bermanfaat (nah, ini yang rada susah!).
Setelah beberapa minggu ini disibukkan dengan tumpukan kerjaan kantor yang tak ada habisnya (lebay), yang sering bikin otak sedikit error (cuma sedikit lho...), kadang bikin tensi gampang naik juga, yang untungnya semuanya bisa terselesaikan hari ini (meskipun untuk sementara waktu, sebab ke depan pasti akan ada perubahan lagi yang pasti bikin kepala puyeng), akhirnya bisa bersantai ria lagi.
Tadi, beberapa jam yang lalu, iseng-iseng saja buka mbah google (sesepuh dunia pencarian di dunia maya), browsing artikel ini itu, dan nggak sengaja nyasar di beberapa blog yang tulisannya lumayan bikin mata mantengin monitor laptop dengan lebih seksama. Dan akhirnya kepikiran juga, kenapa nggak coba nge-blog saja di blogspot ini, dan sejurus waktu kemudian jadilah akun blog ini. Itulah sekelumit sejarah yang mendasari berdirinya blog ini (halah!).
Kembali lagi ke tensi tinggi seperti disebut di awal tadi... Beberapa hari belakangan ini memang bawaannya pengen muring-muring (marah-marah) terus, nggak peduli tempat dan waktu. Jadi teringat waktu berangkat ngantor tadi pagi, dimulai dengan start yang buruk yaitu bangun agak kesiangan (jam 06.00 pagi) padahal musti nyuci stok pakaian kotor dulu yang sudah menumpuk di bak selama seminggu, jadilah berangkat ke kantor rada molor (lebih molor dari biasanya, haaaa...). Berangkat dari rumah jam 07.40 pagi (padahal jam masuk kantor 07.30) tapi dengan tetap santai dengan mengendarai motor di jalan kampung, tetapi tak lama berselang mood pun sontak berubah begitu memasuki area jalan raya yang crowded (sangat menyebalkan untuk ukuran lalu lintas jogja), dengan antrian kendaraan yang berjalan sangat lambat dikarenakan ada persimpangan (sumber kemacetan) yang (seperti biasanya) tidak dijaga polisi. Belum lagi, polah ugal-ugalan pengguna jalan yang semuanya ngotot pengen duluan, nggak ada yang mau ngalah, yang tentu saja semakin menyulut emosi saja. Kelakuan mereka seperti orang kesetanan semua, pisuhan demi pisuhan pun tanpa sadar keluar dari mulut ini, entah mereka mendengarnya atau tidak (gggrrrrttttt...). Betul saja, waktu tempuh ke kantor yang biasanya hanya ditempuh selama 15 menit, molor menjadi hampir 45 menit gara-gara macet (jiiiaaahhh...). Dan dapat ditebak dengan mudah bahwa saat tiba di kantor sudah telat sekali (untuk standar jam ngantor saya yang sudah biasa ngaret). Ditambah lagi, begitu sampai di parkiran ternyata sudah penuh (bahkan melebihi kapasitas), sehingga terpaksa parkir di halaman depan kantor yang tanpa atap (dengan resiko motor kepanasan dan kehujanan), tapi mau gimana lagi, ya sudahlah...
Masuk kantor pun langsung membuka laptop berusaha menyelesaikan tugas yang telah menyita pikiran dan tenaga selama berminggu-minggu, pokoknya harus selesai hari ini! Tak dinyana, ternyata masih ada perubahan yang mesti dilakukan lagi menyesuaikan kebijakan baru (huft...).
Dan setelah berjam-jam mantengin yang namanya laptop, akhirnya tugas yang satu ini selesai juga! Yes, I've done it!
Finally, hari ini bisa kesampaian juga pulang agak tepat waktu (tanpa harus melihat matahari terbenam di jalan).
Ya, begitulah sekelumit aktivitas yang terjadi hari ini. Begitu sampai di rumah, leyeh-leyeh sebentar untuk sekedar melepas ketegangan selama beberapa minggu, tiduran di kasur busa sembari berselancar di dunia maya, mulai sekedar facebook-an, buka situs kompas, detik, okezone, vivanews, dsb, hingga membuka artikel ini itu yang akhirnya menemukan beberapa blog yang cukup menarik, yang menumbuhkan niat bikin blog di blogspot, sehingga lahirlah blog ini.
Sekian dulu postingan pertama dari saya, semoga esok bisa segera memposting tulisan-tulisan berikutnya (dengan catatan tidak terlalu larut dan terjebak dalam rutinitas pekerjaan).
Yang Pertama
(Yogyakarta, 10-10-2010, jam 00.55 lewat tengah malam)
Langganan:
Postingan (Atom)



