Kali ini kita akan memulai mengupas "atasan dan bawahan" dari konteks akal pikiran dan anatomi tubuh. Kenapa saya menggabungkan dua bagian tersebut menjadi satu? Itu akan kita ketahui jawabannya dalam penjelasan berikut ini. Yang menjadi titik awal pembahasan ini adalah posisi tengah yaitu posisi ulu hati yang dalam anatomi tubuh kebetulan berada di tengah-tengah. Selanjutnya organ yang berada di atas ulu hati kita sebut saja sebagai posisi atasan, sedangkan ulu hati ke bawah kita sebut saja bawahan.
Kita mulai dulu dari yang bawah-bawah alias posisi bawahan, karena kebanyakan orang justru senang memulai dari bawah (haha, mulai agak ngaco nih...)
Yang pertama adalah perut.
Ya, perut, seringkali urusan perut menjadi sesuatu yang amat penting dan paling menentukan. Di saat perut kosong, tentunya harus segera diisi. Permasalahannya adalah bagaimana cara yang ditempuh seseorang unntuk memenuhi kebutuhan perut ini? Bagi orang-orang yang berkecukupan dan berlimpah materi, tentulah bukan suatu hal yang sulit kalau hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan perut. Itupun juga dengan style khas orang berkecukupan (memilih beraneka menu : pagi sarapan bubur, siang steak, malemnya sate, dan semacamnya).
Akan tetapi bagi orang-orang yang hidupnya serba kesusahan, jangankan untuk memilih-milih menu, untuk sekedar mengganjal perutnya dengan makanan saja mereka begitu kesulitan. Mereka musti membanting tulang dan memeras keringat untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi dan lauk ala kadarnya, itu bagi yang akalnya masih diberi kejernihan untuk berpikir.
Sedangkan bagi yang akal dan nuraninya telah dibutakan oleh setan yang menyamun dalam bentuk rasa lapar, mereka tak segan menempuh berbagai cara meskipun itu dengan cara mencuri, merampok, menjambret, menodong, dsb demi mengisi kebutuhan perutnya.
Yang kedua yaitu syahwat (nafsu)
Kita lanjutkan dengan posisi bawahan yang kedua, yang berada sedikit di bawah perut, yaitu kemaluan atau syahwat atau nafsu. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan syahwat agar manusia dapat berkembang biak melanjutkan keturunannya dari masa ke masa. Akan tetapi seringkali justru urusan syahwat (nafsu) ini menjadi sumber dari permasalahan yang dibuat manusia sendiri. Manusia seringkali justru lebih menuruti hawa nafsunya untuk memenuhi kebutuhan syahwatnya semata, tanpa berpikir panjang akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Ya, saat ini sudah sangat dikenal istilah kumpul kebo, free sex, bergonta-ganti pasangan yang kesemuanya itu adalah termasuk perbuatan zinah yang sangat dibenci oleh agama. Salah satu contoh riil yang masih hangat-hangatnya tentu saja kasus peterporn yang melibatkan 3 (tiga) selebriti papan atas negeri ini, ARIEL, LUNA MAYA & CUT TARI. Yang parahnya, akibat dari tersebarluasnya video adegan mesum dari mereka, entah signifikan atau tidak, telah memacu meningkatnya tindak pencabulan dan perkosaan yang terjadi di masyarakat, naudzubillah...
Itu baru satu contoh saja, masih banyak kasus-kasus pelecehan seksual lainnya yang terjadi, baik di dalam negeri maupun yang dialami oleh para pejuang devisa di tanah seberang sana.
Baiklah, sekarang kita beralih ke posisi ulu hati ke atas yang selanjutnya kita sebut sebagai atasan.
Atasan di sini menunjuk pada hati dan akal pikiran (otak) manusia. Setiap manusia dibekali otak untuk berpikir, dan hati nurani untuk menimbang baik buruknya sesuatu.
Permasalahan yang sering timbul adalah tidak semua orang bisa menggunakan keduanya (hati nurani dan akal pikiran) dengan selaras dan benar. Justru mereka seringkali lebih memperturutkan bawahannya (perut dan syahwat) daripada hati nurani dan akal pikirannya. Di sinilah pentingnya manusia untuk membekali dan membentengi dirinya dengan akidah dan keyakinan yang kuat, untuk menuntun dan mengarahkan mereka pada jalan yang lurus dan benar. Kita harus senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. agar senantiasa dilindungi dari hal-hal yang dilaknat agama.
Akidah yang kuat akan menuntun hati nurani dan akal pikiran kita untuk senantiasa menjauhkan kita dari bujukan hawa nafsu dan urusan perut, sehingga meskipun kita memiliki kebutuhan akan hal tersebut, kita tetap harus melakukannya sesuai dengan tuntunan agar terhindar dari hal-hal yang merugikan diri kita sendiri baik di dunia maupun akhirat kelak.
Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita di jalan-Nya dan manjauhkan kita dari segala macam larangan-Nya....
Amiiin Ya Rabbal Alamiiin....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar