Senin, 25 Oktober 2010

Atasan vs Bawahan

Dalam kehidupan di dunia ini, sudah lazim kita mendengar istilah "atasan dan bawahan" dalam segala macam konteksnya.

Kali ini kita akan memulai mengupas "atasan dan bawahan" dari konteks akal pikiran dan anatomi tubuh. Kenapa saya menggabungkan dua bagian tersebut menjadi satu? Itu akan kita ketahui jawabannya dalam penjelasan berikut ini. Yang menjadi titik awal pembahasan ini adalah posisi tengah yaitu posisi ulu hati yang dalam anatomi tubuh kebetulan berada di tengah-tengah. Selanjutnya organ yang berada di atas ulu hati kita sebut saja sebagai posisi atasan, sedangkan ulu hati ke bawah kita sebut saja bawahan.

Kita mulai dulu dari yang bawah-bawah alias posisi bawahan, karena kebanyakan orang justru senang memulai dari bawah (haha, mulai agak ngaco nih...)

Yang pertama adalah perut. 
Ya, perut, seringkali urusan perut menjadi sesuatu yang amat penting dan paling menentukan. Di saat perut kosong, tentunya harus segera diisi. Permasalahannya adalah bagaimana cara yang ditempuh seseorang unntuk memenuhi kebutuhan perut ini? Bagi orang-orang yang berkecukupan dan berlimpah materi, tentulah bukan suatu hal yang sulit kalau hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan perut. Itupun juga dengan style khas orang berkecukupan (memilih beraneka menu : pagi sarapan bubur, siang steak, malemnya sate, dan semacamnya). 
Akan tetapi bagi orang-orang yang hidupnya serba kesusahan, jangankan untuk memilih-milih menu, untuk sekedar mengganjal perutnya dengan makanan saja mereka begitu kesulitan. Mereka musti membanting tulang dan memeras keringat untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi dan lauk ala kadarnya, itu bagi yang akalnya masih diberi kejernihan untuk berpikir. 
Sedangkan bagi yang akal dan nuraninya telah dibutakan oleh setan yang menyamun dalam bentuk rasa lapar, mereka tak segan menempuh berbagai cara meskipun itu dengan cara mencuri, merampok, menjambret, menodong, dsb demi mengisi kebutuhan perutnya. 

Yang kedua yaitu syahwat (nafsu)
Kita lanjutkan dengan posisi bawahan yang kedua, yang berada sedikit di bawah perut, yaitu kemaluan atau syahwat atau nafsu. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan syahwat agar manusia dapat berkembang biak melanjutkan keturunannya dari masa ke masa. Akan tetapi seringkali justru urusan syahwat (nafsu) ini menjadi sumber dari permasalahan yang dibuat manusia sendiri. Manusia seringkali justru lebih menuruti hawa nafsunya untuk memenuhi kebutuhan syahwatnya semata, tanpa berpikir panjang akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Ya, saat ini sudah sangat dikenal istilah kumpul kebo, free sex, bergonta-ganti pasangan yang kesemuanya itu adalah termasuk perbuatan zinah yang sangat dibenci oleh agama. Salah satu contoh riil yang masih hangat-hangatnya tentu saja kasus peterporn yang melibatkan 3 (tiga) selebriti papan atas negeri ini, ARIEL, LUNA MAYA & CUT TARI. Yang parahnya, akibat dari tersebarluasnya video adegan mesum dari mereka, entah signifikan atau tidak, telah memacu meningkatnya tindak pencabulan dan perkosaan yang terjadi di masyarakat, naudzubillah...
Itu baru satu contoh saja, masih banyak kasus-kasus pelecehan seksual lainnya yang terjadi, baik di dalam negeri maupun yang dialami oleh para pejuang devisa di tanah seberang sana.

Baiklah, sekarang kita beralih ke posisi ulu hati ke atas yang selanjutnya kita sebut sebagai atasan.


Atasan di sini menunjuk pada hati dan akal pikiran (otak) manusia. Setiap manusia dibekali otak untuk berpikir, dan hati nurani untuk menimbang baik buruknya sesuatu. 


Permasalahan yang sering timbul adalah tidak semua orang bisa menggunakan keduanya (hati nurani dan akal pikiran) dengan selaras dan benar. Justru mereka seringkali lebih memperturutkan bawahannya (perut dan syahwat) daripada hati nurani dan akal pikirannya. Di sinilah pentingnya manusia untuk membekali dan membentengi dirinya dengan akidah dan keyakinan yang kuat, untuk menuntun dan mengarahkan mereka pada jalan yang lurus dan benar. Kita harus senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. agar senantiasa dilindungi dari hal-hal yang dilaknat agama.
Akidah yang kuat akan menuntun hati nurani dan akal pikiran kita untuk senantiasa menjauhkan kita dari bujukan hawa nafsu dan urusan perut, sehingga meskipun kita memiliki kebutuhan akan hal tersebut, kita tetap harus melakukannya sesuai dengan tuntunan agar terhindar dari hal-hal yang merugikan diri kita sendiri baik di dunia maupun akhirat kelak.


Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita di jalan-Nya dan manjauhkan kita dari segala macam larangan-Nya....


Amiiin Ya Rabbal Alamiiin....



Minggu, 10 Oktober 2010

Yang Pertama

Bismillah...

Ini adalah postingan pertama di blog ini (meskipun bukan yang pertama di dunia blog). Kemarin, beberapa waktu yang lalu, sempat juga nulis hal-hal yang nggak karuan di wordpress, yang hasilnya tentu saja juga serba nggak karuan. Oleh sebab itu, hingga saat ini masih harus terus belajar gimana nulis blog yang oke dan menarik serta sebisa mungkin bermanfaat (nah, ini yang rada susah!).

Setelah beberapa minggu ini disibukkan dengan tumpukan kerjaan kantor yang tak ada habisnya (lebay), yang sering bikin otak sedikit error (cuma sedikit lho...), kadang bikin tensi gampang naik juga, yang untungnya semuanya bisa terselesaikan hari ini (meskipun untuk sementara waktu, sebab ke depan pasti akan ada perubahan lagi yang pasti bikin kepala puyeng), akhirnya bisa bersantai ria lagi.

Tadi, beberapa jam yang lalu, iseng-iseng saja buka mbah google (sesepuh dunia pencarian di dunia maya), browsing artikel ini itu, dan nggak sengaja nyasar di beberapa blog yang tulisannya lumayan bikin mata mantengin monitor laptop dengan lebih seksama. Dan akhirnya kepikiran juga, kenapa nggak coba nge-blog saja di blogspot ini, dan sejurus waktu kemudian jadilah akun blog ini. Itulah sekelumit sejarah yang mendasari berdirinya blog ini (halah!).

Kembali lagi ke tensi tinggi seperti disebut di awal tadi... Beberapa hari belakangan ini memang bawaannya pengen muring-muring (marah-marah) terus, nggak peduli tempat dan waktu. Jadi teringat waktu berangkat ngantor tadi pagi, dimulai dengan start yang buruk yaitu bangun agak kesiangan (jam 06.00 pagi) padahal musti nyuci stok pakaian kotor dulu yang sudah menumpuk di bak selama seminggu, jadilah berangkat ke kantor rada molor (lebih molor dari biasanya, haaaa...). Berangkat dari rumah jam 07.40 pagi (padahal jam masuk kantor 07.30) tapi dengan tetap santai dengan mengendarai motor di jalan kampung, tetapi tak lama berselang mood pun sontak berubah begitu memasuki area jalan raya yang crowded (sangat menyebalkan untuk ukuran lalu lintas jogja), dengan antrian kendaraan yang berjalan sangat lambat dikarenakan ada persimpangan (sumber kemacetan) yang (seperti biasanya) tidak dijaga polisi. Belum lagi, polah ugal-ugalan pengguna jalan yang semuanya ngotot pengen duluan, nggak ada yang mau ngalah, yang tentu saja semakin menyulut emosi saja. Kelakuan mereka seperti orang kesetanan semua, pisuhan demi pisuhan pun tanpa sadar keluar dari mulut ini, entah mereka mendengarnya atau tidak (gggrrrrttttt...). Betul saja, waktu tempuh ke kantor yang biasanya hanya ditempuh selama 15 menit, molor menjadi hampir 45 menit gara-gara macet (jiiiaaahhh...). Dan dapat ditebak dengan mudah bahwa saat tiba di kantor sudah telat sekali (untuk standar jam ngantor saya yang sudah biasa ngaret). Ditambah lagi, begitu sampai di parkiran ternyata sudah penuh (bahkan melebihi kapasitas), sehingga terpaksa parkir di halaman depan kantor yang tanpa atap (dengan resiko motor kepanasan dan kehujanan), tapi mau gimana lagi, ya sudahlah...

Masuk kantor pun langsung membuka laptop berusaha menyelesaikan tugas yang telah menyita pikiran dan tenaga selama berminggu-minggu, pokoknya harus selesai hari ini! Tak dinyana, ternyata masih ada perubahan yang mesti dilakukan lagi menyesuaikan kebijakan baru (huft...).
Dan setelah berjam-jam mantengin yang namanya laptop, akhirnya tugas yang satu ini selesai juga! Yes, I've done it!
Finally, hari ini bisa kesampaian juga pulang agak tepat waktu (tanpa harus melihat matahari terbenam di jalan).

Ya, begitulah sekelumit aktivitas yang terjadi hari ini. Begitu sampai di rumah, leyeh-leyeh sebentar untuk sekedar melepas ketegangan selama beberapa minggu, tiduran di kasur busa sembari berselancar di dunia maya, mulai sekedar facebook-an, buka situs kompas, detik, okezone, vivanews, dsb, hingga membuka artikel ini itu yang akhirnya menemukan beberapa blog yang cukup menarik, yang menumbuhkan niat bikin blog di blogspot, sehingga lahirlah blog ini.

Sekian dulu postingan pertama dari saya, semoga esok bisa segera memposting tulisan-tulisan berikutnya (dengan catatan tidak terlalu larut dan terjebak dalam rutinitas pekerjaan).

Yang Pertama

(Yogyakarta, 10-10-2010, jam 00.55 lewat tengah malam)