Dan ternyata apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi..
Eksploitasi dan pemberitaan yang berlebihan terhadap timnas benar-benar mengganggu persiapan timnas jelang laga final leg pertama di Bukit Jalil. Kita menjadi saksi bagaimana timnas kebanggaan kita semua menjadi bulan-bulanan Malaysia, kalah dengan skor 0-3. Terlepas dari ulah curang suporter Malaysia dengan teror laser hijaunya, tampak jelas kalau timnas tampil kurang determinasi, kurang ngotot, kurang greget dan kurang fight. Tapi itulah sepakbola, apapun bisa terjadi di dunia si kulit bundar.
Menang kalah adalah hal biasa. Kalah 0-3 bukan berarti peluang juara sudah tertutup. Ingat Bung, kita masih punya 2x45 menit di Gelora Bung Karno! Dengan dukungan dari 80.000 suporter Merah Putih dan gemuruh Garuda Di Dadaku yang membakar semangat juang, kita pasti bisa melakukan pembalasan (dalam arti positif) terhadap Malaysia.
Menang 4-0 bukanlah hal yang tak mungkin. Kita pernah membantai Malaysia dengan skor 5-1. Itu menjadi bukti timnas bisa melakukan apapun. Terlepas dari semakin padunya permainan Malaysia, kita harus optimis kalau kita bisa mengalahkan mereka. Kalau Malaysia bisa bangkit dari keterpurukan, mengapa kita tidak?Kita pasti bisa, Indonesia pasti bisa!
Kita tidak perlu menirukan ulah curang suporter Malaysia dengan berbagai tindakan tidak terpujinya baik berupa teror laser maupun lemparan petasan ke tengah stadion. Kita tunjukkan bahwa kemenangan bisa diraih dengan cara-cara yang sportif, tanpa mencederai nilai-nilai fair play. Timnas kita masih punya semangat juang, saya yakin 100%. Apabila semangat juang itu dikombinasikan dengan dukungan puluhan ribu suporter Indonesia di Gelora Bung Karno dan tentunya doa dari seluruh bangsa Indonesia, saya yakin kita bisa meraih hasil yang optimal.
Kita tentunya masih ingat dengan laga final Liga Champions Eropa tahun 2005 di mana Liverpool sempat tertinggal 3 gol di babak pertama dari AC Milan, tapi mereka berhasil keluar dari tekanan dan menyamakan skor menjadi 3-3 sebelum akhirnya memenangkan pertandingan melalui drama adu penalti. Semoga perjuangan Steven Gerrard tersebut dapat memberikan inspirasi bagi para punggawa timnas. Bahwa melalui perjuangan tak kenal lelah, apapun bisa dilakukan, meskipun itu sesuatu yang berat. Kita tunggu siapa pemain timnas yang akan menjadi Steven Gerrard di laga final esok, apakah dia Cristian Gonzales, Firman Utina, Irfan Bachdim ataukah Bambang Pamungkas? Siapapun dia, yang pasti kita harus terus memberikan dukungan penuh kepada perjuangan timnas. Tak usah kita pedulikan bagaimana bobroknya PSSI. Kita mendukung timnas Indonesia, bukan PSSI!
Semoga de ja vu final liga Champions antara Liverpool kontra AC Milan bisa terjadi esok, 29 Desember 2010 malam, saat Firman Utina bisa mengangkat trofi Piala AFF untuk pertama kalinya bagi seluruh rakyat Indonesia, amin..
Selamat berjuang Firman Utina, Cristian Gonzales, Bepe, Irfan, Arif Suyono dkk!
Menang 4-0 bukan misi yang mustahil!
Kami selalu mendukung perjuangan kalian..
Apapun hasil yang dicapai, kami tetap bangga atas perjuangan yang telah kalian lakukan..
Garuda di Dadaku, selamanya...!
Merdeka!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar