Minggu, 21 November 2010

Ketika Garis Batas Toleransi Dilewati

Dari judul di atas pasti sudah bisa ditebak apa yang hendak saya tulis dalam postingan kali ini. Yupz, benar sekali, ini tentang saat-saat ketika garis batas toleransi yang kita berikan dengan seenaknya diterobos oleh orang lain.

Untuk permulaan, mungkin kita bisa memulai dari apa itu yang disebut dengan "toleransi"?
Kalau menurut saya, toleransi adalah suatu sikap yang mengharuskan kita untuk menghormati dan menghargai apa yang dimiliki, dipercayai, diperbuat, maupun diyakini orang lain, selama itu tidak merugikan kepentingan dan merenggut hak-hak yang kita miliki. 

Istilah "mentolerir" juga kerap kita dengar diucapkan kebanyakan orang, yaitu membiarkan sesuatu hingga batas-batas yang masih dianggap wajar.

Satu pertanyaan yang ingin saya apungkan di sini adalah, "Bagaimana sikap yang harus kita ambil ketika batas-batas toleransi itu dilanggar dengan seenaknya oleh orang lain?"

Manakala sesuatu milik kita atau bahkan diri kita diusik oleh orang lain, pastilah reaksi yang kita munculkan adalah tidak terima terhadap hal tersebut. Reaksi tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk, antara lain peringatan secara halus, protes, nggrundel di dalam hati, konfrontasi langsung, atau bahkan kontak fisik pun bisa saja terjadi. Itu semua sangat bergantung pada sejauh mana batas toleransi itu dilanggar, siapa atau posisi pihak yang melanggar batas tersebut, serta kemampuan kita dalam menahan diri dalam bereaksi.

Reaksi tersebut akan sangat bervariasi adanya, sebagai contoh, apabila ada dua orang yang melanggar batas-batas-batas toleransi dalam kadar yang sama, akan tetapi yang satu adalah orang yang selevel dengan kita, dibandingkan dengan bila yang melakukannya adalah orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi, tentunya akan berbeda pula reaksi yang kita munculkan terhadap keduanya. Terhadap orang yang selevel, biasanya kita akan langsung protes atau bahkan langsung kita ajak berkonfrontasi. Lain halnya terhadap orang yang berkedudukan lebih tinggi dari kita, reaksi yang kita lakukan mungkin hanya berupa memperingatkan secara halus, atau bahkan hanya berupa berkeluh kesah kepada kawan untuk sekedar berbagi melepaskan uneg-uneg tanpa berani protes langsung kepada yang bersangkutan.

Sejauh mana sebuah garis batas toleransi dilanggar tentunya juga akan mempengaruhi reaksi yang timbul. Jika menurut kita kadarnya masih biasa-biasa saja, mungkin kita hanya akan bereaksi dengan menegurnya secara baik-baik. Lain halnya ketika kadarnya sudah sangat jauh melewati batas, tak ayal reaksi yang kemungkinan besar timbul adalah mendebat orang tersebut habis-habisan, cek-cok mulut, bahkan adu jotos pun bisa saja tak terhindarkan.

Kemampuan kita dalam mengendalikan diri (emosi) juga akan sangat berpengaruh pada reaksi yang timbul saat batas toleransi kita diinjak-injak orang lain. Orang yang berwatak sabar dan mampu mengendalikan emosi dengan baik tentunya akan bersikap lebih kalem dalam menanggapi suatu pelanggaran terhadap batas teritorial toleransinya. Hal ini tentu akan bertolak belakang terhadap mereka yang cenderung memiliki sifat temperamental, yang susah mengendalikan emosinya, reaksi yang muncul dari mereka dapat ditebak dengan mudah. Yah, pastilah mereka akan langsung naik pitam tatkala merasa batas-batasnya diinfiltrasi pihak lain. Reaksi yang muncul bisa berupa caci maki, yang kemungkinan besar akan berujung pada kontak fisik dengan pihak yang dianggap melanggar kepentingan dan privasinya.

Sikap apapun yang hendak diambil sebagai reaksi dari terlewatinya suatu garis batas toleransi, sangat bergantung pada diri kita masing-masing. Apakah akan langsung mengajak debat orang tersebut, membiarkannya saja, atau malah langsung memberikan bogem mentah ke wajah orang tersebut??

Well, bersikaplah bijak dalam menghadapi segala sesuatu.
Namun, ada kalanya kita sampai pada titik yang sering diistilahkan dengan "Kesabaran itu ada batasnya!"
Dan saat kita sudah mencapai level itu, siap-siap saja bagi mereka yang berani mengusik kita untuk mendapatkan umpatan dikombinasikan dengan jab dan uppercut, serta tendangan kungfu dari kita!

*Kota Gudheg, 21 November 2010*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar